Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 196 Perpisahan


__ADS_3

"Hah....apa?!" teriak Dea dan Mira bersamaan yang membuat seluruh pengunjung restoran itu menatap ke arah mereka. Mereka pun tertunduk menutupi wajah mereka.


"iya...aku mengundurkan diri, ini hari terakhirkua De...Mir..."


"tapi kenapa Din?"


"disuruh camer resign De..."


"baru juga calon mertua sudah seenaknya suruh-suruh resign" gerutu Mira


Dina terkekeh "kenapa kamu yang sewot sih..."


"ya...kamu disuruh resign nurut-nurut saja"


"salahku juga waktu itu...tanda tangan kontrak nggak cerita ke calon mertua dan tunanganku, ya...jadinya begini...lagipula aku juga berjanji hanya menyelesaikan masa training ini jadi ya...ini hari terakhir...mulai senin besok aku sudah nggak di sini lagi" ucap Dina sedih


"terus setelah resign kamu mau kerja lagi atau menikah?" tanya Dea


"mulai senin minggu depan aku sudah kerja di tempat yang baru De...." jawab Dina apa adanya


"dimana?"


"di Wijaya Group, di kota asalku"


"berarti kamu akan sekantor dengan tunanganmu dong?" Mira yang masih ingat jika Toni bekerja disana.


"nggak....Toni di anak perusahaan di kota J, aku sekantor dengan calon kakak ipar dan juga calon mertuaku" ucap Dina sambil meneguk minumannya.


"di sana kamu kerja di posisi apa Din?" tanya Dea yang penasaran dengan Dina, ia merasa ada yang Dina tutupi dari mereka


"asisten CEO..." jawab Dina lirih


"hah....?!" Mira terkejut "beruntung sekali kamu Din....pantas saja waktu kami tanya lowongan pekerjaan sama tunanganmu disuruh tanya kamu, ternyata kamu menyembunyikan sesuatu dari kami"

__ADS_1


"jangan bilang ke siapa-siapa ya soal aku akan bekerja dimana" ucap Dina sambil berbisik dan dijawab dengan anggukan oleh kedua temannya itu


Mereka bertiga pun makan dan sesekali bercanda. Ada raut sedih di wajah Dina, namun ia tak bisa berbuat apa-apa, ia harus menepati janji yang telah ia ucapkan"


Setelah selesai makan siang mereka pun kembali ke kantor dan kambali bekerja seperti biasa. Dina menyelesaikan pekerjaannya hari itu.


Setelah menyelesaikan yang menjadi tanggung jawabnya, ia pun mulai membereskan barang-barang miliknya dan ia masukkan ke dalam kantong. Kemudian ia mulai berpamitan kepada teman-temannya.


Semua orang terkejut karena Dina yang begitu baik, ramah dan cukup cekatan dalam bekerja tiba-tiba mengundurkan diri. Ia hanya mengatakan alasannya mengundurkan diri karena kedua orang tua dan calon mertuanya menghendaki dirinya bekerja di kota kelahirannya saja.


Ia sengaja menutupi kemana ia akan pindah dan posisi apa yang akan ia tempati. Sebagian besar dari teman-temannya merasa sedih dan menyayangkan dirinya tiba-tiba mengundurkan diri namun mereka menghargai Dina karena menganggap Dina anak yang berbakti kepada orang tuanya.


Jam pulang kantor hampir tiba, Dina masih merapikan meja kerja yang akan ia tinggalkan. "Apa benar yang aku dengar?" Bimo tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Dina dengan sorot mata tajam, sedangkan Dina hanya mengerutkan dahinya.


"benar kamu mengundurkan diri dari sini?!" tanya Bimo sedikit membentak membuat orang-orang yang berada di ruangan itu menatap ke arahnya


"iya benar..." jawab Dina santai


"kenapa Din...? Apa tunanganmu yang bodoh itu yang menyuruhmu?"


"lalu kenapa?!" Bimo menahan emosinya


"kami akan segera menikah...." ucap Dina tegas


"kamu bohong kan Din...? kamu bicara seperti itu hanya untuk menghindariku kan?" Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya "tolong Din...beri aku kesempatan lagi...aku akan membuktikan aku lebih baik dari dia" Bimo mengiba


Dina merasa malu karena Bimo berkata seperti itu di depan teman-teman satu ruangannya. Ia tahu beberapa teman satu ruangannya itu menaruh hati pada Bimo.


"mas...ini di kantor jangan bahas masalah pribadi" ucap Dina lembut


"ayo kita bicara di luar..." Bimo menarik tangan Dina, namun Dina bergeming


"mas...semua sudah selesai di antara kita, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, terima kasih karena mas pernah menjadi bagian dalam masa laluku, terima kasih...aku harap mas bisa mendapatkan yang lebih baik dari diriku" Dina tersenyum kemudian mengulurkan tangannya namun tak ditanggapi oleh Bimo dan ia pun keluar minggalkan Dina

__ADS_1


Dina menghela nafasnya, jujur ia malu jika masalah pribadinya diketahui oleh orang lain. "Bimo kenapa Din? aku kira dia cuma sekedar menyukaimu" ucap Chika yang memang menaruh hati pada Bimo


"dia itu dulu mantanku waktu SMA Chik...kami sempat putus dan balikan lagi waktu kuliah, dan akhirnya kami putus lagi, namun entah kenapa ia masih belum bisa menerima semua itu" ucap Dina sambil menghela nafasnya


"ternyata hubungan kalian sedalam itu, aku kira hanya sekedar cintanya kamu tolak" Dea terkekeh


Dina hanya menanggapi dengan senyuman, ia tak mau membuka aib Bimo. Biarlah hanya dirinya dan Bimo yang tahu. Bagi Dina Bimo itu orang baik, sosok yang melindungi namun sikap posesifnya itu yang membuat Dina tidak tahan.


Jam pulang kerja pun tiba. Perpisahan yang mengharukan pun terjadi, ternyata banyak yang merasa kehilangan karena Dina mengundurkan diri. Dina tidak menyangka jika banyak orang yang begitu menyayanginya mengingat ia baru bekerja selama tiga bulan di sana.


"kami patah hati Din..." celetuk salah satu karyawan pria


"yah... Layu sebelum berkembang..." yang lain menimpali


"terima kasih semuanya....aku tidak akan pernah melupakan kalian, jika kalian ke kota J atau kota K hubungi aku ya..." ucap Dina menahan air matanya


"Din....kalau kamu menikah undangannya jangan lupa ya...." ucap Dea yang matanya sudah banjir dengan air mata


"tentu...tentu...aku akan mengundang teman-teman semua" Dina memeluk satu per satu karyawan perempuan.


Perpisahan mengharu biru itu pun berakhir, Dina keluar dari ruangannya membawa barang-barangnya berjalan menuju lift. Sesampainya di lantai dasar Dina melihat Toni sudah duduk di sofa seperti biasa menunggunya.


"matamu kenapa?" Toni terlihat kawatir melihat mata Dina yang sembab "kamu habis menangis?"


"iya...namanya juga perpisahan pasti sedih...." air mata Dina kembali mengalir di pipinya


"sudah...jangan menangis lagi...ayo pulang..." Toni meraih barang bawaan Dina. Mereka berdua pun keluar dari lobi menuju parkiran.


Mereka berdua meninggalkan gedung yang memberika Dina banyak pengalaman dan juga kenangan baik untuknya.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2