Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 159 Bagas


__ADS_3

"rindu, setiap hari bertemu masih juga rindu" cibir Dina


"sayang....beberapa hari ini kita seperti orang asing, sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama" ucap Toni lembut


"kita di kantor Toni....lagipula saat ini aku menjadi sekretarismu"


Toni tak menghiraukan ucapan Dina, suasana jam istirahat di kantornya yang begitu sepi membuat ia memberanikan diri untuk melakukan hal yang lebih.


Toni semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Dina, kemudian ia mencium lembut bibir Dina. Dina terkejut, ia berusaha melawan Toni "ini di kantor..."


Toni menulikan telinganya ia mencium kembali bibir Dina dengan rakus, dan mulai meraba bagian dadanya Dina. Dina berusaha memberontak, namun sia-sia tenaganya tak lebih kuat dari Toni.


Toni mulai membuka kancing baju milik Dina kemudian ia mencium leher Dina sambil meremas puncak gunung kembar Dina. "ahhssttt...." satu ******* lolos dari bibir Dina membuat Toni tersenyum.


Toni menarik lengan Dina dan membuatnya berdiri, kemudian ia menciumi Dina kembali sambil meremas puncak gunung kembar Dina. Dengan cepat Toni membalik posisi berdiri Dina hingga memunggunginya dan mendorongnya hingga Dina membentur meja kerjanya. Toni melepaskan ikat pinggangnya kemudian menurunkan celananya.


Toni menyibak rok yang dipakai Dina ke atas dan menurunkan segitiga pengaman milik Dina. "Sayang...aku sudah tidak tahan..." dengan gerakan cepat Toni memasukkan tongkat miliknya ke inti Dina dari belakang, membuat Dina terhuyung ke depan.


Tanpa aba-aba Toni langsung memaju mundurkan pinggulnya dengan cepat. Dina menahan desahannya, ia masih sadar jika sekarang mereka berada di kantor.


"aku sudah nggak tahan sayang...." Toni mempercepat gerakannya


"aku ju...gaaa..." sahut Dina


Sedetik kemudian, Toni mendorong masuk lebih dalam lagi dan membenamkan tongkat miliknyapada inti Dina dan menahannya bersamaan dengan geraman yang keluar dari bibirnya.


Dina pun juga merasakan ia telah sampai pada puncaknya, ia menahan jeritannya bersamaan dengan rasa hangat yang mengalir di dalam intinya.


Toni memeluk erat Dina dari belakang agar tubuh Dina tak terjatuh. Mereka berdua menetralkan nafas mereka. Toni menciumi punggung Dina sambil merasakan sisa-sisa pelepasannya.


"sayang....kakiku gemetar" ucap Dina lirih


"sebentar lagi sayang...." ucap Toni sambil perlahan mencabut miliknya.


"ssssshhh...." Dina mendesis merasakan ada yang ikut mengalir keluar bersamaan dengan Toni mencabut miliknya


"terima kasih sayang....kamu memang yang terbaik...." ucap Toni sambil memeluk Dina. Toni membalik tubuh Dina menciuminya dengan lembut sembari merapikan baju yang dipakai Dina.


Setelah mereka berdua merapikan pakaian mereka masing-masing, Toni menggandeng Dina berjalan keluar dari ruangannya. Saat mereka menuruni tangga, ada sepasang mata yang menatap mereka dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"kamu jual mahal selama ini karena simpanan si bos...tak kusangka..." ucap orang itu.


Toni mengajak Dina makan di warung dekat kantor karena jam makan siang sebentar lagi selesai dan Toni harus menghadiri rapat di luar kantor.


Setelah menyelesaikan makan siang, mereka pun kembali ke kantor. Dina kembali ke meja kerjanya sedangkan Toni kembali ke ruangannya. Lima belas menit berlalu, Toni keluar dari ruangannya membawa tas kerjanya.


"kalau semua sudah selesai kamu boleh pulang lebih awal, nanti sepulang kantor aku jemput kamu di kos..." ucap Toni dengan tatapan teduh


"malam ini aku mau menyelesaikan skripsiku dulu..." ucap Dina


"baiklah...terserah kamu saja, jaga kesehatan kamu....aku lihat kamu semakin kurus" ucap Toni


"iya...sudah sana....ditunggu klienmu, asistennya baru saja menelpon.."


"aku pergi dulu..." Toni mengeup dahi Dina sekilas, kemudian meninggalkan Dina.


Dina melanjutkan pekerjaannya, ia ingin segera menyelesaikan agar ia bisa cepat pulang. Dina terlalu fokus pada pekerjaannya, ia tak menyadari sejak tadi ada yang berdiri di sampingnya.


"ayo ikut aku..." orang itu menarik tangan Dina. Dina pun terkejut "kamu mau apa?!" ucap Dina ketus menepis genggaman tangan orang itu


"selama ini kamu jual mahal ternyata karena kamu ada hubungan gelap dengan bos" ucap orang itu dengan tatapan meremehkan


"kamu dibayar berapa per jamnya hah?!"


Dina beranjak berdiri kemudian menampar pipi orang itu "jaga mulut kamu!"


Orang itu tergelak "aku tahu apa yang kamu lakukan bersama bos di ruangannya tadi, kamu mau semua orang di kantor ini tahu heh?!"


"kamu lancang Gas...!" ucap Dina dengan mata penuh amarah


"kalau kamu mau rahasiamu aman, sekarang puaskan aku!" ucap Bagas dengan senyum kemenangan


"jangan harap...!" Dina menampar kembali pipi Bagas


Tawa Bagas semakin kencang, Dina pun semakin emosi karena ada orang yang berani melecehkannya.


"kamu orang baru di sini, jangan berulah jika tidak tahu apa-apa!" ucap Dina ketus kemudian ia meninggalkan mejanya dan pergi ke ruangan Ridwan.


"Ada apa Non?" Ridwan terkejut melihat Dina yang terlihat kesal masuk ke dalam ruangannya

__ADS_1


"nggak ada apa-apa, hanya ingin tahu kabar kak Raya bagaimana" kilah Dina


"baik Non..." Ridwan mengerutkan keningnya


"kak Raya serius berhenti dari sini?"


"iya Non...dia ingin fokus mengurus anak kami" Ridwan semakin bingung dengan pertanyaan Dina


"apa masih belum ada yang bisa menggantikan posisinya?"


"sampai sekarang belum Non....si bos itu pemilih...kebanyakan yang melamar hanya menjual kecantikan mereka saja" jawab Ridwan


"kalau begitu jangan cari yang perempuan, masak nggak ada laki-laki yang melamar posisi sekretaris?" gerutu Dina


"bos maunya perempuan Non..."


Dina menghela nafasnya "dia itu...." gerutu Dina "kak...aku pulang lebih awal ya...tadi Toni sudah memberiku ijin"


"Nona bebas pulang kapan saja" Ridwan terkekeh "Nona bukan karyawan sini, jadi tidak ada kewajiban seperti karyawan lainnya"


"tetap saja....aku nggak enak sama karyawan lain, nanti mereka mikirnya macem-macem"


"siapa yang berani begitu, Nona itu tunangan pemilik perusahaan jadi jangan kawatir"


Dina keluar dari ruangan Ridwan menuju meja kerjanya. Dina mengambil jaket serta kunci motornya, ia ingin segera pulang, hari ini benar-benar melelahkan buatnya.


"selain bos...kamu juga menggoda manager keuangan, ayolah jangan jual mahal Din..." suara Bagas mengejutkan Dina. Emosi Dina yang tadinya mulai mereda tersulut kembali.


"jaga ucapan kamu! Atau kamu akan menyesal!" ucap Dina dengan kilatan amarahnya


Bagas tergelak melihat Dina yang terlihat marah. Dina buru-buru meninggalkan Bagas, semakin lama, ia merasa Bagas bukanlah orang baik-baik.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


Jangan lupa boom like nya ya bestie...


__ADS_2