Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 134 Pelajaran


__ADS_3

Toni sengaja memilih tempat di luar yang bisa melihat pemandangan pegunungan di sekitarnya, bahkan mereka bisa melihat kota di bawah. Dina hanya diam, ia masih kesal dan sebenarnya ia ingin berbuat lebih untuk memberi Toni dan Andini pelajaran.


Namun jika ia bertindak lebih ia takut suatu saat akan berbalik pada dirinya. Dina orang yang penuh perhitungan. Ia selalu memikirkan akibat apa jika ia bertindak di luar batas kebiasaannya.


Itulah yang membuat Dina selalu tampak tenang menghadapi setiap permasalahan yang menimpanya. Semakin bertambah umurnya ia semakin menjadi pemikir. Ia akan selalu memikirkan setiap resiko apa yang ia dapat atas apa yang akan ia lakukan.


Dina tak seperti Toni yang terkadang emosinya yang berbicara lebih dulu. Yang sering bertindak gegabah jika menyangkut perasaan. Tapi Toni orang yang penuh perhitungan dalam hal bisnis.


"Toni...aku besok pulang ke kota K..." ucap Dina santai


"kenapa? Kamu masih marah padaku?" Toni sedikit tidak terima


"setelah peristiwa hari ini aku butuh waktu untuk sendiri, meyakinkan diriku tentang apa yang akan aku jalani kelak" ucap Dina menerawang menatap pemandangan di depannya


"kenapa Din? Kamu tidak percaya padaku?" Toni mulai panik


"bukan masalah percaya atau tidak, namun aku perlu waktu untuk meyakinkan diriku Ton...lagipula aku sudah tak ada kuliah paling tidak hingga satu setengah bulan lagi, untuk apa aku di sini" ucap Dina santai


"bagaimana denganku Din?" Toni kebingungan


"kamu? Memangnya kenapa?" Dina menatap Toni


"aku akan sangat kesepian..." Toni mengiba


"ada banyak orang di sekelilingmu...kamu tak akan kesepian" Dina tersenyum


"kamu menghukumku Din?"


"aku tidak menghukummu, aku tidak berhak menghukum siapapun"


"lantas....kenapa kamu meninggalkan aku sendiri di sini?"


"Toni....aku itu pulang ke rumah orang tuaku, bukan pergi ke tempat yang kamu tidak tahu, kenapa kamu harus panik?" Dina tersenyum lembut


"tapi aku tidak akan bisa setiap hari bertemu denganmu sayang..."


"anggap saja....ini proses untuk saling introspeksi diri kita, berusaha memahami apa yang kita inginkan masing-masing"


"masihkah kurang apa yang kulakukan untukmu selama ini Din?" Toni mengiba


"Toni....aku hanya pulang, tidak kemana-mana kenapa kamu berpikiran kita akan berpisah?" Dina terkekeh

__ADS_1


"kita tetap bisa berkomunikasi kan? Kita masih bisa tetap bertemu kan?"


Dina tersenyum "iya....rumah kedua orang tuaku belum pindah kok"


"tapi dua bulan itu sangat lama sayang....aku nggak akan bisa.." Toni mencoba membuat Dina mengurungkan niatnya


"dulu kamu pergi berbulan-bulan tidak mengabariku saja kamu bisa, masak sekarang enggak bisa" Dina terkekeh


"sekarang kan beda....aku sudah enggak mau berpisah denganmu lagi" Toni lirih


Dina hanya tersenyum, ia memang ingin menguji kesetiaan Toni. Apakah ia akan tetap memperjuangkannya ataukah ia akan berhenti hanya karena Dina pulang ke rumah orang tuanya.


"biarkan aku mengantarmu besok..." ucap Toni


"enggak perlu, aku bisa naik motor sendiri...sudah lama aku enggak pulang naik motor"


"baiklah...hati-hati jaga dirimu baik-baik, tunggu aku datang..."


Dina tergelak "ya ampun...kamu ini kenapa memeprlakukan aku seperti pacar yan lari dari rumah"


"iya memang...rumahmu itu di sini" Toni menarik tangan Dina kemudian menempelkan di dadanya "malam ini kamu tidur di rumah ya....sudah lama kita tidak tidur berdua"


"iya...." Dina menyunggingkan senyumnya


Setelah selesai makan, mereka berdua menghabiskan waktu berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Hal yang jarang mereka lakukan karena kesibukan Toni.


"aku jarang membelikanmu barang, hari ini kamu bebas membeli apa saja yang kamu inginkan" ucap Toni sambil menggandeng tangan Dina.


Mereka berdua keluar masuk toko, hanya sekedar melihat-lihat, karena Dina tidak terlalu suka meminta dibelikan oleh cowok. Dina hanya melihat saja, namun Toni membeli barang yang terlihat Dina menyukainya.


Mereka melewati toko perhiasan, Dina hanya melihat dari luar saja karena ia tak ingin Toni membelikannya perhiasan. Apa yang Toni beli hari ini untuknya sudah lebih dari cukup


Dina melihat sebuah cincin dengan batu rubi di atasnya, ia begitu menyukainya "jangan kamu beli setiap barang yang aku lihat!" ucap Dina ketus


"iya...iya..." Toni tersenyum miring


Mereka kembali berjalan-jalan, mengelilingi pusat perbelanjaan "sayang aku mau ke toilet dulu kamu tunggi di kedai es krim sana saja ya..." ucap Toni beralasan


"baiklah...jangan lama-lama" Dina berjalan menuju kedai es krim sedangkan Toni kembali ke toko perhiasan terakhir kali mereka lihat. Toni masuk dan melihat cincin yang tadi Dina pandangi, tidak terlalu besar namun terlihat bagus. Setelah dilihat lebih dekat lagi ternyata cincin itu memang begitu indah, cocok jika itu melingkar di jari manis Dina.


Toni membelinya dan juga membeli gelang yang terlihat simpel namun bagus jika dipakai Dina. Ia berencana akan memakai cincin itu untuk melamar Dina dan juga sebagai kado ulang tahunnya bulan depan.

__ADS_1


Toni menghampiri Dina di kedai es krim, namun ternyata Dina tak sendirian ia tidak mengenal siapa yang bersama Dina.


"sayang...." ucap Toni sedikit ragu


Dina menoleh ke arahnya dan mengembangkan senyumnya. Toni pun duduk di sebelah Dina menatap mereka berdua penuh tanda tanya.


"ini kakak sepupuku....bukankah kalian sudah saling mengenal?" tanya Dina


"belum" ucap Toni sedikit tidak suka


"setahuku Wilson ini dulu pernah pacaran dengan kak Vanya" ucap Dina santai


"ah...entahlah...Vanya itu pacarnya banyak, aku tidak mungkin mengenalnya satu per satu" ucap Toni dengan nada tidak suka


"kamu sudah ada yang menemani, aku pergi dulu" ucap Wilson


"iya...kak...makasih" Dina mengembangkan senyumnya.


"jangan cemburu, dia sepupuku...." ucap Dina lembut


"siapa yang cemburu...." kilah Toni "sebentar..." Toni merogoh kantongnya "ini untukmu..agar kamu mengingat aku terus." Toni memakaikan gelang yang ia beli di pergelangan tangan Dina


Toni memandangi wajah Dina, ada raut kecewa namun Dina berusaha menutupinya "aku tahu kamu menginginkan cincin tadi, tapi kamu tidak mau memintanya" batin Toni


"terima kasih sayang..." ucap Dina


"iya..."


Mereka berdua pulang ke rumah Toni, mereka berdua menghabiskan malam bersama. Tidur dalam pelukan Toni pasti akan sangat ia rindukan bebebrapa minggu ke depan.


Pagi-pagi sekali Dina bangun, perlahan ia berjalan keluar kamar Toni. Ia tak ingin membangunkan Toni yang masih tidur. Dina mengambil kunci motornya, dan meletakkan barang-barang yang Toni beli untuknya di lemari pakaian di kamar tamu.


Ia bergeggas meninggalkan rumah Toni dan pulang ke kosnya. Dalam waktu singkat ia telah bersiap dan akan pulang ke kota K sebelum Toni menyadari jika dirinya sudah tidak ada di rumahnya.


Dina memang tak ingin berpamitan pada Toni. Ia ingin Toni bisa menyadari dan memperbaiki dirinya agar tak mudah terpengaruh dengan wanita lain. Meski Dina tak melihatnya secara langsung, namun ia tidak bodoh untuk mengetahui apa yang telah terjadi pada Toni dan Andini.


Dina hanya ingin yang terbaik bagi dirinya, ia ingin jika memang Toni benar-benar menicintainya ia kan memperbaiki dirinya dan tak mudah tergoda dengan rayuan siapapun.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2