
Perkuliahan semester ganjil segera dimulai. Dina sibuk mempersiapkan proposal skripsinya. Itu membuat Toni semakin cemburu karena Dina sering bertemu dengan dosen yang sempat ia cemburui tempo hari.
Namun begitu mereka masih sering menghabiskan waktu bersama. Meski singkat karena Toni juga harus mempersiapkan pembukaan restorannya namun bermakna membuat mereka lebih menghargai kebersamaan mereka.
Karena pengajuan proposal skripsinya berkali-kali ditolak dosennya, Dina sampai melupakan hari ulang tahunnya. Dina tidak ingat jika hari ini dirinya ulang tahun. Tak ada juga yang mengucapkan padanya.
Pukul 3 sore bel kos berbunyi kos sepi, hanya Dina yang terjaga tidak tidur siang. Dina membuka pintu kosnya, dan terkejut siapa yang mendatanginya.
"sore non..." ucap Ridwan sopan
"sore...kenapa jam segini ke sini?" Dina kebingungan
"saya di suruh bos membantu Non Dina bersiap" ucap Raya
"kenapa kak Raya juga ada di sini?"
"kami di suruh bos Toni Non.." ucap Ridwan
"bersiap untuk apa?" Dina kebingungan "ayo masuk dulu kasihan kak Raya berdiri terlalu lama" Dina mengajak Raya naik ke kamarnya
"kak Raya baik-baik saja kan?" tanya Dina saat sudah sampai di kamarnya
"saya baik-baik saja Non..." ucap Raya sopan
"saya tinggal dulu kalau begitu, saya permisi" ucap Ridwan sopan meninggalkan Dina dan Raya.
"sebenarnya ini ada apa kak?"
"lebih baik Nona mandi dulu keburu sore" ucap Raya
Dina menuruti Raya, karena ia merasa kasihan perut Raya sudah membesar dan terlihat kelelahan.
Lima belas menit, Dina sudah selesai mandi. Raya mulai merias Dina seperti yang Toni inginkan. Dina tak protes, meski bingung kenapa tiba-tiba Raya datang mendandaninya.
"kak...sebenarnya ada acara apa?"
"saya kurang tahu Non, mungkin mau diajak bos ke acara koleganya" kilah Raya yang memang tak boleh menceritakan tentang rencana mereka
"kenapa enggak bilang dulu" gerutu Dina
"hmm...kak Raya sudah lama bekerja di kantornya Toni?"
"sekitar tiga tahun lah, sejak bos masih kuliah"
__ADS_1
"hmm....berarti tahu semua tentang Toni ketika berada di kantor, lantas pernah dekat dengan siapa saja?"
Raya menceritakan apa yang ia tahu selama bekerja di kantornya Toni. Bagaimana sikap Toni terhadap bawahan dan juga terhadap teman-teman bisnisnya.
Sampai ketika Dina mengabaiknnya beberapa waktu yang lalu yang berimbas semua karyawan terkena amarah Toni pun ia ceritakan.
"hah...sampai begitu? Aku minta maaf ya kak...gara-gara aku semua jadi kena marah"
"mereka juga melakukan kesalahan jadi wajar saja bos marah"
"tapi kan karena aku, kenapa kakak nggak bilang ke aku, kalau kakak cerita kan aku bisa datang ke sana" ucap Dina tak enak hati
"hmm...kakak dan kak Ridwan siapa yang lebih tua?"
"saya Non...saya itu seumuran dengan non Vanya"
"oh...enak dong dapat daun muda" Dina tergelak
"enak Non...apalagi kalau hmmm...." Raya tersipu malu
"kalau apa hayo...?" goda Dina
"ya...begitu Non..." Raya makin tersipu
"sudah...sudah agak lama waktu itu Ridwan sudah sering disuruh bos besar ke kantor sini jadinya ya...begitu..." ucap Raya sambil merias Dina
"hmm...kak mau tanya tapi ini pribadi boleh nggak?"
"tanya apa Non?"
"hmm....dulu waktu pacaran dengan kak Ridwan pernah...hmmm...." Dina menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal "pernah....tidur dengan kak Ridwan?"
Raya terkekeh "tidur? Maksudnya Non?" Raya tahu maksud dan tujuan Dina bertanya padanya
"ah...kakak ini sudah menikah tapi sok polos" Dina terkekeh
"maksudnya lebih dari sekedar tidur Non...gulat di ranjang begitu" Raya terkekeh "sering Non" Raya tergelak
"hah...? Sering?"
"iya...makanya tadi saya bilang, dapet daun muda itu enak...ya itu..." Raya semakin tergelak. Ternyata Dina yang ia tahu cewek ceria pintar dan pengetahuannya luas, masih polos.
"enak?" Dina membulatkan matanya, sebenarnya waktu dia dan Toni pernah melakukannya memang enak membuat ketagihan namun ia masih belum berani berbuat lebih dari hanya sekedar yang mereka pernah lakukan.
__ADS_1
"awalnya saja sakit, tapi setelah itu...pasti ketagihan, apalagi ni...ya...Non bos itu suka olah raga pasti lebih hebat" Raya meracuni pikiran Dina.
Raya menceritakan semua yang biasa ia lakukan dengan Ridwan saat mereka berpacaran dulu. Memang tak bisa dipungkiri gaya pacaran mereka terlalu bebas, tapi Ridwan orang yang bertanggung jawab, dan ketika dirinya siap ia menikahi Raya.
Raya juga memberitahu Dina, jika yang terpenting adalah komitmen di antara mereka berdua. Raya berani berbuat terlalu jauh karena Ridwan memang sudah berkomitmen untuk menikahinya, bahkan kala itu Ridwan sudah melamarnya jadi dia mau melakukannya.
"kakak ini bisa saja..." Dina terkekeh "sudah...sudah...aku malah jadi malu mendengarnya"
"maaf Non... saya mau tanya sama Non Dina, tapi jangan marah ya..."
"apa kak?"
"Non Dina pernah dengar desas desus bos pernah berhubungan intim dengan Andini?"
"aku sudah tahu itu...." Dina tergelak "dia sendiri yang cerita....buat aku itu masa lalu, dan tipe Toni itu bukan seperti Andini jadi tenang saja, aku tidak terganggu dengam itu"
"ngomong-ngomong....kenapa kak Ridwan dan Kak Raya memanggilku Nona, biasanya juga mbak?"
"perintah bos Toni Non...katanya dia tidak suka, mbak katanya terlalu akrab apalagi untuk Ridwan tidak boleh salah dalam memanggil Non Dina"
"kejam sekali dia..." Dina kesal "ini make upnya jangan tebal-tebal kak bisa nggak kalau ditipiskan sedikit"
"oh...maaf...maaf...saya hapus saja ya Non...saya ulang dari awal" ucap Raya sembari mengambil kapas
"nggak usah...kasihan kakak, aku tidak ingin terlihat tua, jadi tolong jangan terlalu menor" Dina terkekeh
Raya menuruti apa yang diminta Dina, namun ia tetap menghapusnya, karena dari awal sudah terlanjur, ia tidak mau dimarahi Toni karena Dina terlihat menor.
Pukul lima lebih dua puluh lima menit, Raya sudah selesai mendandani dan juga menata rambut Dina. "sekarang Non Dina ganti baju dulu" Raya mengambil dres panjang tanpa lengan berwarna marun dengan belahan sebatas paha,berdada sedikit rendah dan bagian punggungnya terbuka yang terlihat begitu mewah dan seksi.
Dina enggan menerimanya namun, karena Raya diancam Toni jika Dina tidak mau memakainya ia akan dipindah ke bagian kebersihan Dina menurut.
Dina terlihat tampak cantik dan anggun, dress nya pun pas di tubuh Dina. "ini siapa yang pilih dress begini?"
"bos Toni Non...dia tadi memberi dress dan sepatu ini untuk saya bawa" jawab Raya.
Dina menghela nafasnya, ini bukan seperti dirinya yang selalu tampil apa adanya. Ia bingung malam ini ia akan dibawa kemana oleh Toni sehingga ia harus berdandan seperti itu.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g