
"masih ada yang perlu kamu ketahui lagi?" tanya Dina
"sejak awal kamu tahu jika mantanmu di sana?" Toni masih belum bisa mencerna kata-kata Dina.
Dina menggelengkan kepalanya "aku tahu setelah 1 minggu kerja di sana, kamu ingat saat aku tiba-tiba sakit? Itu pertemuan pertama kami"
"tapi kenapa sepertinya dia masih mengharapkanmu? Apa kamu tidak pernah jujur dengan statusmu?" Toni masih kesal
"mana aku tahu" Dina mengedikkan bahunya "aku tidak pernah menutupi statusku, aku akui aku tidak menceritakan pada semua orang, itu masalah pribadiku aku di sana hanya ingin bekerja bukan mencari selingkuhan!" Dina kesal karena Toni masih tidak percaya
Jawaban dari Dina belum membuat Toni puas. Ia masih belum bisa menerima jika Dina satu kantor dengan mantan pacarnya.
"jika kamu tidak percaya aku lagi...aku bisa apa...sebuah hubungan tak akan berhasil tanpa ada kepercayaan"
Toni menarik Dina ke dalam pelukannya "maafkan aku...aku emosi, aku cemburu melihatnya ada di sana"
"apa kamu kira aku senang berada di dekatnya? Susah payah aku bisa lepas darinya buat apa aku kembali padanya" Dina akhirnya menumpahkan segala rasa yang ia pendam sendiri selama 2 bulan terakhir "hatiku sakit Ton...ketika kamu masih tidak mempercayaiku"
"maaf....maaf sayang...aku ingin memberi kejutan untukmu malah aku yang terkejut" Toni mengeratkan pelukannya
"tiga minggu ini, aku hampir saja goyah" ucap Dina menyembunyikan wajahnya di dada Toni.
"kenapa? apa karena dia?" Toni membelai punggung Dina
"karena kamu" ucap Dina ketus, Toni menautkan kedua alisnya "kenapa?"
"kamu susah dihubungi, aku sempat berpikir kamu sudah bosan sama aku" Dina merajuk.
Toni mengurai pelukannya, memegang bahu Dina dan menatap Dina dengan tatapan kerinduan "ada masalah di perusahaanku sayang....aku sedang berada di titik terendah...aku berusaha menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan"
Dina menatap Toni yang terlihat lebih kurus bahkan kumis dan jenggot tipis mulai tumbuh di wajahnya, wajahnya pun terlihat lelah.
"apa yang terjadi?"
"ada yang sengaja mengacaukan proyekku...tapi sekarang sudah baik-baik saja sayang..." Toni tersenyum lembut
__ADS_1
"berapa hari kamu di sini? Ini masih hari selasa...." ucap Dina
"mungkin satu atau dua minggu aku di sini, aku harus meninjau proyek di kota sebelah"
"kenapa aku baru tahu sekarang kalau kamu ada pekerjaan di sini?"
Toni terkekeh "proyek ini dipegang oleh Pak Budi dari satu bulan yang lalu, sekarang tinggal tahap akhir dan aku harus ada untuk serah terima pekerjaan, jadi aku akan menemanimu dan mengantar jemput kamu kerja" Toni mencubit hidung Dina
"ah...senangnya...." Dina memeluk Toni "aku jadi nggak kesepian lagi, setiap hari cuma ngobrol dengan Deni itupun cuma sebentar"
"ada apa dengan kalian berdua? Atau kalian ada....." Toni menggantung ucapannya
Dina mencubit pinggan Toni "siapa suruh membayar dia jadi sopir pribadiku, kalau aku sampai dekat dengannya wajar dong"
"hemm....gitu ya... " Toni menyambar bibir Dina dengan rakus, menumpahkan segala kerinduan dalam hati mereka.
Mereka pun mengawali malam panjang mereka setelah hampir dua bulan mereka tidak melakukannya. Kerinduan yang begitu menggebu-gebu membuat mereka lupa diri. Membuat mereka tak ingin menyudahi percintaan mereka. Hingga pukul 2 dinihari mereka pun terlelap dengan saling berpelukan polos tanpa sehela benangpun.
Dina terbangun, melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam pagi. Ia malas sekali beranjak dari tempat tidur, badannyaa terasa remuk akibat malam panjang yang ia lalui bersama Toni.
"heii....kamu maau menggodaku ya..." teriak Toni dari atas, Dina hanya mengerling nakal pada Toni kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.
Toni langsung mengambil ponsel Dina, ia membuka pesan, daftar riwayat telepon, daftar nomor yang tersimpan, tak ada yang mencurigakan, semua hanya tentang pekerjaan dan obrolan cewek. Toni bernapas lega, kekawatirannya tidak terbukti.
Toni mengantarkan Dina menaiki mobil yang ia baru tadi pagi diantarkan sopir kantornya ke apartemen Dina. Toni ingin menunjukkan ke semua teman-teman Dina terutama laki-laki jika Dina hanya miliknya.
Mereka berdua telah sampai di depan kantor Dina. Toni turun membukakan pintu untuk Dina. Kemudian ia mengecup dahi Dina lama "aku masuk dulu..." ucap Dina tersipu karena ia malu dicium di depan kantornya.
"hati-hati...jangan lupa makan siang" ucap Toni, Dina pun berjalan memasuki kantornya. Setelah memastikan Dina masuk, Toni pun pergi dari kantor Dina.
Dina langsung masuk ke dalam ruangannya, hari ini wajahnya terlihat bahagia tidak seperti hari-hari yang lalu. Ia mulai menyalakan komputer dan bersiap untul ke bagian produksi mengambil data.
"sepertinya ada yang sedang bahagia nih..." goda Dea yang mejanya berada di sebelah mejanya dan hanya dijawab dengan senyuman oleh Dina.
"yang nganter loe tadi tunanganmu Din...?" tiba-tiba Mira masuk dan berdiri di depan meja Dina
__ADS_1
"tunangan? Kamu sudah bertunangan?" Dea penuh tanda tanya
"sudah...dan tunangan Dina itu...aduh....ganteng banget...ciri-ciri cowok idaman" puji Mira, Dina hanya tergelak melihat tingkah laku Mira yang sepertinya ngefans dengan Toni "mau dong dikenalin"
"nanti aku kenalkan pada kalian kalau dia jemput aku" ucap Dina masih sambil tertawa.
"memangnya dia kerja dimana Din?" tanya Dea
"di kota J De...kebetulan dia ada pekerjaan di kota sebelah jadi dia bisa antar jemput aku"
Tiba-tiba Bimo masuk ke ruangan Dina dengan wajah yang tak enak dilihat. Ia terlihat emosi, entah apa yang membuatnya emosi Dina pun tidak tahu.
"kenapa kamu memilihnya? Bukankah dia pernah menyakitimu, bahkan membuatmu trauma akan pacaran?" Bimp menatap Dina dingin, Mira pun menyingkir ia tak tahu ada masalah apa Dina dengan karyawan yang menjadi idola perempuan di kantor itu.
"mas...ini di kantor...aku tidak mau membicarakan masalah pribadi" ucap Dina datar
"jawab Din...!" Bimo membentak, Mira dan Dea terlonjak kaget mendengar cowok yang selama ini terlihat pendiam bisa berbicara sekasar itu.
"baiklah....karena dia bisa membuktikan bahwa di telah berubah, dan pantas mendapatkan kesempatan kedua" ucap Dina dengan sorot mata dingin
"kesempatan kedua dengan menerima lamarannya maksud kamu? Aku juga ingin kesempatan itu Din..."
"maaf mas...ini di kantor, aku mau bekerja" ucap Dina acuh beranjak dari duduknya
"jawab Din..." Bimo meraih tangan Dina
Dina menghela nafasnya "aku sudah memberikannya pada mas, tapi mas sendiri yang tidak mau memanfaatkannya dengan baik" Dina menepis tangan Bimo kemudian ia berjalan keluar dari ruangannya.
Pagi yang harusnya ia awali dengan semangat, terpaksa ia awali dengan pertengkaran yang tidak penting.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g