Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 169 Jus Kedondong


__ADS_3

Dina pun kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Toni kembali membalurkan minyak angin di perut dan punggung Dina.


"sudah baikan?"


"sudah..."


"kamu harus makan, kalau tidak kamu akan semakin sakit" bujuk Toni


"tapi aku nggak suka makanan itu...baunya nggak enak"


"biasanya kamu suka makanan seperti itu kenapa tiba-tiba bilang begitu sayang?" Toni semakin bingung


"aku ingin minum jus kedondong..." ucap Dina


"hah...apa aku nggak salah denger, kamu harus makan dulu sayang..." bujuk Toni


"aku maunya itu..." rengek Dina.


Toni semakin bingung, melihat sikap Dina yang tak seperti biasanya. Akhirnya Toni pun meminta room service untuk membuatkan jus kedondong, untung saja mereka memang punya menu itu di restoran mereka.


Tak lama jus kedondong yang Dina inginkan pun datang, ia langsung meminumnya hingga habis tak bersisa, "Sayang...aku mau lagi..." rengek Dina


Akhirnya Toni pun memesan lagi, dua gelas sekaligus, agar Dina puas meminumnya. Toni berpikir keras, ia curiga jika Dina sedang mengidam.


"sayang...jangan...jangan...." ucap Toni ragu


"jangan-jangan apa?" ucap Dina menatap Toni kesal


"kamu hamil..." ucap Toni sedikit ragu, ia takut Dina marah


Seketika Dina berpikir, kemudian ia mengingat-ingat sesuatu "hah...?!"


"kenapa sayang?" Toni tampak kawatir

__ADS_1


"bulan ini aku belum kedatangan tamuku...." ucap Dina dengan raut wajah yang sulit diartikan


"berarti benar kamu hamil" Toni tampak bersemangat "kita kembali ke kota ya...kita periksa ke dokter" Toni antusias.


Meski usianya masih muda, namun ia memang menginginkan memilik anak dari Dina. Jika Dina hamil maka tak ada yang perlu ia kawatirkan lagi. Ia bisa segera menikahi Dina


"hah...tapi aku belum siap Ton..." Dina tampak sedih


"sayang....jika benar kamu hamil, aku akan bertanggung jawab, aku akan segera menikahimu" ucap Toni antusias


Dina malah menangis mendengar ucapan Toni. Ia tak mau apa yang ia rencanakan gagal. "tapi selama ini aku tidak pernah lupa meminum pilku Ton...jadi nggak mungkin aku hamil" Dina terisak.


Toni menarik Dina ke dalam pelukannya. Ia membelai Dina, ia tahu Dina masih ingin bebas, tapi jika memang Dina hamil itu sebuah kado spesial untuk kelulusannya.


"baiklah...nanti kita mampir apotik dulu, kita pastikan dulu sebelum ke dokter..." ucap Toni menenangkan.


Mereka berdua kembali ke kota J, mereka tak jadi melanjutkan liburan mereka. Sepanjang jalan Dina hanya terdiam, ia menyandarkan kepalanya di kaca pintu matanya menatap ke arah jalanan.


Dua setengah jam kemudian, mereka telah sampai di rumah Toni. Toni membantu Dina turun dari mobil. Ia menyadari tatapan Dina kosong, namun bagaimana lagi, semua telah terjadi. Tak ada penyesalan dalam diri Toni. Pertama kali ia melakukannya dengan Dina ia telah siap dengan semua resikonya.


Ia telah mempersiapkan segalanya, namun Dina berhasil meyakinkannya jika ia telah meminum pil pencegah kehamilan. Di satu sisi ia kecewa namun di sisi lain ia juga lega.


Saat itu meski ia telah siap jika semua di luar keinginan Dina, tapi ia belum siap menghadapi kemarahan papanya dan papa Dina. Saat itu Dina masih aktif kuliah, jika sampai Dina hamil ia takut Dina akan membencinya.


"sayang...ini..." Toni menyodorkan bungkusan "kamu coba cek dulu, siapa tahu kamu tidak hamil" Toni mencoba membuat hati Dina tenang.


Dina membuka bungkusan itu, ia pun mengeluarkan benda yang ada di dalamnya. Tiga buah alat untuk mengecek kehamilan dengan merek berbeda.


Dina pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Toni menunggu di luar dengan perasaan cemas dan takut. Satu hal yang ia takutkan hanya kemarahan papanya Dina.


"sayang...apa kamu baik-baik saja...?" Toni mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari dalam


Toni mondar-mandir di depan kamar mandi, ia semakin cemas. Dina tak menjawab pertanyaannya. Tak lama pintu kamar mandi terbuka, raut wajah Dina tampak murung.

__ADS_1


"bagiamana?" Toni berjalan menghampiri Dina. Dina pun menyerahkan testpack kepada Toni. Toni melihat satu per satu alat itu. Dua diantaranya garis dua namuj garis yang kedua nampak samar sedangkan yang satu hanya garis satu.


"aku nggak tahu mana yang benar" ucap Dina lirih


Toni menarik Dina ke dalam pelukannya "kita ke dokter saja ya..." Dina hanya mengangguk ia jug ingin memastika apa yang sedang terjadi pada dirinya.


Malam harinya Toni mengantarkan Dina ke dokter spesialis kandungan ternama di kota itu. Dengan perasaan campur aduk, Toni menggenggam erat tangan Dina.


Kini giliran Dina untuk diperiksa. Toni menemani Dina masuk ke dalam ruang periksa. Dokter kandungan mulai menanyakan kapan terakhir kali Dina kedatangan tamu bulanan, berapa lama, dan kapan terkahir mereka berhubungan badan.


Kemudian dokter memeriksa Dina dengan seksama. Dokter melakukan usg untuk melihat rahim Dina. Toni memperhatikan apa yang ada di layar monitor, namun ia tak mengerti arti gambar yang ada di monitor tersebut.


"begini nona..." Dokter mulai menjelaskan "dari usg masih belum terlihat jelas kantung kehamilan, mungkin gejala yang nona alami tadi pagi karena sedang terjadi pembuahan pada sel telur anda"


"jadi intinya Dina hamil atau tidak dok?" Toni menyela penjelasan dokter


"belum bisa dipastikan nona hamil atau tidak, kita lihat dalam satu atau dua minggu ke depan, jika nona datang bulan berarti pembuahan ity gagal, namun jika tidak kemungkinan besar nona hamil" terang dokter itu


"jadi ini masih belum tentu saya hamil ya dok?" akhirnya Dina bertanya


"betul nona...sebaiknya dua minggu lagi nona datang kembali, saya akan meresepkan vitamin dan juga penguat kandungan agar diminum rutin setiap hari" dokter itu menuliskan resep dan kemudian diberikan kepada Dina


Setelah mendengarkan penjelasan dokter Dina sedikit lega, karena kemungkinan ia tidak hamil namun ia juga masih belum sepenuhnya lega karena masih ada peluang dia akan hamil


Sejak tadi lagi Dina lebih banyak diam, ia tak lagi ceria. Toni hanya bisa bersabar dan sebisa mungkin ia tak membuat Dina kesal dan stress, ia takut Dina akan jatuh sakit jika ia terlalu menuntut.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2