
Dina telah sampai di lantai tempat ruangan Toni berada. Ia berjalan sedikit terburu-buru. Ia ingin memberi kejutan untuk tunangannya itu. Saat melewati meja sekretaris, Mega tak ada di sana. Dina pun langsung masuk ke ruangan Toni tanpa mengetuk.
Dina terkejut, di depannya Toni sedang bersama dengan seorang perempuan yang duduk di meja kerjanya. Dina mencoba bersikap tenang, ia sudah beberapa kali mendapati Toni digoda oleh perempuan.
Dengan langkah anggun, ia pun berjalan ke arah Toni yang tak menyadari kehadirannya, karena Dina tadi mengganti sepatunya dengan flat shoes agar lebih leluasa berjalan. Tampak Toni masih membaca dokumen-dokumen yang ada di mejanya tak mengiraukan perempuan yang duduk di mejanya.
Dina langsung duduk di kursi di depan Toni dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Toni pun mendongak, ia sedikit terkejut namun terlihat ia berusaha menguasai dirinya.
Mona pun menoleh ke arah Dina yang duduk dengan santai di kursinya "sedang apa kamu di sini? Tidak sopan masuk ke ruangan orang tanpa mengetuk dulu" ucap Mona sinis, karena melihat penampilan Dina yang terlihat sederhana, seperti staff biasa.
"kamu..." ucapan Toni terhenti ketika tangan Dina terangkat memberi isyarat untuk Toni diam. Toni susah payah meneguk ludahnya, Dina terlihat tenang dan tersenyum namun senyum itu terlihat mengerikan baginya.
"nona sendiri di sini sedang apa? Tidak sopan duduk di meja seorang bos" ucap Dina santai namun mampu membuat Toni ketakutan.
"aku sedang menemani pacarku sedang bekerja" ucap Mona sinis
"oh...pacar? Benarkah itu Tuan Toni?" tatapan Dina beralih ke Toni. Senyum Dina semakin mengerikan baginya.
"buk..." ucapan Toni dipotong oleh Mona "iya benar aku pacarnya Toni..." ucap Mona berdiri menghadap Dina dengan congkaknya.
Kali ini Toni hanya diam, ia takut ucapannya hanya akan memperkeruh suasana. Ia takut ia salah bicara, padahal ia tidak bersalah.
"baiklah...." ucap Dina santai, kemudian ia mengambil gagang telepon dan menekan angka di sana "ke ruangan Tuan Toni sekarang" ucap Dina dingin.
"siapa kamu berani-beraninya memakai telepon di sini"
"Dia ini.." ucap Toni sedikit kencanng namun terhenti karena ketukan pintu ruangan Toni
"masuk...!" ucap Dina
"Tuan....Nona..." satpam menatap ke dua orang atasannya itu bergantian
"bawa Nona ini keluar..." ucap Dina dingin
__ADS_1
Satpam itu pun berjalan mendekati Mona "heh...siapa kamu berani-beraninya mengusir aku?! Hah?!" ucap Mona tak terima
"aku?" Dina menunjuk wajahnya "aku adalah asisten CEO Wijaya Group sekaligus tunangan pemilik perusahaan ini!" ucap Dina tegas, ia lebih suka membalas orang yang mengganggunya dengan cara elegan.
Mempermalukan mereka dengan caranya sendiri. Dina tak perlu membuang tenaga untuk berdebat bahkan berkelahi.
"cih...mana mungkin kamu tunangannya? Sedangkan dia sering menghabiskan waktu denganku" Mona masih tak mau kalah
Toni berdiri kemudian ia mememluk pinggang Dina posesif "dia memang tunanganku, sejak tadi aku tak menghiraukan kehadiranmu karena waktuku terlalu berharga untuk meladeni kamu" ucap Toni dingin
"tapi...setiap kamu datang...." Mona masih tak terima
"bawa dia keluar, dan jangan sampai ia masuk ke kantor ini lagi" ucap Toni dingin. Kemudian satpam itupun menggandeng Mona untuk keluar dari ruangan Toni.
Setelah satpam dan Mona keluar, Dina menghempaskan tangan Toni. Ia pun berjalan ke arah sofa dan duduk di sana dengan wajah yang sudah tak enak dilihat lagi.
Toni pun langsung menghampiri Dina "sayang...kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu ke sini" Toni duduk di samping Dina
"aku ingin memberi kamu kejutan, malah aku yang terkejut" Dina mengerucutkan bibirnya
"lalu kenapa kamu tidak mengusirnya? apakah harus aku yang selalu mengusir ulat bulu yang ingin menempel di tubuhmu?" Dina semakin kesal
"kamu lihat sendiri tumpukan dokumen di meja kerjaku, aku tidak sempat meladeninya, semua itu harus segera aku periksa" Toni mulai panik karena Dina terlihat marah. Siapa yang tidak marah kalau tunangannya bersama perempuan di dalam satu ruangan tertutup. Sedangkan perempuan itu memakai pakaian kurang bahan.
"alasan...!" ucap Dina ketus
"sayang...aku benar-benar tak punya waktu untuk hal-hal yang nggak penting" Toni mulai kebingungan bagaimana menjelaskan pada Dina
"lalu kenapa dia bisa masuk ke sini? Aku saja harus melewati resepsioni tadi" ucap Dina tak mau melihat wajah Toni
"aku tidak tahu sayang...." Toni sungguh frustasi ia kemudian beranjak dari duduknya dan ke meja kerjanya "ke ruanganku sekarang!" Toni membentak di telepon
Ia kemudian duduk di kursinya, memijat dahinya ia begitu pusing tak gahu harus bagaimana lagi. Pekerjaannya banyak tapi ia harus menyelesaikan masalahnya dengan Dina.
__ADS_1
Tak lama pintu diketuk "masuk!" ucap Toni dingin. Muncullah resepsionis yang tadi sempat menahan Dina. Wajah resepsionis itu sudah ketakutan, ia tahu ia telay bersalah pada Dina karena tidak tahu jika Dina tunangan bosnya.
"bos memanggil saya..." ucap resepsionis itu gugup
"siapa yang mengijinkan Mona masuk ke ruanganku?!" ucap Toni tegas
Resepsionis itu melirik ke arah Dina yang duduk dengan tenang di sofa. Kemudian ia menatap Toni, ia takut melihat Toni yany terlihat murka.
"maaf bos....tadi nona itu bilang kalau ia pacar bos..." ucap resepsionis itu ketakutan
"kamu tidak becus bekerja, mulai besok kamu aku pindah ke bagian cleaning service!" ucap Toni tegas
"tapi bos...." resepsionis itu memohon dengan tatapan mengiba
"tidak ada tapi-tapian! satu minggu aku tidak berada di kantor kalian tidak bekerja dengan benar!" ucap Toni suaranya menggelegar hingga Mega yang baru saja kembali dari makan siangnya buru-buru masuk ke dalam ruangan Toni
Mega terkejut, resepsionis yang baru bekerja selama dua bulan itu berada di ruangan bosnya. Ia tidak tahu masalah apa sampai-sampai Toni berkata demikian.
"Kamu juga Mega....! Jangan sembarangan mengijinkan orang masuk ke dalam ruanganku!" Mega yang tak tahu apa-apa menjadi semakin bingung. Ia menoleh ke arah Dina yang dari tadi diam saja.
"maaf Bos, apa yang sedang terjadi?"
"kak Mega...tadi ada perempuan datang ke sini masuk tanpa ijin" ucap Dina lembut
"perempuan?" cicit Mega "tadi yang saya tahu hanya non Dina saja yang mau ke sini, kalau yang lain saya tidak tahu" ucap Mega apa adanya karena ia memang tidak tahu siapa perempuan yang dimaksud oleh Dina.
"sudah...sudah kalian keluar....aku tidak ingin diganggu!" ucap Toni kesal
Mega dan resepsionis itu pun keluar meninggalkan ruangan Toni. Toni kembali mendekati Dina, ia berusaha merayu Dina agar tidak marah lagi. Namun sepertinya usahanya kali ini harus ekstra.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g