
Pagi hari di hari Senin, hari yang sering dibenci oleh banyak orang. Hari dimana semua orang mulai sibuk dengan aktivitasnya.
Dina berangkat lebih pagi dengan mengendarai motornya. Dina tiba di sekolah lebih pagi dari biasanya. Dina meletakkan tasnya dan pergi ke depan papan majalah dinding.
Dina membaca majalah dinding yang dua minggu sekali diganti oleh pengurus OSIS.
"sudah sehat?" sapa seseorang dari belakang
"sudah" jawab Dina menarik kedua sudut bibirnya ke atas "terima kasih sudah mengantarku pulang waktu itu"
"iya sama-sama, kalau Rani tidak panik tidak mungkin aku mengantarmu"
"ah...iya..." Dina terkekeh
Kemudian orang itu meninggalkan Dina sendirian. Ia tidak mau Din mendapat masalah dengan Toni. Ia tahu jika Dina diisukan dekat dengannya, padahal kenyataannya Dina dekat dengan semua orang.
Bel masuk berbunyi, Dina berjalan ke kelasnya. Roy tersenyum senang melihat Dina sudah sehat.
"aku kira kamu tidak masuk lagi Din..." ucap Roy
Dina hanya tersenyum dan duduk di kursinya. "syukurlah kamu sudah sehat" ucap Rani terlihat lega
"ternyata banyak yang merindukan aku" Dina terkekeh
Toni masuk kelad bersama Bian dan Angga, ia hanya menatap datar padanya.
"kamu sudah sembuh? Padahal nanti aku mau ke rumah menjenguk kamu" ucap Toni lembut tanpa merasa bersalah
"sudah" jawab Dina singkat. Rani tampak terkejut mendengar ucapan Toni sedangkan Roy bersikap biasa saja karena ia sudah mengetahuinya.
Bel jam istirahat pertama berbunyi, Dina tak langsung keluar kelas, ia masih duduk ditemani Rani sedangkan Roy sudah keluar bersama teman-teman sekelas yang lain.
"kamu tidak ke kantin Din?" tanya Rani
"nanti istirahat kedua saja, aku sedang malas keluar, masih sedikit pusing juga"
"Din...aku mau bertanya sesuatu, tapi kamu jangan marah ya?" tanya Rani hati-hati
"apa Ran?" tanya Dina mengerutkan dahinya
"hmmm....kamu dan Toni baik-baik saja kan?" tanya Rani sedikit tidak enak hati
__ADS_1
"iya...memangnya ada apa?" Dina semakin mengerutkan dahinya
"hmm...aku lihat akhir-akhir ini kalian jarang sekali berduaan"
Dina sedikit berpikir "dia sedang sibuk mempersiapkan turnamen basket, buktinya sekolah kita bisa menang" kilah Dina
"oh...begitu ya...aku kira kalian sudah putus" ucap Rani lirih
Dina masih mendengar apa yang diucapkan Rani. Ia berpikir apakah memang ia dan Toni putus. Tapi ia terlalu menyayangi Toni, tak bisa dipungkiri jika beberapa hari terakhir ia merasa Toni semakij jauh darinya.
Istirahat kedua, Dina keluar kelasnya dan ke kantin bersama Rani. Sudah sebulan belakangan ini Dina lebih sering makan bersama Rani daripad Toni.
Biasnya ketika Dina bersama dengan teman-temannya Toni selalu menariknya, seolah-olah Dina tidak boleh bersama dengan teman-temannya, kali ini sebaliknya Dina lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya.
Dina kembali ke kelasnya, dari kejauhan ia melihat Toni sedang berkumpul dengan teman-temannya.
"nanti sore kita rayakan kemenangan kita...! " ucap Bian
"hanya kita saja?" tanya Angga
"iya tim kita... Di tempat biasa ya, kalian boleh ajak satu orang terserah siapa saja" ucap Bian dengan nada sombongnya
"baiklah...aku akan mengajak Dina, sudah lama aku mengabaikan dia" ucap Toni penuh semangat
"tapi Bi...!"
"buat apa kamu mengajak Dina, tidak penting sama sekali" ucap Bian ketus
"iya..iya Bi..aku tidak jadi mengajak Dina" ucap Toni datar
Dina mendengar semua pembicaraan mereka, dadanya terasa sesak, Toni lebih memilih pergi dengan teman-temannya. Ia tidak membantah temannya.
"aku tidak menyangka Bian seperti itu" ucap Rani
Dina hanya tersenyum, kemudian ia menarik nafas dalam-dalam dan memghembuskannya. "ayo masuk kelas" ucap Dina datar
Dina berjalan melewati Toni dan teman-temannya tanpa menatap Toni. Meski terasa sesak, Dina harus tetap terlihat tegar ia tidak mau dianggap cewek yang cengeng.
Beberapa hari berlalu, Dina dan Toni terlihat seperti orang asing, Dina dengan sikap datarnya sedang Toni masih seolah-olah tidak memiliki salah apapun.
Dina lelah dengn sikap Toni, ia tidak tahu harus bagaimana. Toni tak lagi perhatiam dengannya. Bahkan untuk berbicara saja hanya saat mereka di dalam kelas. Ketika istirahat Dina jarang bisa bersama Toni, jangankan makan berdua, untuk sekedar mengobrol saja Toni seperti tidak ada waktu.
__ADS_1
"Ton...aku mau bicara sesuatu dengan kamu" ucap Dina menahan rasa di dadanya
"bicara apa princess? Nanti saja ya pulang sekolah, mumpung hari sabtu kita jalan-jalan sebentar" ucap Toni lembut "sudah lama kita tidak pergi berduaa"
"baiklah..." jawab Dina datar
Toni berlalu meninggalkan Dina sendiri di depan kelas. Toni pergi menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu ke kantin.
Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi. Dina membereskan buku-buku dan alat tulisnya. Rani sudah lebih dulu pulang. Toni berpindah tempat duduknya dan duduk di kursi Rani.
"kita tidak jadi pergi ya Din...aku ada janji dengan teman-teman" ucap Toni dengan nada penyesalan.
"iya...!" jawab Dina ketus tanpa menatap Toni
"sebenarnya kamu mau bicara tentang apa, kita bicara di sini saja ya..." ucap Toni lembut
"Ton..." ucap Dina ragu
"iya...ada apa?" tanya Toni lembut
"sepertinya kita putus saja..." Dina mencoba menahan air matanya
"kenapa Din?!" tanya Toni dengan nada tinggi "apa karena kamu sekarang sudah punya cowok lagi?!"
Dina terperangah, mendapatkan tuduhan dari Toni. Ia tidak tahu kenapa Toni bisa berpikiran seperti itu.
"kamu tidak pernah ada waktu untukku Ton...jadi untuk apa kita berpacaran kalau kita seperti orang asing?!" ucap Dina dengan nada tinggi
"kamu tahu sendiri aku akhir-akhir ini sibuk latihan untul turnamen!"
"itu hanya alasan kamu saja, karena kamu lebih memilih cowok lain! Iya kan?!" bentak Toni
"sibuk berlatih katamu?! Kamu hanya berkumpul dengan teman-temanmu bukan berlatih!"
"kamu menuduhku selingkuh?! Selingkuh dengan siapa hah?!" Dina sudah tersulut emosinya.
Dina sudah cukup bersabar, kini kesabaran Dina telah berada pada batasnya. Ia menyayangi Toni, tapi ia juga tidak mau terus-terusan diabaikan.
Dina sudah memberi waktu untuk Toni agar menyadari kesalahannya tapi bukan menyadari, tapi tuduhan selingkuh yang ia dapat.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g