
Hampir satu bulan Dina menghindari Toni. Karena masalahnya dengan Toni ia mengorbankan skripsinya. Skripsinya jalan di tempat, ia jarang ke kampus untuk bimbingan dengan dosen pembimbingnya.
Karena masalahnya dengan Toni ia bisa jadi lebih lama berada di rumahnya. Dina tak ingin diganggu, ia meminta mamanya dan adik-adiknya untuk tidak memberi tahu jika ia berada di rumah. Dina menghabiskan waktunya selama satu minggu penuh berada di rumah.
Ia kembali ke kota J namun bukan kembali ke kosnya, ia kembali lagi menginap di kos Ratna. Karena hanya di sanalah Toni tak bisa menemukannya.
"Din...kemarin ada yang mencarimu " ucap Ratna sambil membereskan buku-bukunya
"siapa?" Dina menatap Ratna penuh tanda tanya
"dia bilang namanya Ridwan...katanya dia disuruh Toni"
"terus kamu bilang apa?" Dina kawatir Ratna akan memberi tahu keberadaan Dina.
"ya aku bilang kamu tidak di sini, memang kenyataannya kamu sedang pulang" Ratna terkekeh
"makasih ya Na...dari dulu kamu paling bisa kuandalkan menjaga rahasiaku" Dina memeluk Ratna
"Din..." ucap Ratna sedikit ragu
"hemmm...?" Dina mengurai pelukannya
"apa nggak sebaiknya kamu selesaikan masalahmu dengan Toni?" Ratna ragu mengatakannya
Dina menghela nafasnya "entahlah Na...dua kali aku memergoki dia dengan cewek lain, aku nggak tahu apa aku masih bisa percaya lagi kepadanya" ucap Dina sendu
"Din...cowok pasti ada rasa lelahnya juga, apalagi Toni bertahun-tahun mengejarmu, membuktikan dirinya sudah berubah, aku takut kali ini ia akan menyerah begitu saja" ucap Ratna dengan tatapan iba
"aku bingung Na...aku tidak ingin Toni menjadi anak durhaka dengan melawan perintah mamanya..." ucap Dina sendu
"bukankah dia sejak kecil nggak pernah dekat dengan mamanya? Buatlah ia dekat dengan mamanya Din..."
"aku rasa jika Toni menerima perjodohan dari mamanya mereka akan dekat kembali" ucap Dina lirih
"tapi menurutku...itu malah akan membuat Toni semakin membenci mamanya"
"aku nggak tahu Na...aku harus bagaimana, aku nggak tahu salahku apa sehingga mamanya Toni tidak menyukaiku" Dina terisak
"buktikan dirimu layak menjadi pendamping Toni" ucap Ratna optimis
"entahlah Na...aku lelah..." Dina merebahkan tubuhnya di kasur kemudian memejamkan matanya. Dalam hatinya ia merindukan Toni namun apa yang ia lihat waktu itu masih berputar-putar di kepalanya.
__ADS_1
Ratna mengambil ponselnya, ia keluar kamar dan menelpon seseorang. Ratna tak kembali lagi ke kamarnya, ia duduk di teras kosnya.
Lima belas menit ia menunggu, orang yang ia tunggu datang.
"kak...." sapa Ratna
"ada apa? Dina kenapa?" tanya orang itu kawatir
"hampir satu bulan ini Dina berada di sini, ia bertengkar dengan pacarnya, orang suruhan pacarnya sudah datang kemari tapi aku nggak berani mengatakan apa-apa, aku harus bagaimana?" Ratna bingung
"sekarang Dina dimana?" ucap cowok itu dengan tatapan sedikit kawatir
"dia sedang tidur...dia baru saja balik ke sini, kemarin selama satu minggu dia pulang"
"oh...berarti mamanya tahu kondisinya?"
"sepertinya tidak, kakak tahu sendiri Dina itu nggak ingin orang di sekitarnya tahu masalahnya" ucap Ratna
Cowok itu menghela nafasnya "dia dilamar nggak cerita aku, sekarang ada masalah kamu malah cerita ke aku, terus aku harus bagaimana, Dina sudah besar bisa menyelesaikan masalahnya sendiri"
"kakak ini kan kakaknya, kenapa begitu?" ucap Ratna kesal
"aku hanya sepupunya, dulu aku menjaganya tapi setelah aku tahu dia berpacaran dengan siapa, aku sedikit lega...aku nggak perlu lagi mengawasinya" Wilson terkekeh
"lakukan apa yang menurutmu baik, Dina memang harus menyelesaikan masalahnya sebelum ia menyesal nantinya" ucap Wilson
"baiklah...aku telepon asistennya Toni dulu, kakak jangan kemana-mana" ucap Ratna dengan tatapan tajam. Ratna dan Wilson mereka sepasang kekasih namun Dina tidak mengetahuinya. Mereka sengaja merahasiakan hubungan mereka karena tidak ingin Dina marah.
Ratna menelpon Ridwan mengatakan ia tahu keberadaan Dina. Dan Ridwan mengatakan akan segera ke kos Ratna bersama Toni.
"sudah?" tanya Wilson
"sudah kak..."
"sekarang kamu bangunkan Dina, bilang saja aku yang mencarinya" ucap Wilson
Ratna ke dalam, ia membangunkan Dina. Ridwan bersama Toni telah sampai di kos Ratna. Mereka berdua bertemu Wilson yang menatap Toni dengan tatapan tajam.
"aku tidak tahu apa masalahmu dengan Dina, Dina tak mungkin menghindar jika ia tidak sakit hati, jangan sakiti Dina!" ucap Wilson dengan nada tegas
"kamu siapa?!" Toni menatap Wilson dengan tatapan penuh emosi, Toni lupa siapa yang sedang berbicara dengannya.
__ADS_1
"kamu nggak perlu tahu siapa aku" Wilson terkekeh
"kak....kenapa ada di sini?" suara Dina memecah ketegangan suasana di antara Wilson dan Toni
"Din..." Toni beranjak dari duduknya
Dina menoleh ke arah suara yang sudah satu bulan ini tidak ia dengar. Dina terkejut, tatapannya penuh dengan rasa kecewa dan marah "kenapa kamu di sini" ucap Dina dingin
"aku mencarimu kemana-mana sayang...." Toni menghampiri Dina namun Dina menghindar.
"selesaikan masalah kalian Din..." ucap Wilson menyela
"kakak bersekongkol dengan Ratna memberitahu keberadaanku pada Toni?" ucap Dina kesal
"selesaikan masalah kalian...jangan sampai menyesal" Wilson berdiri meninggalkan mereka masuk ke dalam kos Ratna
"Wan...kunci mobil..." Toni mengulurkan telapak tangannya, Ridwan pun mengulurkan kunci mobilnya pada Toni.
"saya naik apa bos ke kantor...?"
"terserah kamu" Toni mengambil kunci dari tangan Ridwan kemudian ia menggandeng tangan Dina berjalan ke arah mobilnya.
"Toni...kamu apa-apaan?!" teriak Dina
"aku hanya ingin bicara..." ucap Toni datar, kemudian ia mendorong Dina masuk ke dalam mobilnya.
Toni membawa Dina ke rumahnya yang jaraknya tak begitu jauh dari kos Ratna. Dina diam, tak ada sepatah katapun terucap dari bibirnya.
Toni menarik tangan Dina masuk ke dalam rumahnya, kemudian ia mengunci pintu rumahnya. Ia tak ingin Dina kabur lagi sebelum mereka selesai bicara. Ia ingin berbicara dengan Dina menjelaskan semuanya.
Toni sudah dalam tahap lelah, ia lelah jika harus merayu Dina, ia lelah dengan masalah yang ia hadapi. Kali ini Toni akan membiarkan Dina mengambil keputusan apapun itu Toni akan terima.
Bertahun-tahun ia berusaha mendapatkan hati Dina, berusaha menjaga kesetiaannya meskipun banyak cewek-cewek yang menggodanya. Itu semua ia lakukan demi cintanya pada Dina.
Tapi kini, ia akan merelakan Dina jika memang Dina lebih bahagia tanpanya. Toni tak akan lagi menahan Dina jika Dina ingin meninggalkannya.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g