Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 151 Memutuskan


__ADS_3

Lama mereka terdiam dalam lamunan masing-masing. Tak.ada satupun di antara mereka yang memulai bersuara. Entah ego mereka atau mereka memang masih merenungi diri mereka masing-masing.


Dina menatap Toni dengan tatapan yang sulit diartikan. Dina mengingat semua yang terjadi di antara dirinya dan Toni, sejak awal mereka berkenalan hingga sekarang.


Dina menyadari Toni cowok yang sempurna, dia memenuhi hampir semua kriteria cowok idamannya. Toni cowok pertama yang berhasil mengetuk pintu hatinya, membuatnya mau memiliki hubungan lebih dari sekedar teman. Pacar pertamanya sekaligus cowok pertama yang mengecewakan dirinya.


Namun lambat laun, Dina berdamai dan memaafkan Toni. Mereka dipertemukan kembali saat Toni telah menjadi cowok yang sempurna di mata para cewek. Dan yang Dina tidak pernah sangka, Toni masih menyimpan perasaannya pada dirinya setelah sekian lama.


Bahkan Toni mau membuat komitmen bersama Dina. Padahal Bimo juga pernah melakukan hal yang sama pada Dina, namun Dina menolaknya, alasannya Bimo terlalu membatasi semua yang Dina lakukan.


Dengan Toni meskipun, terkadang Toni cemburu buta, namun Dina masih diijinkan untuk bebas melakukan apa yang ia sukai asal Dina bisa menjaga hati dan pikirannya.


Satu hal yang Dina benci dari Toni, tempramennya yang mudah berubah ketika ia sedang cemburu. Berkali-kali Dina berusaha untuk membuat Toni lebih bisa mengendalikan emosinya namun ia sering gagal.


.


Sama halnya dengan Dina, Toni juga kembali mengingat semua yang terjadi di masa lalu. Dia pernah membuat Dina kecewa dan sakit hati, bahkan setiap usahanya untuk memperbaiki dirinya berakhir dengan kegagalan karena ia sering terjebak dalam egony sendiri.


Toni juga pernah berusaha untuk membuka hatinya untuk cewek lain namun, ia selalu gagal. Lagi-lagi hatinya tak bisa dibohongi, Dinalah yang paling bisa mengerti dirinya.


Hanya Dina yang sanggup mencuri hatinya, membuatnya jatuh cinta setiap saat. Namun kini ia lelah, lelah membuktikan dirinya telah berubah menjadi lebih baik.


Toni lelah mengejar Dina, lelah menghadapi Dina ketika memiliki masalah lebih suka menghindar sementara dia sendiri harus berusaha memperbaiki keadaan.


"untuk yang terakhir kalinya...." Toni akhirnya bersuara namun suaranya sedikit bergetar "aku ingin tahu, apakah kamu benar-benar mencintaiku?"


Dina menatap Toni dengan wajah penuh tanda tanya "untuk apa kamu bertanya, belum cukupkah bukti yang aku berikan?"


"tolong jawab ya atau tidak Din..."

__ADS_1


Dina terdiam sejenak, ia tak bisa membohongi dirinya jika ia memang mencintai Toni. "Aku mencintaimu, tapi...." ucapan Dina terjeda


"terima kasih karena kamu mencintaiku, sekarang apakah kamu masih mau melanjutkan hubungan kita?" mata Toni mengembun, pertama kalinya ia tak bisa mengontrol air matanya.


Dina menatap wajah Toni, melihat ke dalam matanya, ia melihat ada kesedihan di dalam tatapan itu "menurutmu apakah kita masih bisa melanjutkannya?"


"Dina....kali ini aku tak akan menahanmu jika kamu ingin mengakhiri hubungan ini, aku tak akan mengejarmu lagi, aku tak akan membebanimu lagi dengan semua perasaanku"


"apakah kamu ingin melanjutkan hubungan ini?" Dina tak kuasa menahan air matanya, kata-kata yang seharusnya tak pernah ia ucapkan.


"jujur....aku mencintaimu, sangat mancintaimu, tapi jika kamu memilih untuk pergi aku akan merelakanmu demi kebahagiaan kamu aku akan mengorbankan perasaanku" Toni menahan sesak di dadanya


"jadi kamu lebih memilih untuk tidak mempertahankan hubungan ini lagi?" air mata Dina mengalir semakin deras "jika itu yang kamu inginkan aku bisa apa?"


Toni mendekati Dina, ia duduk di sebelah Dina kemudian ia memeluk Dina erat-erat, air mata yang ia tahan dari tadi akhirnya membasahi pipinya.


"aku ingin mempertahankan hubungan kita Din, kita sudah sejauh ini....apakah semuanya tak pernah berarti untukmu?" Toni terisak


"jadi...." Toni menguraikan pelukannya "apakah itu berarti...kita sama-sama ingin melanjutkan hubungan kita ini" Toni menatap Dina dengan penuh harap


"aku bisa apa, kamu sudah mengikatku" Dina tersenyum sambil menunjukkan cincin pertunangan yang diberikan oleh Toni saat ia melamarnya.


"selama ini kamu masih memakainya?" ucap Toni dengan mata berbinar


"cincin ini bagus....sayang kalau aku buang begitu saja, lagi pula karena cincin ini tak ada yang berani mendekatiku" Dina terkekeh


"terima kasih....terima kasih sayang...." Toni memeluk erat Dina "maafkan semua salahku, aku berjanji akan membuat diriku tak bisa digoda cewek lain" ucap Toni bersemangat


"iya....aku juga minta maaf, selama satu bulan ini aku menghilang dan maaf juga jika aku sering bersikap kekanak-kanakan" Dina terisak

__ADS_1


"kita mulai dari awal lagi, berusaha lebih baik lagi...dan juga cepatlah lulus, aku tahu skripsimu terbengkalai" ucap Toni melerai pelukannya


"iya....tapi tolong kontrol emosi kamu....jadilah orang yang lebih sabar dan bijak" ucap Dina sambil menghapus air matanya


"asal kamu selalu di sampingku, emosiku pasti akan terkendali"


"huhh....maunya....padahal selalu dikelilingi cewek cantik!" Dina kesal


"iya...iya sayang....aku janji akan berusaha mengontrol emosiku....dan satu lagi....kamulah yang paling cantik" ucap Toni dengan senyum mengembang.


"huh...cantik dari mana..." Dina mengerucutkan bibirnya


"kamu cantik luar dalam, kecantikan hatimu yang membuat aku jatuh cinta sayang" Toni mengecup dahi Dina


"sayang....aku lapar...." rengek Dina


"ayo kita makan di luar saja...." Toni berdiri mengulurkan tangannya pada Dina


"tapi aku ingin makan capcay di depan kampus D" rengek Dina manja


"apa saja untuk princess tercinta" Toni menarik tangan Dina kemudian menggandengnya keluar.


Toni menuruti Dina, makan si sebuah tenda kaki lima, tempat yang begitu sederhana. Toni menyukai Dina yang sederhana, yang tidak pernah meminta sesuatu yang berlebihan. Dina selalu pandai menempatkan dirinya.


Dina tak pernah membuatnya malu ketika mereka bertemu dengan kolega-kolega bisnis Toni. Toni bangga memiliki Dina, dan sejak hari ini ia ingin mempertahankan Dina sampai kapanpun.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2