
Dina dan Toni sedang beristirahat di hotel di kamar yang memang dikhususkan untuk pemilik hotel tersebut. Dina melepaskan gaunnya di bantu oleh beberapa orang pegawai butik milik Vanya.
Vanya masuk ke dalam kamar hotel tempat Toni dan Dina beristirahat. Ia ditemani salah satu karyawannya yang mendorong gantungan baju. Di sana tergantung dua buah gaun dan dua setelan jas.
"adik iparku sayang...." Vanya berjalan cepat menghambur pada Dina yang masih berdiri melepas gaunnya kemudian memeluk Dina erat "akhirnya aku punya adik perempuan"
"hemm...aku bukan adikmu?" Toni sedikit kesal
"kamu kan cowok mana tahu urusan perempuan" cibir Vanya, Dina hanya menggelengkan kepalanya, ia tersenyum tipis, Toni dan vanya seperti anjing dan kucing mereka tak pernah terlihat akur
"oh iya Din....aku minta maaf ya..." ucap Vanya dengan raut wajah tak enak
"kenapa kak?"
"itu...soal gaun....aku memutuskan membuat dua gaun tanpa memberi tahu kamu, padahal kita sudah sepakat hanya satu saja untuk malam ini" ucap Vanya dengan raut penyesalan
"oh...itu...terima kasih kak...." Dina mengembangkan senyumnya, ia tak mau ambil pusing, karena desain yang Vanya buat sangat bagus dan memang sesuai karakter dirinya meskipun ia belum melihat dua karya Vanya yang lain.
"ini lihatlah dulu..." ucap Vanya membuka satu persatu pembungkus gaunnya
Dina melihatnya, ia tak bisa berkata-kata lagi, semua terlihat bagusdi matanya, pemilihan warna yang Vanya pilih benar-benar sesuai apa yang Dina suka.
"ini yang untuk resepsi nanti malam" ucap Vanya menunjukkan sebuah ball gown berwarna kuning soft tanpa lengan dengan dada terbuka dengan detail bunga kecil-kecil serta bertaburan kristal swarowski yang sangat indah.
"ini bagus sekali kakak...seperti warna yang aku inginkan" mata Dina tampak berkaca-kaca karena bahagia
"dan yang ini untuk after partynya, aku sengaja memilih warna merah menyala agar terkesan lebih seksi dan berani" Vanya melirik adiknya yang duduk sambil menatap Dina. Ia tahu adiknya itu posesif, ia sedikit mengerjai adiknya itu karena ia tahu betul adiknya itu pasti tak suka Dina memakai pakaian terbuka seperti itu.
Dina memegang, sebuah dress pendek setengah paha belahannya hampir sampai pangkal paha, bagian dadanya pun juga sama terbukanya sama gaun yang berwarna kuning, yang bertaburan manik-manik dan kristal di selurush dress itu, serta rumbai-rumbai dari manik-manik yang membuat dress itu terlihat semakin seksi bagi siapa saja yang memakainya.
Mata Toni melotot melihat baju yang dipakai Dina "jangan pakai itu!" ucap Toni ketus
__ADS_1
"hey...apa salahnya Dina pakai ini, aku sudah susah-susah membuatnya, kamu tidak menghargai hasil karyaku" Vanya kesal
"tapi itu terlalu terbuka"
"apanya tang terbuka, ini masih tertutup, terbuka itu kalau ini transparan" ucap Vanya tak mau kalah
Dina berjalan mendekati Toni "sayang...apa salahnya aku memakai itu, itu bagus sekali, aku suka baju itu" ucap Dina lembut sambil membelai dada Toni.
"tapi sayang....nanti semua orang akan melihat tubuh indahmu itu"
"ayolah sayang....aku tidak setiap hari memakaianya, ini acara kita...masak aku nggak boleh tampil lain dari biasanya" ucap Dina dengan raut wajah sedih dan hampir menangis
"eh...Din...kamu menangis?" Vanya panik "di hari bahagia nggak boleh menangis"
"baiklah...baiklah...terserah kalian saja..." Toni mengalah, ia tidak tega melihat Dina sedih
"benarkah...terima kasih sayang..." Dina menghujani wajah Toni dengan ciuman bertubi-tubi
"tugasku selesai, satu jam lagi ada yang akan datang membantumu bersiap, aku keluar dulu, di kamar ini membuatku gerah" ucap Vanya mengibas-ngibaskan tangannya kemudian ia meninggalkan sepasang pengantin baru itu dan keluar bersama para karyawannya.
Kini tinggalah Toni dan Dina berdua saja di dalam kamar itu. Dina membersihkan make up yang menempel di wajahnya, ia ingin mandi karena sebentar lagi akan ada yang datang untuk membantunya bersiap untuk acara resepsi nanti yang akan dimulai dari jam lima sore.
"sayang aku mandi dulu..." ucap Dina yang hanya memakai pakaian dalamnya saja berjalan ke arah kamar mandi.
"ayo mandi bersama" ucap Toni dengan seringai di wajahnya kemudian menyambar tubuh Dina dan menggendongnya masuk ke dalam kamar mandi.
"eh...mau apa kamu?" Dina kesal
"aku sudah menahannya sejak tadi"
Dan kemudian terjadilah yang Toni inginkan, suara ******* dan erangan menggema di kamar mandi. Seharusnya mereka mandi selama lima belas menit karena harus segera bersiap kini menjadi satu jam lebih. Dengan wajah yang ditekuk Dina keluar dari kamar mandi menggenakan bathtrobe.
__ADS_1
"sayang....jangan marah..." Toni keluar hanya dengan mengenakan handuk sepinggang, sedetik kemudian ia terkejut karena di ruangan itu sudah ada beberapa orang dan juga Ani di sana.
Toni kembali ke dalam kamar mandi ia mengambil bathrobe miliknya kemudian keluar dengan wajah dibuat sedingin mungkin padahal dalam hatinya ia sangat malu.
"mari nona saya bantu bersiap" ucap seorang perempuan menarik tangan Dina lembut dan mendudukkan di kursi rias.
"sudah dari tadi An?" tanya Dina menahan rasa malu
"hemm...kira-kira dua puluh menit" ucap Ani dengan senyum tertahan "tadi Roy juga ada di sini malah lebih dulu daripada kami" ucap Ani santai sedangkan Dina rasanya ingin bersembunyi saja, pasti Roy mendengar apa yang tadi mereka lakukan di dalam kamar mandi
"sekarang kita make up dulu" ucap seorang lelaki bertingkah kemayu. Mata Toni melotot, melihat seorang laki-laki lemah gemulai menyentuh Dina meskipun hanya di bagian wajah
"nggak ada penata rias yang lain?" ucap Toni dingin
Dina menoleh ke arah Toni yang sorot matanya menahan amarah. "pagi tadi Melinda juga yang mendandaniku" ucap Dina santai
"Melinda?" cicit Toni
"iya...nama eike Melinda...." ucap penata rias itu dengan gaya centilnya "nama asliku Malik" ucapnya lagi dengan suara pria
Toni membelalakkan matanya "sepertinya aku harus memarahi Vanya" ucap Toni berjalan keluar dari kamar.
Sedangkan Dina dan Ani tergelak melihat sikap Toni yang terlihat lucu di mata mereka.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1