
Dina menyendiri di taman biasa ia ke sana sendirian jika pikirannya sedang kalut. Tak ada seorang pun yang tahu tempatnya menyendiri. Ia sengaja tak memberitahu siapapun tempat itu. Sejak kuliah Dina lebih sering menyendiri jika ada masalah.
Ia tak ingi membagi dengan siapapun, baginya berbagi masalah dan meminta pendapat temannya hanya membuat masalah baru. Dina hanya menceritakan masalahnya tapi tidak pernah meminta pendapat dari teman-temannya.
Dina merenung, menyendiri memikirkan apa yang ia lihat tadi. Dina tidak tahu bagaimana harus bersikap. Hatinya sakit mendapati Toni bersama dengan cewek lain meskipun Toni sudah menjelaskan jika tak ada yang terjadi di antara mereka.
Ia tak bisa bersikap setenang dulu sewaktu menghadapi Andini yang menggoda Toni. Kali ini lain, cewek itu adalah pilihan mamanya Toni. Dina takut Toni akan goyah dan lebih memilih cewek itu dibanding dirinya.
Cukup lama Dina menyendiri, ia pun meninggalkan taman itu. Ia mengendarai motornya ke kos Ratna. Hanya kos Ratnalah yang Toni tak tahu. Dina hanya ingin menyendiri sementara waktu.
"Din..." Ratna terlihat kawatir ketika melihat Dina yang tampak kacau masuk ke dalam kamarnya
"aku menginap di sini untuk beberapa hari ya...." ucap Dina lirih
"kamu kenapa?" Ratna kawatir
"boleh nggak aku tidur di sini? Tapi tolong jangan beritahu siapapun" ucap Dina
"oke...oke....tapi kamu baik-baik saja kan?" Ratna semakin kawatir
"aku baik-baik saja Na..." Dina merebahkan dirinya di atas kasur milik Ratna
"kunci motormu mana? Biar aku masukkan motormu ke dalam garasi" ucap Ratna. Dina menyerahkan kunci motornya pada Ratna "besok pagi jam delapanan kamu ke kosku ya...tolong ambilkan baju ganti untukku" ucap Dina sambil memejamkan matanya.
"katanya nggak ada yang boleh tahu kamu bersamaku, ini bagaimana sih Din?"
"jam segitu biasanya anak-anak kosku masuk kuliah, sebelum kamu masuk tolong pastikan dulu kos sepi" ucap Dina terlihat lesu
"baiklah....sekarang kamu istirahatlah dulu....aku mau belanja buat makan nanti malam" ucap Ratna beranjak dari duduknya dan pergi keluar.
.
Pagi-pagi sekali, Dina dan Ratna sudah bangun mereka menonton tv membunuh rasa bosan mereka.
"Din, semalam Caca telepon aku, menanyakan kamu, katanya Toni mencari-cari kamu"
"terus kamu jawab apa?"
__ADS_1
"aku bilang aku nggak tahu, kan kamu sendiri yang bilang jangan ada yang tahu"
"terima kasih Na...."
"sebenarnya ada apa? Kamu berantem sama Toni?"
"entahlah Na....aku nggak tahu siapa yang bisa aku percaya, aku ingin menenangkan diri dulu" ucap Dina lirih
"apapun itu aku yakin kamu tahu jalan keluar dari setiap masalah kamu" ucap Ratna.
Mereka berdua memasak makanan untuk sarapan mereka. Dina tak lagi terlihat bersedih, tapi Ratna tahu Dina memaksakan senyumnya namun Ratna tak ingin bertanya lebih jauh lagi.
Sesuai permintaan Dina, Ratna pergi ke kos Dina. Ia memastikan tak ada siapapun yang melihatnya masuk ke kos Dina. Ratna mengambil beberapa potong baju serta mengambil file skripsi milik Dina.
Sebelum ia keluar dari kos Dina, ia memastikan tak ada siapapun yang memperhatikannya. Ratna kembali ke kosnya membawa apa yang Dina minta.
Dina menghabiskan hari-harinya di kos Ratna. Ia sengaka mematikan ponselnya dan juga melewatkan jadwal bimbingan skripsinya. Ia tak ingin Toni tahu keberadaan dirinya. Ia masih belum sanggup menghadapi Toni dan mungkin menerima kenyataan jika Toni memilih cewek pilihan mamanya.
Seminggu berlalu, Toni menjadi uring-uringan. Ia tak bisa fokus bekerja dan juga kuliah. Di kampus ia tak mendapati keberadaan Dina. Dina seperti hilang begitu saja. Bahkan di rumah kedua orang tuanya pun tak ada.
Toni mendatangi rumah mamanya ia tampak marah, tanpa permisi ia langsung masuk ke dalam rumah mamanya.
"kamu ke sini lagi Ton?" ucap mamanya dengan senyum mengembang
Toni melihat, ada cewek yang kemarin mendatanginya di kantor. Ia mengepalkan tangannya, ia begitu marah melihat cewek itu.
"mama jangan mencampuri urusanku....gara-gara mama Dina pergi...!"
"baguslah....ada Ira yang akan menjadi calon istrimu, mama sudah melamar kepada kedua orang tuanya untukmu" ucap mamanya Toni dengan wajah tanpa dosanya
"ma....jangan campuri masa depanku! Dari aku kecil mama nggak pernah peduli kenapa sekarang mama tiba-tiba peduli padaku!" ucap Toni dengan tatapan sinis
"mama ini mama kamu, orang yang telah melahirkan kamu, wajar jika mama ingin yang terbaik bagi kamu"
Tawa Toni menggelegar "yang terbaik buat mama bukan buat aku...!"
"Toni...! Mama dan kedua orang tua Ira sudah menetapkan tanggal pernikahan kalian, suka tidak suka kamu harus menerima!" nada bicara mama Toni meninggi
__ADS_1
"aku tidak mau!" Toni kemudian meninggalkan rumah mamanya dengan perasaan emosi yang semakin menjadi-jadi. Toni mengendarai mobilnya, kali ini tujuannya adalah kantor pusat Wijaya Grup. Ia ingin menemui papanya, ia sudah kehabisan cara bagaimana menyelesaikan masalahnya kali ini.
"kenapa kamu tiba-tiba datang kesini?" tanya papanya Toni sambil meneliti dokumen-dokumen yang ada di depannya
"Dina pergi pa..." ucap Toni tercekat
"pergi kemana?" papanya Toni meletakkan penanya kemudian beralih menatap Toni
"entah..." Toni mengedikkan bahunya
"kalian ada masalah apa?" Papanya Toni menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya
"mama menjodohkan aku dengan anak temannya"
Papany Toni hanya mengangguk-angguk mendengarkan cerita Toni. "kamu sudah mencarinya?"
"sudah pa...tapi nihil..."
"papa yakin dia hanya butuh waktu, biarkan dia sendiri dulu..."
"tapi pa...." Toni hendak protes namun papanya sudah mengangkat telapak tangannya tanda bahwa Toni harus diam
"siapa yang tidak kecewa melihat tunangannya bersama cewek lain, biarkan dia sendiri dulu Ton....soal mamamu biar papa yang akan mengurusnya"
"baiklah pa..." Toni meninggalkan kantor papanya. Rasa marahnya masih belum mereda, namun ia akan mencoba mengikuti saran papanya.
Jika Dina tak muncul, ia akan menyuruh orang kepercayaannya mencarinya bahkan ke lobang semut sekalipun. Toni tak ingin peristiwa di masa lampau terjadi lagi, cukup sudah ia berjuang demi bisa bersama Dina lagi. Ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan jika Dina kembali lagi meninggalkannya.
.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1