
Setelah dua hari mengelilingi Maldives, Toni dan Dina berangkat ke Eropa, tujuan pertama mereka adalah kota London. Mereka sengaja ke London dulu karena mereka beranggapan London yang paling jauh dari tempat mereka.
Setelah menempuh lebih dari sepuluh jam perjalanan mereka pun sampai di kota London. Dina sangat bahagia bisa menginjakkan kakinya di kota itu.
Toni meminta kepada sopir taxi untuk mengantar mereka ke hotel yang terletak tak jauh dari Menara London. Dina meminta pada suaminya itu untuk tidak perlu memesan hotel yang mewah, toh mereka di sana hanya beberapa hari.
Toni dan Dina masuk ke dalam kamar hotel mereka, tidak terlalu luas namun nyaman dari dalam kamar mereka, mereka bisa melihat Menara London dengan jelas.
"kamu lelah?" tanya Toni memeluk Dina dari belakang sambil menikmati pemandangan dari jendela kamar mereka.
"tidak terlalu...tapi aku lapar...aku ingin makan di luar" ucap Dina
"baiklah...ayo...kita berangkat sekarang..."
Toni mengajaka Dina berjalan kaki menuju sebuah restoran di pinggir sunga Thames. Dari tempat duduk mereka, mereka bisa melihat Tower Bridge dengan jelas, pemandangan di sore hari tampak begitu indah.
Setelaj selesai makan mereka pun berjalan kaki kembali ke hotel. Mereka membersihkan diri mereka karena hari sudah malam.
"tenang saja aku akan membayarnya, tapi besok pagi ya...aku lelah" ucap Dina mengeratkan pelukannya pada Toni.
"iya sayangku...kamu memang paling mengerti diriku" Toni mengecup puncak kepala Dina dan ikut memejamkan mata.
Mereka berdua berada di London selama tiga hari. Selama tiga hari itu pula mereka menikmati suasana kota itu, mengunjungi tempat-tempat ikonik di kota itu. Dina sama sekali tidak merasa lelah, bahkan ia tampak bersemangat. Dan tentunya harus membayar pada Toni paling tidak dua ronde, sungguh persyaratan yang menyenangkan.
Setelah dari London, mereka berdua terbang ke kota Amsterdam. Mereka hanya singgak sejenak di sana, karena Dina tak terlalu tertarik, mereka di Amsterdam hanya sehari.
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu berkelilinh kota Amsterdam, mereka berangkat ke Paris dengan menaiki kereta. Dina sengaja memilih kereta karena ingin menikmati suasana perjalanan darat di benua Eropa itu.
Hampir empat jam perjalanan, mereka telah sampai di kota Paris. Dina tampak kelelahan Toni tidak tega, akhirnya ia memesan taksi dan langsung ke hotel.
Hotel mereka terletak tak jauh dari menara Eiffel, bahkan dari kamar mereka bisa melihat menara Eiffel dengan jelas. Dina yang sudah terlalu lelah, akhirnya langsunh tidur sampai hotel.
Toni hanya menggelengkan kepalanya, padahal tadi sewaktu berangkat Dina tampak bersemangat tapi tiba-tiba saja ia mengeluh lelah. Ia pin membereskan semua barang bawaan mereka. Koper yang mereka bawa pun sudah beranak, daro dua koper menjadi tiga.
Toni membebaskan Dina berbelanja apa saja yang ia inginkan, dan pada akhirnya ia sendiri yang kerepotan untuk membawanya. Dina sepertinya kelelahan, mereka tiba di Paris sekitar pukul sebelas siang, hingga jam menunjukkan waktu pukul tujuh malam namun ia belum juga bangun.
Toni merasa kawatir, karena Dina melewatkan makan siangnya. Ia pun mencium lembut bibir Dina berharap tidur Dina terusik. Namun Dina tak meresponnya, Toni membelai dan menggoyangkan tubuh Dina perlahan dan akhirnya usahanya berhasil. Dina membuka matanya, dan melihat sekelilingnya yang sudah gelap.
"kamu lelah sekali ya...?" tanya Toni lembut
Ia berjalan ke arah jendela dan melihat menara Eiffel di malam hari yang dihiasi lampu-lampu terlihat sangat indah. "aku ingin ke sana tapi aku masih merasa lelah" ucap Dina
"besok saja kita ke sana, kita masih punya banyak waktu di sini, terserah padamu kita berapa lama di sini" ucap Toni membelai lembut tangan Dina
"lebih baik kita makan dulu, kamu belum makan dari siang" ucap Toni
"iya...aku mau mandi dulu" ucap Dina kemudian melangkahkan kakinya ke kamar mandi
Dina terkejut, di dalam kamar mandi ternyata Toni sudah menyiapkan air di dalam bathtube dan dihiasi kelopak bunga mawar merah dan sekilingnya ada lilin-lilin kecil yang menyala.
Saking takjubnya Dina tak menyadari jika Toni juga masuk ke dalam kamar mandi. "Kamu menyukainya?" Toni membelai lembut tubuh Dina
__ADS_1
"kamu benar-benar...ah..." tiba-tiba Toni mencium tengkuk Dina dan meremas gunung kembarnya
"kota Paris adalah kota romantis, aku ingin membuat kenangan yang tak akan pernah terlupakan di kota ini" ucap Toni mulai menanggalkan satu per satu pakaian Dina dan menuntun Dina masuk ke dalam bathtube.
Mereka berdua berendam, dengan Toni yang memijit tubuh Dina dan memberikan rang sangan padanya agar Dina kembali bersemangat, dan usaha Toni berhasil. Dina mulai terpancing gairahnya, ia pun yang memulai duluan pertempuran panas di antara keduanya.
Setelah satu jam, mereka keluar dari kamar mandi dengan wajah berseri. Toni berhasil membangkitkan semangat Dina kembali
Malam berikutnya, Toni meminta Dina berdandan dan memakai gaun yang telah ia belikan untuknya. Gaun berwarna merah menyala, dengan belahan dada rendah dan tali spageti. Dress panjang dengan belahan sepaha membuat kaki jenjang Dina terlihat dan membuat ia tampak lebih seksi.
Toni mengumpat dalam hatinya, kenapa ia membeli gaun itu untuk Dina kalau tau Dina akan terlihat sangat cantik dan seksi. Ia tak rela tubuh istrinya dilihat oleh bule-bule di Paris.
Toni pun juga telah siap dengan setelan jas formalnya. Mereka pergi ke sebuah restoran yang terletak tak jauh dari menara Eiffel. Di sana mereka bisa melihat menara itu dari dekat dengan jelas.
Lagi-lagi Dina terpukau, Toni telah menyiapkan makan malam romantis, entah kapan dirinya tidak tahu, yang jelas ia benar-benar diperlakukan begitu spesial. Kejutan yang bertubi-tubi dalam dua minggu terakhir membuat Dina semakin jatuh cinta pada Toni.
Toni memang sengaja melakukan semua itu, ia ingin menghapus semua kenangan buruk Dina di masa lalu baik bersamanya atau mantan-mantannya. Toni ingi menghapus nama-nama mantan Dina dari hatinya. Ia ingin yang ada dalam hati dan ingatannya hanya namanya saja. Ia tak mengijinkan nama lain ada di dalam pikiran maupun hati Dina.
.
.
.
b e r s a m b u n g
__ADS_1