Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 163 Aneh


__ADS_3

Keesokan harinya Dina terbangun, ia tak mendapati Toni ada di sampingnya. Hanya sepucuk surat yang ada di meja sebelah tempat tidur.


Dina mengambil dan membaca surat itu


SAYANG...


MAAF AKU TIDAK MEMBANGUNKAN KAMU, AKU TIDAK INGIN MENGGANGGU TIDURMU. PAGI INI AKU ADA JANJI DENGAN KLIEN, NANTI SIANG DATANG KE KANTOR YA...DIKI YANG AKAN MENGANTARMU


Dina meletakkan surat itu, kemudian ia ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dina berendam, mencoba menghilangkan pikirannya dari Dendy yang akhir-akhir ini selalu mengganggu pikirannya.


Meski ia sudah memantapkan hatinya, namun masih ada secuil harapan dalam hatinya Dendy akan memperjuangkannya. Jika perpisahannya dengan Dendy karena suatu hal yang jelas, mungkin Dina tak akan seperti ini.


Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi, Dina menyudahi mandinya. Ia bersiap untuk kembali ke kota. Namun sebelum itu Dina ingin ke restoran dulu, karena ia sudah lama tak berkeliling di resto itu.


Dina berjalan santai memasuki restoran itu, semua pelayan dan pegawai menunduk hormat padanya. Dina bingung kenapa para karyawan menunduk hormat padanya padahal ia hanya pacar dari pemilik resto itu.


"Nona silahkan duduk dulu?" ucap salah satu pelayan di resto itu sambil mengantar Dina ke meja yang pemandangannya paling indah di resto tersebut


Dina mengikuti pelayan itu kemudian duduk di tempat yang telah disediakan untukknya.


"sebentar saya ambilkan makanan untuk Nona" pelayan itu meninggalkan Dina


Tak lama dua orang pelayan datang membawa makanan untuk Dina dan meletakkan di hadapan Dina.


"bukankah ini tidak ada di menu restoran ini?" Dina bingung melihat nasi dengan ayam goreng dan sup sayuran.


"Tuan Toni yang menyuruh kami menyiapkan untuk Nona"


"ckkkk..." Dina berdecak "padahal aku ingin membuat makananku sendiri, lain kali jangan membuatkan aku makanan yang tidak ada di menu, itu akan menyusahkan kalian" ucap Dina menahan kesalnya


"tapi bos yang memintanya..." pelayan itu terlihat ketakutan


"ya sudah....terima kasih untuk semua usaha kalian" Dina tersenyum menatap pelayan yang tampak ketakutan "nggak usah takut, aku bukan pemarah seperti bos kalian"


Pelayan itu meninggalkan Dina sendirian. Dengan rasa kesal, Dina tetap memakan makanan yang sudah sengaja dipesan oleh Toni. Menu sederhana yang Dina sukai, yang tak bosan Dina makan.


Toni tahu bagaimana cara memanjakan Dina tapi terkadang terlalu berlebihan. Setelah menghabiskan makanannya Dina berkeliling restoran itu. Kini restoran itu sudah jadi sepenuhnya. Dina benar-benar takjub, Toni membuat restoran seperti apa yang ada di pikiran Dina.

__ADS_1


"Nona mau kembali ke kota sekarang? Bos sudah menanyakan apa Nona sudah berangkat" Diki menghampiri Dina


"baiklah...sebelum berangkat, aku mau ke vila sebentar" ucap Dina bergegas berjalan ke vila milik Toni yang berada di sebelah restoran itu.


Hampir satu jam, Dina keluar dari vila membawa beberapa kotak yang berisi makanan yang ia buat.


"ayo berangkat...." ucap Dina


Diki mengantar Dina ke kantor Toni. Sesampainya di kantor Toni, Dina masuk ke dalam, terlihat resepsionis baru yang Dina belum pernah lihat sebelumnya.


"siang...ada keperluan apa?" tanya resepsionis itu sopan


"saya mau bertemu dengan Toni" Dina tersenyum ramah


"sudah ada janji?"


"sudah..."


"tunggu sebentar, saya telepon sekretarisnya dulu"


"baik..." Dina duduk di kursi tunggu. Seharusnya ia tak perlu menunggu untuk bertemu Toni, ia hanya menghormati karyawan Toni yang menjalankan tugasnya.


Dina tersenyum, sedangkan resepsionis itu wajahnya pucat melihat Toni yang menghampiri Dina.


"aku menunggumu" ucap Dina lembut "ayo makan siang dulu..." Dina beranjak berdiri


Toni mengajak Dina ke ruangannya, merela berdua menikmati makan siang yang tadi dibuat oleh Dina. Mega masuk ke dalam ruangan Toni.


"ruangannya sudah siap bos" ucap Mega


"suruh semua berkumpul di sana setelah makan siang" ucap Toni tegas


"baik..." Mega meninggalkan ruangan Toni


"kalau kamu sibuk, aku bisa pulang sendiri nanti" ucap Dina


Toni diam tak menyahut. Ia tetap melanjutkan makannya, seolah-olah tak terusik dengan ucapan Dina. Dina hanya menghela nafasnya, ia tak tahu kenapa tiba-tiba Toni berubah menjadi dingin.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Toni mengajak Dina ke ruang rapat di kantor itu. Dina tidak tahu kenapa dirinya dibawa kesana. Sementara dirinya bukan karyawan di sana.


Mereka berdua memasuki ruangan, ternyata semua karyawan sudah berkumpul di sana. Dina bingung, berpikir ada apa sebenarnya, kenapa wajah Toni berubah menjadi dingin.


"saya langsung saja ke pokok permasalahan" Toni langsung berbicara di hadapan semua karyawan "perusahaan ini selama beberapa tahun terakhir berkembang cukup baik, saat ini jumlah karyawan sudah dua kalinya saat saya mengambil alih perusahaan ini"


"satu tahun terakhir banyak wajah-wajah baru di kantor ini"


Semua karyawan tampak bingung, kenapa tiba-tiba mereka dikumpulkan di sana. Dina pun juga begitu, biasanya Toni tampak tegas dan berwibawa, tapi kali ini ia tampak dingin, seolah-olah para karyawan membuat kesalahan yang fatal.


"saya mengumpulkan kalian di sini, hanya ingin memberitahu kalian, siapa wanita yang ada ada di sebelah saya ini. Bagi karyawan lama tentunya sudah tahu, tapi bagi karyawan baru, perlu kalian ketahui, dia adalah Dina, calon istri saya, dan hanya dia kekasih saya, untuk itu jangan ada yang berbuat tidak sopan padanya"


Dina terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar, Toni mengumpulkan seluruh karyawan hanya untuk memberitahu siapa dirinya. Toni menggandeng tangan Dina kembali ke ruangannya.


"kamu ini kenapa? Mengumpulkan karyawan hanya untuk memberitahu siapa aku" Dina kesal


"itu karena kamu....kamu tidak mau jujur padaku" ucap Toni dingin


"jujur tentang apalagi?" Dina semakin kesal dan bingung


"apa yang terjadi saat kamu menggantikan Raya di sini" Toni duduk di kursi kerjanya.


Toni menekan tombol telepon di mejanya "suruh dia ke ruanganku" Toni meletakkan gagang telepon.


Dina semakin bingung, dia salah apa lagi sehingga Toni tampak begitu marah. Seingat Dina, ia tak pernah melakukan apapun yang membuat Toni marah.


Ia menjaga jarak dengan cowok-cowok seperti permintaan Toni. Ia pun melakukan tugasnya dengan benar. Tak ada yang salah dengan apa yang telah ia lakukan.


.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komennya ya bestie...


__ADS_2