Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 147Tante Diana


__ADS_3

Dengan langkah penuh percaya diri Toni menggandeng Dina menemui mamanya yang duduk di ruang keluarga. Toni tak pernah akrab dengan mamanya, mereka berdua sudah seperti orang asing.


"akhirnya kamu ke sini Nak..."ucap mamanya tersenyum mengembang


"ya...aku datang ma...." Toni duduk di kursi di seberang mamanya diikuti oleh Dina


"bagaimana kabarmu?"


"aku baik ma....mama sendiri kenapa tak pernah pulang?" ucap Toni sambil tersenyum kecut


"kamu tahu sendiri jika mama pulang pasti papamu akan marah"


"papa hanya marah karena mama tak pernah peduli dengan keluarga, jika saja mama menuruti apa kata papa semua tak akan seperti ini" ucap Toni datar


"kamu ke sini sama siapa?" mamanya Toni memperhatikan Dina dari ujung kaki sampai ujung kepala


Dina hanya menunduk, ia tak berani menatap mamanya Toni. Belum pernah sekalipun Dina bertatap muka seperti sekarang. Dulu ketika masih SMA hanya sekedar tahu nama dan melihat dari kejauhan.


"sama pacar sekaligus calon istri Toni kelak ma..." jawab Toni santai


"calon istri?" mamanya Toni membulatkan matanya


"iya....aku sudah melamarnya beberapa waktu lalu" jawab Toni santai. Ia sudah menduga jika mamanya pasti akan terkejut.


"mama sudah menjodohkanmu dengan anak kolega mama...." nada bicara mamanya Toni mulai meninggi"


"terserah mama....Toni memilih Dina...dan papa juga sudah menyetujui sejak lama...." ucap Toni dengan nada santai


Perasaan Dina semakin tak menentu, ia takut Toni akan menuruti keinginan mamanya. Jika itu terjadi Dina hanya bisa pasrah.


"apa lebihnya dia?" ucap mamanya Toni dengan tatapan sinis


"lebihnya banyak ma...papa juga sudah mengenal orang tuanya"


"calon menantu mama harus dari kalangan orang berada, yang jelas asal-usulnya, kalau tidak....mau ditaruh dimana muka mama Toni...!"

__ADS_1


"terserah mama mau berbuat apa, Toni tetap akan menikahi Dina!" Toni beranjak dari duduknya menarik tangan Dina. Dina kebingungan ia menatap Toni kemudian menatap mamanya Toni bergantian


"dan satu lagi....asal usul Dina jelas, dia anak teman papa teman mama juga..." Toni berjalan menggandeng tangan Dina keluar dari rumah mamanya Toni.


Dina diam, ia tak bertanya apapun pada Toni. Ia tak ingin memperkeruh keadaan, ia tak ingin membuat Toni semakin marah.


Toni melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi kembali ke pusat kota J. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Toni. Toni terlihat sangat kesal.


Sebelum ke rumah mamanya ia sudah menduga pertemuannya dengan mamanya tak akan berjalan lancar, namun ia tetap ke sana karena ia ingin memperkenalkan Dina secara resmi pada mamanya.


"sayang...aku antar ke kosmu saja ya...." ucap Toni


"iya....aku juga ada janji dengan teman sore ini" kilah Dina. Ia tahu jika ia protes Toni akan tersulut emosinya.


.


Seminggu berlalu, selama itu pula Toni tak menemui Dina, ia hanya menyempatkan menelpon Dina di pagi dan malam hari. Dina merasa kawatir, banyak yang ia takutkan. Dina takut Toni akan menuruti keinginan mamanya, dan juga takut Toni berbuat nekat


Dina mengambil kunci motornya kemudian ia mengendarai motornya ke kantornya Toni. Sesampainya di sana, Dina langsung dipersilakan masuk ke dalam.


Dina melewati meja Raya yang tampak kosong, meja Ridwan juga sama. Sayup-sayup ia mendengar suara perempuan di dalam ruangan Toni.


Dina menyiapkan hatinya kemudian masuk tanpa mengetuk pintu. Dari ambang pintu ia melihat Toni berdiri memunggunginya. Di hadapannya seorang cewek duduk di kursi kerja Toni. Dina berjalan mendekat, ia bisa melihat semakin jelas cewek itu membuka bajunya di hadapan Toni.


"ehemmm....ehemmm...." Dina berjalan mendekat. Toni membalik badannya, terkejut kemudian ia menghampiri Dina.


"sayang...." wajah Toni terlihat panik


"maaf ternyata kamu sedang ada tamu, kalau begitu aku pulang saja...." Dina membalik badan, air matanya mulai menetes di pipinya.


Toni mencekal lengan Dina "sayang....aku bisa jelaskan semuanya...." Toni panik.


Cewek tadi berjalan mendekati mereka berdua sambil merapikan bajunya.


"kamu siapa? Aku calon istrinya Toni..." ucap cewek itu dengan tatapan merendahkan

__ADS_1


"tutup mulut kamu! Kamu bukan siapa-siapa....Dina tunanganku!" bentak Toni


"apa kamu sudah lupa apa yang baru saja kita lakukan?" ucap cewek itu mendayu-dayu


"memangnya apa yang kita lakukan?! Pergilah....aku tidak mau melihatmu lagi!" ucap Toni dengan tatapan dingin


"oh...begitu rupanya.....aku akan memberitahu tante Diana..." cewek itu terlihat tidak terima


"silahkan....aku tidak takut...!" ucap Toni ketus


Cewek itu meninggalkan kantor Toni dengan raut wajah memerah. Toni menarik lengan Dina dan membawanya duduk di sofa.


Dina masih diam, air matanya masih mengalir membasahi pipinya. Pikirannya semakin kalut, ia tak tahu siapa yang harus ia percayai.


"sayang....dia bukan siapa-siapa....mama yang mengirimnya ke sini" ucap Toni dengan wajah memohon. Dina masih diam, tatapannya kosong, ia begitu terguncang mendapati Toni bersama cewek lain dalam keadaan setengah telanjang


"sayang....ayolah...jangan diam saja...."Toni mulai kebingungan


"aku harus bagaimana?" Dina terisak "aku tidak tahu mana yang harus aku percaya"


"percayalah padaku Din....aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya" Toni tampak frustasi. Kesialan baginya, lagi-lagi Dina datang di saat yang tidak tepat.


"aku nggak tahu Ton...." Dina beranjak dari duduknya berlari keluar ruangan Toni. Dina buru-buru menyalakan mesin motornya kemudian melajukannya ke tempat biasa ia merenung.


Toni kehilangan jejak Dina, ia tak tahu Dina berada dimana, ia sudah ke kosnya namun Dina belum pulang. Ia mendatangi perpustakaan namun Dina tak ada di sana.


Ia kebingungan kemana harus mencari Dina. Temapat-tempat yang ia ketahui sudah ia datangi namun ia tak bisa menemukan Dina.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2