Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 249 Rumahmu dan Restoranmu


__ADS_3

Toni menggandeng Dina masuk ke dalam rumah. Rumah dua lantai yang didominasi warna putih dan sedikit warna kuning cerah. Terlihat sudah ada perabotan di sana.


Dina mengamatinya, ia merasa bingung, entah rumah siapa Dina tidak tahu. Baru kali ini ia masuk ke dalam rumah itu.


Toni mengajak Dina berkeliling, dari ruang tamu, ruang keluarga lalu ke dapur. Kemudian Toni mengajak Dina ke lantai dua, Dina semakin bingung kenapa ia diajak berkeliling, padahal ia sudah sangat lelah, ia sudah ingin beristirahat


"bagaimana kamu suka?" tanya Toni lembut sambil memeluk bahu Dina dari samping


"ini rumah siapa sayang?" Dina menatap Toni penuh tanda tanya


"ini rumah kita, rumah kamu sayang...." ucap Toni dengan mata berbinar


"hah...kamu pasti bercanda, kemarin kamu bilang sementara kita tinggal di hotel"


"sekarang aku tunjukkan kamar kita kalau kamu tidak percaya" Toni mengajak Dina masuk ke sebuah kamar di ujung lantai dua itu.


Kemudian membuka pintunya, pertama kali yang Dina lihat adalah foto mereka yang sudah dibingkai berukuran besar, foto mereka berdua sewaktu mengucapkan janji suci mereka, terpajang di dinding di atas tempat tidur.


Toni melepaskan pelukannya dan membiarkan Dina mengamati kamar mereka. Toni memasuki sebuah ruangan di dalam kamar itu, kemudian keluar lagi membawa dua buah map.


"sayang...bagaimana?"


"hah...ini benar rumah kita?" Dina masih tidak percaya


"ini kalau kamu tidak percaya" ucap Toni sambil menyerahkan sebuah map pada Dina. Dina membukanya, kemudian ia menutup mulutnya matanya berkaca-kaca.


"ini rumahmu sayang, rumah ini milikmu..."


"bagaimana bisa?" mata Dina berkaca-kaca menatap Toni


"rumah ini sudah aku beli sejak lama, setelah melamarmu kepada kedua orang tuamu aku membelinya, papa bahkan tidak mengetahuinya"


"terima kasih sayang...terima kasih..." Dina menghambur memeluk Toni


"dan ini masih ada satu lagi..." Toni menyerahkan satu lagi map yang ia pegang. Dina mengurai pelukannya kemudian menatap map berwarna hijau itu


"apa lagi ini?" Dina mulai membukanya


"itu surat kepemilikan restoran yang ada di kota J" ucap Toni


"resto?"


"iya...resto itu milikmu, sejak kamu menerima lamaranku waktu itu" Toni mengembangkan senyumnya "dan ini...di dalam sini adalah keuntungan dari restoran itu, aku tidak mengambilnya sepeserpun" Toni menyerahkan sebuah buku tabungan

__ADS_1


"hah...kenapa begitu?"


"sayang....aku memberikan semua ini karena aku mencintaimu, aku sengaja tidak memberitahu kamu jika resto itu milikmu, aku takut kamu tersinggung, aku tidak bermaksud apa-apa itu murni karena aku memang mencintai kamu dari sejak kita masih SMA"


"tapi ini terlalu berlebihan untukku" Dina menangis bahagia


"tidak ada yang berlebihan, kamu jauh lebih berharga dari semua itu sayang" Toni memeluk Dina, Dina terisak di dalam pelukan Toni.


"bagaimana kamu menyukai rumah ini?" tanya Toni dan dijawab anggukan oleh Dina


"sengaja aku belum membeli banyak perabot, aku ingin kamu yang membelinya sesuai dengan keinginanmu" ucap Toni melerai pelukannya.


"ayo kita ke bawah" ucap Toni menggandeng tangan Dina


Mereka menuruni tangga, rasa lelah yang dirasakan Dina tadi hilang begitu saja mendapatkan kejutan yang membuatnya tak lagi bisa berkata-kata.


Di bawah, tepatnya di ruang keluarga sudah berkumpul keluarga mereka, ada tuan Yanuar, Vanya kedua orang tuanya dan juga adik-adiknya.


Dina memeluk mamanya, ia merasa rindu pada mamanya itu. Kedua orang tua Dina benar-benar bahagia, melihat putri kecilnya mendapat suami yang begitu mencintainya.


"mbok Nah akan ikut kita sayang...." ucap Toni membuat perhatian Dina teralihkan


"mbok..." Dina memeluk mbok Nah


"lalu ini Sri, dia yang akan membantu mbok Nah di sini" ucap Toni menunjuk seseorang yang berdiri di sebelah mbok Nah, seorang wanita berumur kira-kira empat puluh tahun.


"lalu yang menjemput kita tadi namanya pak Supri, dia akan menjadi sopir pribadi kamu sekaligus tukang kebun di sini" ucap Toni menunjukkan satu per satu yang akan membantu mereka.


"oh ya bos...tadi baru saja ada yang mengantar paket" ucap pak Supri


"paket?"


Pak Supri pun keluar dan mengambil kotak yang tadi dikirim oleh kurir.


"oh...ini...kok cepat ya sampainya..." Toni melihat paket yang seminggu yang lalu ia kirim karena ia susah membawa barang-barang belanjaan Dina.


"sekarang kamu sudah pulang, terserah kamu mau kembali ke kantor kapan" ucap Yanuar


"kalau aku mungkin lusa pa, kalau Dina entah mungkin masih hari senin depan" ucap Toni


"terserah kalian, papa tak ingin memaksa kalian untuk kembali ke kantor secepatnya, sebab papa ingin segera mendapatkan cucu dari kalian" ucap tuan Yanuar mengembangkan senyumnya


Dina hanya bisa tersenyum canggung, sampai hari ini ia masih meminum pil itu. Ia tak mau menjanjikan apa-apa pada mertuanya itu.

__ADS_1


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Dina terbangun karena merasakan mual yang teramat sangat. Ia pun berlari ke dalam kamar mandi.


Toni yang mendengar suara istrinya itu pun langsung bangun dan berlari menyusul Dina di kamar mandi. Toni memijat tengkuknya Dina perlahan, namun tak ada yang keluar dari mulut Dina.


Wajah Dina terlihat pucat, Toni kemudian menggendong Dina dan merebahkannya di atas tempat tidur. "kita ke dokter ya sayang..."


"nggak perlu....aku paling kecapekan, karena lebih dari tiga minggu kita pergi ke luar negeri"


"baiklah...kamu istirahatlah dulu, aku ke bawah dulu memgambil air hangat untukmu"


Toni turun dan ke dapur meminta mbok Nah membuatkan teh hangat dan juga bubur. Toni kembali ke kamar, dan mendapati Dina kembali muntah-muntah di kamar mandi


"sayang kamu muntah lagi?" Toni menghampiri Dina di dalam kamar mandi


"perutku mual sekali, sebenarnya sudah sejak di Santorini aku merasakannya tapi nggak separah ini" ucap Dina lemas


Toni menggendong Dina ke tempat tidur, ia tak mau membiarkan Dina sakit seperti ini. Ia ingin meminta sopir mengantarnya ke rumah sakit. "Sayang aku kebawah dulu" ucap Toni lembut


"jangan....berada di dekatmu, rasa mualku hilang, jangan kemana-mana temani aku di sini" ucap Dina


"baiklah..." Toni mengalah, ia pun ikut berbaring di samping Dina sambil mengusap perut Dina agar mualnya hilang. Namun itu bukan yang ada di pikiran Toni.


"apakah kamu sudah tumbuh di dalam perut mommymu boy" batin Toni "kalau iya, jangan membuat mommymu tersiksa" Toni terus mengusap perut Dina hingga ketukan pintu terdengar


"mas, ini bubur sama teh hangatnya..." mbok Sri masuk ke dalam kamar Toni dan melihat Dina yang terkulai tak berdaya


"baik mbok, letakkan saja di situ" ucap Toni , kemudian ia bangun dan mengambil gelas


"sayang...minum dulu" ucap Toni membantu Dina duduk dan membantunya minum. Kemudian Toni menyuapi Dina bubur, Dina merasa aneh, berada dekat Toni dan disuapi Toni mualnya menghilang, tadi saja Toni keluar kamar ia langsung muntah-muntah lagi.


Dina tak mau ambil pusing, yang penting sekarang ia harus makan agar besok bisa lebih sehat dan ia bisa segera kembali ke kantor. Sudah lama ia meninggalkan kantor pastinya pekerjaannya akan menumpuk.


.


.


.


B e r s a m b u n g


Novel ini segera tamat ya bestie, untuk cerita Ani dan Roy nanti akan dibuat judul tersendiri. Dan segera akan muncul judul baru berikutnya, maaf Nona ga bisa nulis dua judul sekaligus, ga bisa fokus bikin alurnya kalau keroyokan gitu.


Jangan lupa Nona tunggu sawerannya ya besti, kirim kopi kek bunga kek buat bang Toni yang cinta mati sama neng Dina

__ADS_1


Terima kasih bestie


__ADS_2