
Ujian akhir semester telah tiba, Dina bisa fokus belajar karena Toni sedang ada di luar kota. Dina tak mempedulikan siapapun, ia hanya fokus belajar untuk ujiannya. Dina ingin semester ini nilainya bagus lagi, ia tak ingin kuliahnya mundur lagi lulusnya.
Setiap hari rutinitas Dina hanya kos kampus saja, ia menolak ajakan teman-temannya untuk pergi, meskipun dekat. Toni juga menyempatkan untuk menelpon Dina di waktu luangnya.
Tak ada Toni, akhirnya Dina punya waktu untuk bersantai-santai di kosnya menghabiskan waktu dengan Tere yang tak lama lagi akan pulang ke asalnya karena sudah lulus.
"kakak ikut wisuda kapan?" tanya Dina
"bulan depan Din...kamu datang ya...terus nanti kita foto-foto buat kenang-kenangan" ucap Tere penuh semangat
"hmm....mas Bimo juga wisuda bareng kakak, kalau aku datang nanti dikira aku datang demi dia" ucap Dina lesu
"kamu datang dengan Toni....ayolah Din...setelah ini entah kapan kita bisa ketemu lagi" Tere memohon
"baiklah...kak...aku akan mengajak Toni" Dina menyunggingkan senyumnya. Dina tidak yakin Toni akan mau menemaninya datang ke acara wisuda Tere.
Libur akhir semester pun tiba, Dina memilih menghabiskan liburannya di rumahnya, sejak putus dengan Dendy ia sudah jarang pulang. Dina pulang diantar Toni, kini Toni yang harus bolak-balik kota J ke kota K karena Dina berada di kota K.
Hubungan Toni dan kedua orang tua semakin dekat, awalnya papanya Dina keberatan Dina berpacaran dengan Toni karena masa lalu mamanya Dina dengan papanya Toni begitu rumit. Namun Toni mengutarakan keinginannya kepada orang tua Dina jika ia serius menjalin hubungan dengan Dina.
Ia berjanji akan menunggu Dina lulus kuliah, setelah itu baru mereka kan membicarakan tahap selanjutnya. Dina tak tahu tentang itu karena Toni berbicara dengan orang tua Dina ketika ia tidak berada di rumah.
Orang tua Dina melihat kesungguhan Toni dan akhirnya menyetujui hubungan mereka berdua. Satu langkah yang harus ditempuh Toni yaitu mendapatkan restu orang tua Dina terlalui. Ia tinggal memikirkan cara bagaimana membujuk mamanya untuk merestuinya dengan Dina.
Dari awal papanya Toni sudah menyetujui hubungan mereka berdua. Bahkan ketika Toni berpacaran dengan Andini papanya keberatan karena ia tidak begitu mengenal Andini seperti ia mengenal Dina.
__ADS_1
Liburan hampir berakhir, Dina kembali ke kota J untuk mengurus segala sesuatu untuk kuliah di semester yang baru. Ia menyelesaikan administrasi dan juga menyelesaikan urusan KKN yang akan ia tempuh di semester terakhir sebelum ia skripsi.
Toni selalu menemaninya di waktu senggangnya, Dina tak keberatan akan hal itu, ia sudah terbiasa dengan adanya Toni yang selalu mengantarnya kemana saja ketika Toni sedang tidak sibuk.
"sayang...hari sabtu besok kamu ada acara tidak?" tanya Dina lembut
"sepertinya enggak...kenapa?"
"mau nggak menemani aku ke acara wisudanya kak Tere?" ucap Dina dengan puppy eyesnya
"iya...iya...aku kalau melihatmu seperti itu mana bisa menolak" ucap Toni mencubit hidung Dina
"terima kasih sayang" ucap Dina mencium bibir Toni sekilas
"kenapa cuma sebentar? " ucap Toni lembut sambil mendekatkan wajahnya perlahan pada wajah Dina. Toni mulai mencium lembut bibir Dina. Dina hanya diam, beberapa bulan mereka berpacaran namun mereka belum pernah berciuman, hanya sekali ketika Toni sedang cemburu Toni mencium Dina secara kasar.
Ciuman yang awalnya lembut, perlahan berubah menjadi semakin dalam semakin menuntut. Gejolak asmara dalam diri mereka tak mampu terbendung lagi.
Toni mulai meraba tubuh Dina, membelai punggungnya memperdalam ciumannya. Toni tenggelam dalam hasrat yang selama ini ia tahan ketika bersama Dina.
Mereka berdua sering tidur bersama, namun mereka hanya saling berpelukan. Namun kali ini Toni tak ingin lagi menahannya, ia merasa mendapatkan lampu hijau dari Dina.
Toni mulai meraba tubuh Dina bagian depan, sesekali ia meremasnya. Toni tak melepaskan ciumannya, ciumannya semakin dalam semakin menunutut. Perlahan ia menciumi leher Dina dan memberikan tanda kepemilikan di leher Dina.
Tangannya tak tinggal diam ia meremas tubuh bagian depan Dina. Perlahan ia menyusupkan tangannya ke dalam baju Dina melepaskan kait penutup gunung kembar Dina.
__ADS_1
Gunung kembar Dina menyembul begitu saja ketika kait itu terlepas. Toni yang sudah terbakar hasrat tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia menatap Dina dengan tatapan penuh hasrat, tatapan Dina juga sama.
Sedetik kemudian Toni melepaskan kaos yang dipakai Dina. Gunung kembar Dina begitu menggoda, Toni mencium Dina kembali kali ini Dina tak tinggal diam, ia juga melepaskan satu per satu kancing baju yang dipakai Toni.
Perlahan Toni membaringakan tubuh Dina di sofa ruang keluarga. Kemudian ia melepas baju yang ia pakai. Ia kembali menciumi Dina, kali ini ia mencium leher jenjang Dina dan kembali meninggalkan tanda kepemilikan pada leher Dina.
Toni turun menciumi gunung kembar Dina, sesekali memainkan puncaknya. ******* demi ******* meluncur dari bibir Dina. Toni mulai menciumi puncak gunung kembar Dina menghisapnya seolah-olah ia menemukan sumber pelepas dahaganya.
Dina hanya bisa pasrah mendapat sentuhan demi sentuhan dari Toni. Ia sangat menikmati sentuhan Toni yang baginya begitu memabukkan. Perlahan tangan Toni menyusup ke bagian inti Dina, dan mulai meraba dan membelai bagian luar inti Dina.
Dina tak kuasa menahan gejolak yang ada dalam dirinya, Dina semakin menggeliat, desahannya semakin kencang. Dina meremas rambut Toni, Toni kembali mencium bibirnya dengan penuh hasrat, tangannya menari-nari di bagian inti Dina.
Gerakan Dina semakin liar, Dina meraih kancing celana milik Toni berusaha membukanya namun Toni tak membiarkannya. Toni menciumi puncak gunung kembar Dina kembali dan menghisapnya, jari-jarinya masih menari-nari di bagian inti Dina.
Dina tak kuasa menahan gelombang yang tiba-tiba datang "aaaaahhhh....Tonii......." jerit Dina sambil menegangkan tubuhnya. "iya sayang...keluarkan semua..." ucap Toni dengan suara seraknya. Dina telah sampai puncaknya ia tubuhnya mulai lemas.
Toni kembali mencium perlahan bibir Dina, ia ingin membangkitkan gairah Dina kembali. Perlahan gairah Dina kembali, ia membalas ciuman Toni namun tak seperti tadi, tenaganya mulai berkurang namun Toni tak tinggal diam, ia meremas gunung kembar Dina, seketika Dina menggeliat, Toni kembali mencium bibir Dina dengan agresif sambil melepaskan celana yang dipakai Dina.
Kini Dina tanpa sehelai benang pun, Toni dengan gerakan cepat melepaskan celana yang ia pakai. Sedetik kemudian ia menciumi Dina kembali meraba meremas semua bagian tubuh Dina.
Ia menggesek-gesekkan tongkat sakti miliknya di bibir inti Dina. Dina kembali mendesah, menggeliat desahannya semakin kencang. Ia pun memegang tongkat milik Toni membelainya kemudian meremasnya. Toni hanya bisa mengerang merasakan sentuhan tangan Dina yang terasa hangat.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g