
Setelah menyelesaikan makan malam, mereka berdua naik ke ruang kerja Toni. Dina melanjutkan mengerjakan tugasnya. Sedangkan Toni memilih membaca beberapa dokumen yang ia bawa dari kantor.
Beberapa hari terakhir, karena Dina sibuk, ia membawa pekerjaannya pulang sebagai teman pengusir sepi. Tumpukan dokumen yang ia bawa hampir selesai ia periksa namun Dina masih berada di depan komputer.
"sebenarnya ini tugas apa? Kenapa terlihat begitu rumit?" ucap Toni berdiri di belakang Dina
"ini itu rencana pembuatan pabrik" ucap Dina
"jadi kamu sedang membuat pabrik?"
"bukan....ini tugas kuliah tapi tentang itu, banyak hal yang harus diperhatikan dalam pembutan sebuah pabrik, nggak cuma mikir sewa lahan, ada karyawan beres" ucap Dina tanpa melihat ke arah Toni
"begitu? Jadi misal besok aku mau membuat pabrik lagi aku bisa minta tolong ke kamu dong" goda Toni
"memangnya mau bikin pabrik lagi? Bukankah perusahaan papamu sudah ada beberapa?" Dina masih sambil mengotak-atik gambar yang ada di depannya
"inginnya sih buat pabrik sendiri, buat kamu"
"memangnya rencana mau buat pabrik apa?" Dina masih serius dengan gambar dan angka-angka yang ada di layar komputer
"pabrik anak..." ucap Toni asal, dan ucapan itu mampu membuat Dina menatap Toni
"kamu itu ya....pabrik anak...memangnya anak itu dibuat di pabrik?!" Dina kesal
Toni terkekeh melihat reaksi Dina yang tampak kesal. Niatnya hanya asal berbicara karena meskipun mereka sedang bersama namun begitu sepi, biasanya Dina akan berbicara tanpa henti dan atau mendengarkan musik. Namun kali ini tak ada suara apapun hanya suara komputer saja.
"sebentar...." Toni menggeser Dina, kemudian meraih mouse dan meneka beberapa tombol "sudah..."
"kenapa aku dari tadi nggak kepikiran menyalakan musik ya..." ucap Dina kemudian melanjutkan tugasnya.
Karena bosan, Toni menarik kursi dan duduk di depan meja Dina. Ia kembali membaca dokumen yang ia pegang. Toni dan Dina memiliki kebiasaan yang sama, menghilangkan rasa jenuhnya dengan mendengarkan musik.
Sesekali baik Dina maupun Toni bersenandung mengikuti lagu yang Toni putar dari komputernya.
"ini sudah malam, kamu mau sampai jam berapa mengerjakan tugasmu itu?"
"sebentar, tanggung..." ucap Dina tanpa menatap Toni.
Toni hanya menghela nafasnya, susah bicara dengan Dina jika sudah serius. Dulu ia tak pernah tahu seperti apa jika Dina sudah serius dengan apa yang ia kerjakan. Kini baru ia tahu, Dina tak akan istirahat sebelum apa yang ia mulai selesai.
Toni kembali memeriksa dokumen yang ia pegang. Masih sesekali bersenandung mengusir rasa kantuk yang menyerangnya.
Sampai waktu yang memanggil kita
ku kan tetap berkata
oh ...menikahlah denganku
oh ...bahagialah selamanya
Toni bersenandung, sambil menatap Dina. Namun Dina tak menyadari apa yang dilakukan oleh Toni.
__ADS_1
"Din..."
"hmmm..." Dina masih fokus dengan layar komputernya
"Din..."
"iya..." Dina akhirnya menatap ke arah Toni
"menikahlah denganku...." ucap Toni dengan tatapan serius
"kamu melamar aku?" Dina terkekeh
"memangnya kenapa? Ada yang salah?" Toni menatap Dina dengan tatapan yang sulit diartikan
Dina tergelak "Toni...Toni...kamu itu ada-ada saja" Dina kembali menatap layar komputernya "aku pernah dilamar cowok, semua terlihat sempurna" ucap Dina santai, ia tidak tahu wajah Toni merah padam
"sempurna? terus kamu terima?" Toni menahan emosi
"ya nggaklah....kalau aku terima, nggak mungkin sekarang aku di sini" Dina masih tak menyaadari perubahan raut wajah Toni
"memang seperti apa dia melamarmu? Kenapa kamu menolaknya?"
"ya...seperti impian cewek pada umumnya, aku menolaknya karena aku masih terlalu muda untuk berkomitmen" Dina masih berbicara santai, ia tidak tahu jika Toni sudah ingin memakan orang yang melamar Dina hidup-hidup
"memang cewek maunya seperti apa?" tanya Toni dengan perasaan yang tak seemosi tadi
Dina menatap Toni "sebenarnya kita ini ngomongin apa sih?"
"kalau kamu mengantuk, tidur dulu saja....nanti aku susul" ucap Dina
"aku akan di sini sampai kamu selesai..." Toni tampak tak ingin dibantah
"ya sudah...terserah kamu..." Dina kembali menatap layar komputer
Mereka berdua kelelahan, tak sadar mereka berdua tertidur di tempat masing-masing. Semalaman tak ada yang terbangun mereka benar-benar tertidur pulas.
Pukul enam pagi, Dina terbangun dengan leher kaku. Ia tidur di depan komputer semalaman. Ia menatap Toni tang tertidur di kursi di depan mejanya.
Ia tersenyum, ia mengingat semalam waktu Toni melamarnya entah itu sungguhan atau hanya candaan Toni ia tidak tahu, namun ia bahagia mendengarnya keluar dari mulut Toni.
"hemm...." Toni menggeliat "kamu sudah bangun?" ucap Toni dengan suara seraknya
"sudah...kenapa kamu tidak tidur di kamar?"
"kamu sendiri?" Toni menegakkan duduknya "sudah selesai?" tanya Toni
"tinggal sedikit lagi" ucap Dina
"ayo...mandi....aku antar kamu ke kos, hari ini kamu kuliah siang bukan?"
"hari ini aku bolod kuliah"
__ADS_1
"kenapa?" Toni heran seorang Dina bolos kuliah
"aku mau menyelesaikan tugasku"
"di sini?"
"iya...tapi aku mau mengajak teman-temanku boleh?" Dina beranjak dari duduknya kemudian duduk di pangkuan Toni
"boleh...asal kamu hati-hati, di ruangan ini banyak dokumen penting dan buku-bukuku" ucap Toni lembut
"baik...terima kasih sayang" Dina mencium Toni
Pukul tujuh lebih lima belas Toni pergi meninggalkan Dina di rumah. Ia hari ini harus ke kantor pagi-pagi karena siangnya dia ada kuliah. Sesampainya di ruangannya, Toni buru-buru memanggil Ridwan.
"iya bos...ada apa?" tanya Ridwan
"Wan...bagaimana cara melamar cewek?" tanya Toni sambil mengetuk-ngetuk jarinya di meja
"tinggal bilang kalau mau menikahinya beres bos"
"apakah semudah itu?" Toni menatap Ridwan dengan tatapan tidak yakin
"saya dulu dengan Raya begitu, setelah itu baru bicara ke orang tuanya"
"semalam aku sudah mengatakannya pada Dina namun dianggap bercanda Wan..." Toni sedikit kesal
"bos mau melamar mbak Dina?"
"iya, memangnya ada apa?" Toni makin kesal dengan orang kepercayaannya itu.
"wah...selamat kalau begitu"
"Ridwan....! aku belum jadi melamarnya....!"
"bos dulu waktu menyatakan cinta seheboh itu, masak melamarnya cuma biasa-biasa saja, harus lebih romantis bos..." cibir Ridwan
"sekarang aku memberimu tugas, carikan konsep yang pas....aku mau yang sempurna" ucap Toni tegas tak mau dibantah
"baik bos...saya rundingkan dulu dengan Raya...." Ridwan keluar meninggalkan ruangan Toni.
Toni berpikir keras, bagaimana cara melamar Dina agar Dina menerimanya. Banyak hal yang ia pikirkan, semakin berpikir semakin ia bingung.
Ia tak ingin yang biasa saja, karena selama ini ia melihat Dina terkadang susah ditebak. Kadang dengan hal yang biasa-biasa saja dia bahagia, terkadang ia tidak menyukainya. Semakin ia dekat dengan Dina, semakin ia bingung dengan selera Dina.
Apakah ia melamar Dina dengan cara seperti dulu waktu mereka masih SMA, di sebuah tempat yang pribadi namun berkesan, ataukah memberikan kejutan seperti waktu ulang tahunnya tahun kemarin. Keduanya Dina menyukainya, tapi Toni berpikir lagi sepertinya butuh yang lebih spesial lagi.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g