Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 98 Perawat dadakan


__ADS_3

Tere yang dari atas melihat Dina tiba-tiba jatuh panik, ia langsung turun ke bawah menghampiri Dina yang sudah berada dipelukan Toni. Toni lah yang menunggu Dina di teras kosnya karena ia begitu merindukan Dina.


"Dina kenapa?" Tere panik


"aku tidak tahu...ia tiba-tiba pingsan, badannya pun sangat panas" Toni juga panik


"bawa ke rumah sakit ayo..." Tere panik


"aku bawa Dina ke rumahku saja ya...di sebelah rumahku ada dokter yang bisa sewaktu-waktu aku mintai tolong jika membutuhkan" ucap Toni dengan raut wajah panik


"apa enggak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit, siapa tahu Dina butuh dirawat" Tere tidak bisa membiarkan Dina dibawa oleh Toni begitu saja


"percayalah padaku, aku sangat menyayangi Dina akan aku lakukan yang terbaik untuknya" Toni meyakinkan Tere


"baiklah....tapi aku ikut...sebentar aku kunci kamarku dulu" Tere berlari ke atas tak butuh waktu lama ia sudah kembali "ayo"


Toni membopong Dina kemudian menidurkannya di kursi tengah di mobilnya. "kamu juga naik di tengah" ucap Toni pada Tere. Setelah memastikan Dina tidur dengan nyaman Toni naik ke sisi pengemudi sambil menelpon seseorang.


Hanya lima menit jarak kos Dina dengan rumah Toni, mereka telah sampai namun Dina belum sadarkan diri. Toni turun membuka pintu rumahnya dulu kemudian ia membopong Dina masuk ke dalam kamar yang ada di lantai bawah.


Tere mengikuti Toni, dari belakang tere ada seorang laki-laki kira-kira berumur empat puluh tahun.


"dok...." sapa Toni


"siapa ini?" tanya dokter itu


"teman dok...tiba-tiba pingsan badannya juga demam" jawab Toni


"saya periksa dulu ya..." dokter itu pun mulai memeriksa Dina "demamnya tinggi...mulai kapan demamnya?"


Toni kebingungan menjawab karena baru hari ini ia bertemu Dina, ia pun menatap Tere. "kemarin dia mengeluh tidak enak badan dok...tapi saya juga tidak tahu demam atau tidak" ucap Tere yang tahu Toni kebingungan


"baiklah....saya akan memberikan obat penurun panas dan vitamin, jika sampai besok malam demamnya masih tinggi segera bawa ke rumah sakit agar bisa diperiksa lebih lanjut" ucap dokter itu


"baik dok...terima kasih" ucap Toni


"jangan lupa dikompres....kalau ada apa-apa telepon saja" ucap dokter itu


"tapi Dina masih pingsan dok...!" Tere kawatir

__ADS_1


"ambil minyak kayu putih, oles di bawah hidungnya...setelah siuman segera suruh minum obat, makan minum yang banyak...sudah ya....saya pulang dulu" Dokter itu mengemasi barang-barangnya kemudian keluar dari kamar Dina


Toni mengantarkan dokter itu keluar, rumah dokter itu hanya berjarak dua rumah dari rumahnya "terima kasih banyak dok...." ucap Toni tulus


"iya sama-sama" jawab dokter itu


Toni kembali masuk ke dalam rumahnya, ia sibuk mengambil handuk dan juga air untuk mengompres Dina.


"minyak kayu putihnya dimana?" tanya Tere


"sebentar..." Toni meletakkan baskom airnya kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan sebotol kecil minyak kayu putih


Tere mengambilnya dan mengoleskannya di bawah hidung Dina. Dina tampak menggeliat Toni dan Tere tersenyum bersamaan "sepertinya dia sudah sadar" ucap Toni


"iya...hmmm....gimana ya aku ngomongnya" Tere menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"kenapa?" Toni mulai mengompres Dina


"aku ingin menemani Dina, tapi aku besok kuliah pagi....Dina bawa lagi ke kosku saja ya..." ucap Tere sedikit ragu


"biarkan Dina di sini dulu...aku akan merawatnya...." ucap Toni


"tapi....!"


"kamu kembali saja ke kos, tolong urus motor Dina serta ambilkan baju gantinya, nanti kamu diantar orang kepercayaanku" ucap Toni menyerahkan kunci motor dan kunci kamar Dina yang tadi sempat ia ambil dari tas Dina.


"baiklah...."


"kamu siapkan baju-baju Dina, kamu titipkan pada Ridwan"


"baik..." Tere berjalan keluar kamar yang ditempati Dina diikuti oleh Toni


"tunggu sebentar...sebentar lagi Ridwan datang...." ucap Toni, dan benar saja, orang kepercayaan Toni yang sering ia suruh untuk mengurus rumahnya sewaktu ia tidak ada telah datang


Tere terkesima, Ridwan yang dimaksud Toni juga sama tampannya dengan Toni. Tere seperti terhipnotis, ia tak berkedip menatap Ridwan. Ridwan menghampiri Toni yang sedang mengobrol dengan Toni.


"kamu sendiri?" tanya Toni


"tidak mas....tadi saya diantar Raya..." jawab Ridwan

__ADS_1


"terus Raya kemana?"


"belanja dulu, katanya mas di sini agak lama....kulkasnya belum sempat diisi oleh Raya" jawab Ridwan


"Wan...nanti kamu antar Tere ke kosnya kamu tunggu dia sebentar nanti kamu bawakan baju-baju Dina ke sini"


"baik mas....memangnya mbak Dina kenapa?"


"sakit...."


"biar Raya nanti yang mengurus mbak Dina mas..."


"kalian nanti pulang saja, Dina biar aku yang urus, kalian pengantin baru enggak boleh nginap di sini" Toni terkekeh


Tere dari tadi mendengarkan percakapan Toni dan Ridwan, ia sedang berpikir siapa Ridwan dan juga siapa Raya, sewaktu mendengar kata pemgantin baru Tere merasa lemas. Ia tertarik dengan Ridwan namun ternyata sudah menikah.


"kalau begitu saya antar dulu mbak Tere ya mas...takut kemalaman" ucap Ridwan sopan


"begitu juga boleh....pakai saja motor yang ada di garasi" ucap Toni


"mari mbak..." ucap Ridwan sopan


"ah...iya ....mas...." Tere mengikuti Ridwab yang akan mengantarnya


Toni kembali ke dalam kamar yang ditempati Dina. Karena kamar yang ditempati Dina sedikit pengap, Toni memutuskan untuk membaw Dina ke kamarnya.


Dengan hati-hati Toni membopong Dina menaiki tangga, kemudian ia merebahkan Dina di atas tempat tidurnya. Ia pun mulai mengompres Dina kembali.


Toni teringat saat-saat dulu Dina terbaring di rumah sakit, ia yang menemani Dina saat itu. Sama seperti sekarang, Dina terbaring di kamarnya dengan kondisi badan demam tinggi.


Toni berpikir, dua kali ia merawat Dina yang sakit apakah hal itu sebuah pertanda jika ia akan merawat dan menemani Dina kelak. Apa yang ia pikirkan memunculkan harapan yang begitu besar dalam hatinya.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


Yuk...Bestie...tolong boom likenya dong....biar nona makin semangat updatenya m


Terima kasih sekebon bestie


__ADS_2