
Perlahan matahari pun turun dari singgasananya. Bergerak mendekati cakrawala, cahanya begitu indah. Toni dan Dina menikmati pemandangan itu dengan duduk di tepi kolam renang pribadi mereka.
Dina menyandarkan kepalanya di bahu Toni. Ia menatap jauh ke depan menikmati sunset yang begitu indah.
"apa rencanamu setelah wisuda besok" ucap Dina
"aku akan menikahimu..." ucap Toni santai
Dina mencubit perut Toni "aww...sakit..."
"sudah kubilang aku tidak mau buru-buru menikah..." ucap Dina kesal
"hanya itu rencanaku" ucap Toni asal
"kukira kamu akan melanjutkan kuliah lagi, atau kembali ke kota K misalnya" ucap Dina menyandarkan kepalanya kembali di bahu Toni
"mungkin aku kembali ke sana...papa mendesakku untuk kembali, dan memegang induk perusahaan"
"berarti kita akan berjauhan..." ucap Dina
"kenapa harus berjauhan?" Toni membelai lembut punggung Dina
"aku sepertinya akan bekerja di kota S, aku sudah melewati beberapa tahap tes, tinggal wawancara terakhir dengan pemilik perusahaan" ucap Dina masih sambil menikmati sunset yang begitu indah
"kamu akan meninggalkan aku? Bukannya aku sudah pernah mengatakan biar aku yang mencarikanmu pekerjaan" Toni tidak terima
Dina hanya tersenyum, ia tak lagi menanggapi ucapan Toni. Dina ingin mandiri, ia tak ingin mengandalkan Toni untuk mencari pekerjaan.
"ayo berenang..." ucap Toni mencoba mengalihkan pembicaraan, ia sudah memiliki rencana untuknya dan Dina, entah Dina akan marah atau tidak harus ia lakukan untuk mengikat Dina lebih kuat lagi
"aku tidak membawa baju renang Ton.. " Dina menegakkan tubuhnya
__ADS_1
"lepas saja bajumu, tak akan ada yang melihat aku jamin itu..." ucap Toni menarik paksa baju Dina
"Toni...!" ucap Dina kesal karena Toni berhasil melepas dressnya dan melemparnya sembarang arah
Toni menarik Dina memasuk kolam renang, sore ini ia ingin berenang bersama Dina ditemani sunset yang begitu indah.
Di dalam kolam Toni menggoda Dina, ia mendorong Dina hingga membentur tepian kolam. Ia mencumbui Dina, meski mendapat penolakan Toni tak menghiraukannya.
Ia terus menyentuh bagian-bagian sensitif Dina, hingga akhirnya Dina pasrah dengan sentuhan Toni yang begitu memabukkan, membuat dirinya melayang.
Toni pun mulai menghentak-hentakkan pinggulnya hingga air kolam itu pun bergejolak. Matahari pun menjadi saksi percintaan panas mereka di kolam itu.
Dina mendapatkan pelepasannya yang kedua, namun sepertinya Toni masih belum ada tanda-tanda akan menuntaskan hasratnya.
"sayang...aku lemas...." ucap Dina lirih. Toni pun mencabut miliknya kemudian ia membantu Dina naik ke atas kolam. Toni menggendong Dina kemudian ia merebahkan Dina di sofa yang ada di dalam kamar itu.
Toni pun melanjutkan percintaan mereka, hasratnya menggelora, ia meluapkan rasa kesal dan marahnya karena mendengar Dina akan pergi jauh dari kota ini.
Ia membiarkan Toni melakukannya sesuka hatinya, karena mungkin setelah ini mereka harus terpisah jarak kembali. Hingga pukul enam lebih empat puluh lima menit Toni menyudahi percintaan mereka.
Tubuhnya ambruk, nafasnya terengah-engah ia mencurahkan emosinya kekesalannya dan hasratnya sampai satu jam lebih hingga Dina tak berdaya karenanya.
"jangan pernah meninggalkanku lagi Princess...." Toni mengatur nafasnya kembali
"aku tidak meninggalkanmu, aku hanya ingin mandiri sayang..." ucap Dina lirih. Ia terlalu lelah berdebat dengan Toni "aku hanya butuh satu sampai dua tahun untuk menikmati semua apa yang telah aku usahakan, setelah itu aku akan menuruti semua maumu" Dina membelai rambut Toni
"tapi kenapa harus ke kota S? Kenapa nggak di sini saja..."
Dina tak lagi menjawab, semakin ia menjelaskan maka Toni akan semakin protes dan akhirnya ia juga yang harus mengalah. Dina hanya ingin menikmati masa mudanya, ingin bekerja dan mandiri.
Mereka berdua pun tertidur di atas sofa dengan saling berpelukan. Hingga akhirnya mereka terjaga, namun waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam.
__ADS_1
"aku akan memesan makanan kita makan di kamar saja ya..." ucap Toni lembut, Dina hanya mengangguk kemudian ia masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Tak lama Toni menyusulnya, mereka berdua mandi bersama tanpa melakukan apapun. Toni tahu Dina sudah kehabisan tenaga, meski kembali tergoda melihat tubuh putih mulus Dina sebisa mungkin ia menahannya, ia tak ingin Dina sakit karena dirinya.
Makanan yang mereka pesan pun telah diantar ke kamar mereka. Toni menyuapi Dina makan, ia merasa bersalah, ia tadi begitu kasar memyetubuhi Dina. Pukul sebelas malam mereka berdua memutuskan untuk tidur. Toni mendekap erat tubuh Dina, sambil berpikir bagaimana caranya agar Dina tak pergi ke kota S yang jaraknya ratusan kilometer dari kota J.
Keesokan paginya....
Dina tiba-tiba terbangun, ia merasakan mual yang teramat sangat. Ia pun berlari ke dalam kamar mandi, ia mencoba memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya namun tak ada apapun yang keluar dari mulutnya.
Dina pun kembali merebahkan tubunya di atas tempat tidurnya. Tiba-tiba ia merasakan mual kembali, ia pun berlari masuk ke dalam kamar mandi. Toni yang mendengar Dina muntah-muntah pun segera berlari menyusul Dina.
"sayang...kamu kenapa?" Toni tampak kawatir melihat Dina yang terlihat pucat terduduk di dalam kamar mandi
"entahlah...perutku rasanya seperti diaduk-aduk namun tak ada yang keluar sama sekali..." ucap Dina terengah-engah
"mungkin masuk angin..." ucap Toni membantu Dina berdiri
"mungkin saja..." ucap Dina lirih
Toni membawa Dina kembali ke tempat tidur, ia pun meminta pelayang membawakan minyak angin dan juga mengantarkan sarapan mereka.
Toni menyuapi Dina, baru saja akan masuk ke mulut Dina merasakan mual yang sangat hebat. "Singkirkan makanan itu, aku tidak tahan baunya" ucap Dina kemudian berlari ke kamar mandi kembali
Toni kebingungan, makanan yang tadi dia minta makanan kesukaan Dina, tapi kenapa ia tidak mau memakannya. Ia pun mencicipiny tak ada yang salah, enak malahan.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g