
Toni tak benar-benar pergi meninggalkan Dina sendiri berdua dengan Dendy. Ia tidak yakin Dendy bisa merawat Dina sebaik dirinya. Toni berdiri di depan pintu ruang rawat Dina, ia berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya menghilangkan sesak di dadanya karena cemburu.
Toni mendengarkan apa yang Dina ucapkan pada Dendy. Ia tersenyum mendengar perdebatan antara Dina dan Dendy. Dari yang ia dengar ia bisa menyimpulkan hubungan Dina dan Dendy sedang renggang.
"oo...jadi begitu...aku akan memanfaatkan kesempatan ini, aku akan merebut Dina darimu" batin Toni
Setelah tidak terdengar suara dari dalam ruang rawat Dina, Toni memutuskan untuk masuk. Dan yang ia lihat membuat ia semakin bahagia, Dina tidur memunggungi Dendy. Hatinya bersorak gembira, kesempatan emas ada di depan mata.
"sebaiknya kamu pulang dulu, biarkan Dina istirahat" ucap Toni datar mendekati brankar Dina
"ck...infus Dina mau habis kenapa diam saja!" lanjutnya dengan nada kesal kemudian ia memanggil perawat untuk mengganti infusnya.
Toni menatap datar pada Dendy yang meninggalkan ruang rawat Dina. Ia marah kesal dan juga cemburu pada Dendy. "ckkk...tak ada gunanya menemani Dina tapi enggak tahu harus berbuat apa" gumam Toni yang masih bisa didengar oleh Dendy.
Toni masuk ke dalam ruang rawat Dina lagi bersama perawat yang akan menggantikan infusnya. Perawat tersebut langsung mengganti infusnya Dina.
"sudah selesai, saya keluar dulu" ucap perawat itu
"baik sust...terima kasih" ucap Toni menyunggingkan senyumnya
"sama-sama..." ucap perawat itu kemudian menutup pintu ruang rawat Dina
"kamu sudah tidur?" tanya Toni pelan sambil menyibak anak rambut yang menutupi wajah Dina. Dina tak menjawab ia memejamkan matanya, entah tidur atau tidak Toni tidak tahu.
"baiklah...kamu tidurlah...aku akan berjaga di sini" ucap Toni sambil mendekatkan kursi ke brankar Dina kemudian ia duduk dan menyilangkan kakinya dan memejamkan matanya.
Dina membalik badannya menghadap Toni, yang terlihat lelah.
"untuk apa kamu di sini Ton...tidak seharusnya kamu yang menjagaku, melihatmu seperti ini membuatku goyah, tapi aku tak mungkin meninggalkan Dendy begitu saja, aku mulai menyayanginya, tapi aku juga menyayangimu. Andaikan kamu menyadari semua sebelum aku bersama Dendy mungkin aku akan mencoba memberimu kesempatan yang kedua" batin Dina
__ADS_1
Toni terlihat tertidur di kursi, tak bergerak sama sekali. Namun sebenenarnya ia tak tidur, ia menyadari Dina menatapnya tapi ia tak mau Dina menjadi salah tingkah karena menatap dirinya.
Terdengar pintu ruang rawat Dina diketuk, Dina merubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Toni menegakkan duduknya menatap Dina, menyunggingkan senyumnya sejenak melihat Dina juga menatap padanya.
Tak lama dua orang pun masuk, Toni terkejut melihat siapa yang datang. Baru saja ia merasa senang, tiba-tiba Dendy datang bersama seorang wanita yang Toni yakin itu mamanya Dendy
"Dina kamu sakit apa?" tanya mamanya Dendy menghampiri brankar Dina
"tante...." Dina berusaha duduk
"sudah...sudah...kamu tidur saja" ucap mama Tari
Toni hanya mrmperhatikan interaksi antara mamanya Dendy dengan Dina. Kembali lagi ia merasa kesal, mamanya Dendy terlihat begitu dekat dengan Dina, sedangkan dia mamanya saja tak peduli dengan dirinya.
"sakit lambung tante" jawab Dina
"tante baru tahu kalau kamu di rawat di sini, tahu begitu kemarin tante sekalian ke sini jenguk kamu" ucap mamanya Dendy
"eh..ini siapa? Kakak kamu?" tanya mamanya Dendy menatap Toni dengan tatapan menyelidik
"bukan tante...itu teman Dina" ucap Dina merasa situasi yang benar-benar membingungkan
Toni melihat Dendy hanya diam tak berani mendekat pada Dina. Toni menatap datar padanya kemudian tatapannya fokus pada Dina yang terlihat bingung dengan situasi ini.
"kamu kenapa bisa masuk rumah sakit sih...Din, padahal beberapa hari yang lalu kamu masih baik-baik saja" tanya mamanya Dendy dengan raut wajah sedih
"tanya saja pada anak tante" Toni yang dari tadi diam akhirnya membuka suaranya. Toni kesal, ia tahu persis kenapa Dina bisa sampai sakit seperti itu. Meski dulu ia tak pernah perhatian pada Dina, tapi ia tahu semua dari Roy. Dina hanya menghela nafasnya, tak menyangka Toni bisa seberani itu berbicara pada mamanya Dendy
"sebaiknya kamu pulang saja Ton, paling sebentar lagi papaku datang" ucap Dina dengan tatapan datarnya.
__ADS_1
Toni tak ingin meninggalkan Dina, tapi perkataan Dina ada benarnya, kehadirannya hanya akan membuat Dina semakin tidak suka padanya.
"baiklah...jaga dirimu baik-baik, jangan terlalu banyak pikiran" ucap Toni lembut sambil melirik Dendy dengan sinis. Dina hanya menjawab dengan anggukan.
"ini sebenarnya ada apa?" mamanya Dendy bingung
"anak tante yang sudah menyebabkan Dina seperti ini....permisi" Toni berjalan begitu saja keluar dari ruang rawat Dina.
Toni berusaha sebisa mungkin tak menunjukkan anarahnya di depan Dina. Karena jika ia emosi di depan Dina hanya akan memperburuk keadaannya.
Dina mulai terbiasa dengan keberadaan Toni, beberapa hari terakhir ia bergantung pada bantuan Toni. Ketika Toni keluar dari ruang rawatnya ada perasaan tak rela dalam hati Dina.
"selesaikan masalah kalian, mama mau ke tempat tantemu" ucap mamanya Dendy membuyarkan lamunan Dina. Dina menatap datar pada Dendy.
Masih jelas dalam ingatannya, Dendy yang tak mempercayainya bahkan terang-terangan di tempat umum. Dina merasakan sakit yang teramat sangat.
Dulu ketika dengan Toni ia tak sesakit ini, tapi itu membuat ia terluka begitu dalam. Bahkan ia tak mudah melupakan perbuatan Toni. Sampai sekarang pun rasa kecewa itu masih ada.
Melihat bagaimana perhatian Toni terhadapnya selama beberapa hari terakhir, membuat Dina sedikit luluh. Ia berandai-andai, andaikan Dendy memutuskan hubungan mereka ia akan memberikan Toni kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka.
Tapi Dina tak mau dianggap cewek yang suka mempermainkan cowok. Ia harus tetap memilih salah satu dari mereka. Tidak mungkin baginya berhubungan dengan dua cowok sekaligus.
.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g