
Mereka berdua pergi ke warung bakso tempat biasa mereka makan waktu mereka masih pacaran. Meski mereka tidak lama berpacaran tapi Dina masih mengingat tempat favorit mereka.
Dina ingin kesana bukan karena ingin mengenang kebersamaan mereka berdua, melainkan ia sudah lama tidak ke sana. Dari sekian banyak tempat makan bakso, Dina menyukai tempat itu karena bakso di sana lebih enak dibanding tempat lain yang pernah Dina kunjungi.
Pemiliknya pun sangat ramah, setiap Dina makan di sana bersama Toni, pemiliknya selalu menemani mereka berdua mengobrol jika warung sedang tidak ramai.
"sudah berapa lama kamu tidak kesana Din?"
"hmmm...sudah lama sekali, terakhir ya bersama kamu itu Ton..." ucap Dina sambil memperhatikan jalanan yang terlihat sangat ramai
"hmm...pantas saja, tante pemilik warung menanyakan kamu" ucap Toni sambil menoleh menatap Dina yang sedang asyik melihat kanan kiri jalan.
"benarkah? Kapan kamu ke sana?" Dina memutar duduknya menghadap Toni yang sedang menyetir
"setelah acara kelulusan tempo hari" jawab Toni sambil melirik Dina
Toni bahagia, setelah sekian lama ia tak bertemu Dina, akhirnya mereka bisa pergi berdua. Banyak hal dari Dina yang telah berubah, Dina terlihat lebih dewasa, lebih cantik, penampilannya pun tak setomboy dulu. Tapi sifat Dina tak berubah masih sama seperti Dina yang ia kenal.
Ketegangan di antara mereka berdua mulai mencair, mereka mulai bercanda, bercerita pengalaman mereka berdua di kampus masing-masing.
Dina telah melupakan semua kejadian buruk bersama Toni di masa lalu. Sejak masuk kuliah Dina berdamai dengan keadaan. Baginya kuliah adalah saatnya membuka lembaran baru. Dina ingin mengisi dengan hal-hal baik dan memaafkan semua orang yang telah menyakitinya.
Setengah jam berlalu mereka berdua telah sampai di tempat yang dimaksud. Saat memasuki warung pemilik warung memyambut mereka berdua.
"aduh...kalian...sudah lama tidak kesini...tante sampai kangen..." ucap pemilik warung dengan senyum mengembang
"iya tante..." Dina tersenyum ramah
"terakhir kali si tampan ke sini tapi sendiri, katanya kalian sudah putus....berarti sekarang kalian berpacaran lagi?" ucap pemilik warung
"kami hanya berteman baik tante" ucap Dina merasa tidak enak hati
Dina dan Toni masuk ke dalam warung yang masih terlihat seperti terakhir kali mereka makan di sana, masih bersih dan rapi. Dina memperhatikan sekeliling, terlihat beberapa lukisan hasil karya suami pemilik warung yang terpajang di dinding.
"Din...sebentar ya...ada yang kelupaan di mobil" Toni berdiri kemudian berjalan cepat meninggalkan Dina sendirian
"sedikitpun kamu tidak berubah Ton, hanya penampilanmu saja sekarang tak serapi dulu" batin Dina.
__ADS_1
Tak berapa lama Toni kembali membawa sebuah paper bag "ini buat kamu Din..." ucap Toni menyerahkan paper bag itu
"apa ini Ton....?" Dina memegang paper bag dari Toni
"bukalah" Toni menyunggingkan senyumnya "minggu lalu aku ke Singapore menemani papa, waktu jalan-jalan aku teringat apa yang kamu suka"
"apa ini tidak berlebihan Ton?" Dina membuka paper bag dan melihat isi di dalamnya
Dina tersenyum lebar, di dalamnya ada kaos cewek berwarna kuning, boneka beruang mini, gantungan kunci dan juga beberapa kotak coklat favorit Dina.
"kamu suka?" tanya Toni
"suka...suka banget, tapi ini terlalu berlebihan buat aku Ton" Dina menatap Toni dengan mata berbinar
"tidak pernah ada yang berlebihan untukmu Din..." Toni mengembangkan senyumnya
"terima kasih....terima kasih banyak Ton..." ucap Dina sambil merapikan isi paperbag
Ibu pemilik warung, datang menyela pembicaraan mereka, membawa pesanan mereka.
"seperti biasa kan pesanan kalian?" pemilik warung meletakkan mangkok-mangkok bakso di meja Toni dan Dina
"pasti ingat...kalian itu pelanggan favorit tante, cantik dan tampan, andai anak-anak tante belum menikah, pasti tante jodohkan dengan kalian" ucap pemilik warung antusias
"ah...tante bisa saja..." ucap Dina
"kalau kami dinikahkan dengan anak-anak tante kami enggak bisa pacaran dong" ucap Toni sedikit sedih
Si pemilik warung hanya tersenyum, ia hanya menggoda pasangan itu, tapi ternyata Toni menganggapnya serius.
"eh...sudah...ya...tante tinggal dulu, warung sedang ramai " ucap pemilik warung sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.
Dina tak pernah lupa ritualnya sebelum makan bakso. Dina mulai menambahkan sambal dan lain-lain.
"seleramu belum berubah ternyata" ucap Toni sambil memperhatikan Dina
Dina hanya menatap Toni sekilas, kemudian ia melanjutkan meracik sesuai seleranya "sambalnya jangan banyak-banyak, ingat...kamu pernah sampai opnam gara-gara asam lambung" Toni menarik mangkok sambal
__ADS_1
"ck..." Dina berdecak kesal, Toni menyunggingkan senyumnya, Dina selalu saja kesal ketika diingatkan soal makan sambal.
Dina mulai makan baksonya "hmm....sudah lama sekali aku ingin ke sini akhirnya bisa makan bakso ini lagi" ucap Dina sambil menikmati baksonya
"kalau ingin kesini kamu kabari aku, aku akan menemani kamu" ucap Toni menyunggingkan senyumnya. Dina tak menanggapi ucapan Toni, ia tak ingin memberi harapan pada Toni.
"papa menanyakan kamu..."
"aku..? memangnya ada apa?" Dina mengerutkan dahinya
"entah...tiba-tiba saja bertanya bagaimana kabar kamu" Toni mengedikkan bahunya
"habis ini kamu masih ada waktu tidak?" tanya Toni sambil meraih minumnya
"hmmm...." Dina tampak berpikir "aku bingung menjawabnya.... sebenarnya aku ingin pulang, tapi kalau di rumah jam segini juga mau apa"
"aku ajak kamu ke air terjun yang tempo hari mau tidak, sekarang tempatnya lebih rapi dan untuk turun ke sana sekarang sudah dibangun tangga" terang Toni yang merasa sedikit was-was menunggu jawaban Dina
"air terjun yang mana?" Dina tampak mengingat-ingat tempat yang dimaksud Toni
"yang tempo hari aku pernah mengajakmu itu Din..."
"oh...yang itu....hmmm...." Dina masih tampak berpikir "boleh deh...aku juga ingin pergi ke tempat yang tenang jauh dari suara-suara bising" jawab Dina
Setelah membayar makanan mereka Toni mengajak Dina ke air terjun kecil tempat Toni menyatakan cintanya pada Dina dulu. Sepuluh menit perjalanan mereka telah sampai, Toni memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
Mereka berdua berjalan menuruni anak tangga, yang dulu belum ada "benar sekarang jauh lebih bersih" ucap Dina berjalan menuruni anak tangga
"iya, entah siapa yang membangun tangga di sini" ucap Toni memperhatikan langkah Dina, takut dia terpleset
Tak butuh waktu lama mereka telah sampai di air terjun, tak banyak berubah, hanya semakin bersih. "Ayo kita ke sebelah sana" ucap Toni menunjuk dua buah batu besar yang berada di tepi sungai.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g
Jangan lupa ritualnya ya bestie, like komen dan votenya ya, terima kasih sekebon bestie