
Sesampainya di kos, Dina langsung membersihkan dirinya. Setelah selesai Dina membuka lemarinya, berpikir antara besok jadi pergi dengan Toni atau tidak.
Dina bingung, di satu sisi ia sudah lama tak berlibur, di sisi lain ia merasa sedikit tidak nyaman pergi bersama Toni. Lama berpikir, ia pun keluar kamarnya dan berjalan ke kamar Tere.
Dina mengetuk pintu kamar Tere "kak....sudah tidur kah?"
terdengar suara anak kunci diputar "kamu dari mana saja? Aku kira kamu pulang" ucap Tere
Dina masuk ke kamar Tere dan merebahkan tubuhnya di karpet sambil menonton televisi.
"tadi aku ketiduran di rumahnya Toni kak" jawab Dina
"hah....ketiduran, di rumah Toni? memangnya rumahnya dimana? Kamu enggak diapa-apain kan?" tanya Tere bertubi-tubi
"rumahnya dia itu enggak jauh dari kampus dua kak, aku baik-baik saja kok"
"hah...kenapa kamu enggak pernah cerita?!"
"aku juga baru tahu tadi..."
"terus...terus....cerita dong....kamu ngapain aja di rumahnya, dia tinggal sama siapa?"
"dibilang aku ketiduran jadi ya enggak ngapan-ngapain" Dina mengerucutkan bibirnya "dia tinggal sendiri, kadang ada kakaknya tapi enggak pasti juga"
"terus kenapa wajahmu kusut begitu"
"aku bingung kak...."
"bingung kenapa?" Tere mengambil bantal kemudian memeluknya dan menatap Dina.
Dina menghela nafasnya "Toni mengajak aku berlibur kak...ke pantai dan menginap"
"ya bagus dong....eh kapan...kapan?" Tere antusias
"bagus bagaimana?" Dina sedikit kesal
"ya bagus lah diajakin liburan cowok ganteng dan tajir" Tere terkekeh
"ih....kakak ini....kesel deh...." Dina mengerucutkan bibirnya
"kamu itu maunya bagaimana?"
"aku bingung kak....di satu sisi aku sudah lama enggak liburan, di sisi lain aku sedikit enggak nyaman pergi dengan Toni apalagi menginap"
"ooo....itu masalahnya...."
"menurut kakak bagaimana?"
__ADS_1
Tere menghela nafasnya "sejak kamu putus dari Dendy kamu terlihat kacau, kemudian kamu pacaran dengan Bimo seperti orang tertekan, baru beberapa bulan terakhir kamu sedikit lebih ceria"
Dina mendengarkan Tere. "Sejak kamu putus dengan Bimo kamu belum pernah berlibur lagi, kamu menyibukkan dirimu dengan kuliah dan kegiatan kemahasiswaan, ya kalau ada yang mengajak kamu berlibur ya...nikmati saja Din...."
"maksud kakak lebih baik aku pergi begitu? Tapi kak...."
"kamu enggak nyaman dimananya?" tanya Tere
"Toni itu mantan pacarku kak, ya rasanya gimana gitu...."
"dulu kamu dengan Bimo bagaimana saat itu kamu masih pacaran dengan Dendy pula....apa yang kamu takutkan? Takut dia ngapa-ngapain kamu gitu?"
Dina menghela nafasnya "iya sih kak....ya aku takut saja kisah lama terulang lagi"
"maksudmu?"
Dina menceritakan kisahnya bersama Toni. Ia harus membuka kembali cerita lama yang telah ia lupakan. Membuka kenangan-kenangannya bersama Toni dulu.
"kalau menurutku Din...tidak ada salahnya kamu pergi dengan dia kamu menganggapnya teman kan? Kecuali kamu berharap dia akan menyatakan cintanya itu beda lagi....jangan terlalu dipikirkan semua yang belum tentu terjadi, semua orang bisa berubah, katanya sudah berdamai dengan semuanya....apa lagi yang kamu takutkan?"
"iya kak...aku akan pergi dengannya, hitung-hitung liburan gratis" Dina terkekeh "makasih ya kak....aku ke kamar dulu mau siap-siap" Dina bangkit dari tidurnya
"memangnya kamu kapan perginya?" Tere menatap Dina yang sudah berdiri di depan pintu
"besok pagi...!"
"cari pacar kak...." Dina tergelak kemudian kembali ke kamarnya.
Dina menyiapkan barang-barangnya untuk pergi besok "ah...yang terjadi terjadilah....aku hanya ingin liburan....moga aja setelah liburan aku bisa menentukan langkah apa yang harus aku ambil ke depannya"
Dina merebahkan dirinya, mencoba memejamkan matanya namun tak kunjung tertidur. Bayang-bayang Toni seolah-olah menghantuinya.
Dina mengakui, Toni kini jauh berbeda dengan Toni yang dulu. Toni yang sekarang lebih dewasa, lebih berwibawa dan lebih tegas. Namun sikal Toni yang selalu lembut dan perhatian padanya tak pernah berubah.
Namun Toni yang selalu tersenyum dan ramah pada semua orang tak ada lagi. Ia berubah menjadi dingin pada semua orang kecuali pada dirinya dan mbok Nah.
Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, Dina baru merasa mengantuk akhirnya ia pun terlelap.
Sayup-sayup terdengar pintu kamarnya diketuk, Dina masih belum bisa membuka matanya. Ia memaksakan untuk bangun dan berjalan ke pintu dan membuka pintunya.
Tanpa melihat siapa yang mengetuk pintunya, Dina kembali berjalan ke tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya kembali. Ia lupa jika hari ini ia akan pergi dengan Toni.
"Din...." suara pelan nan lembut seorang cowok sambil menepuk lengan Dina pelan
"apa sih...aku masih ngantuk...."
"kamu jadi pergi tidak?"
__ADS_1
Dina mengerjapkan matanya melihat siapa yang membangunkannya
"kenapa kamu ada di dalam kamarku?" tanya Dina dengan suara seraknya
"kamu tidak sadar? Kamu tadi yang bukain pintu aku?" Toni tersenyum
"hah....?! Kukira tadi kak Tere"
"Dia yang menyuruhku membangunkanmu, katanya semalam kamu enggak sabar mau berlibur"
"hah...dia bilang begitu?!" Dina bangkit dari tidurnya
Toni mengangguk seraya tersenyum kepada Dina. "jadi....kita berangkat jam berapa?"
"aku masih ngantuk Ton....boleh nggak kalau aku tidur lagi?" Dina mengerucutkan bibirnya
"lebih baik kita segera berangkat keburu siang, kalau masih mengantuk kamu bisa tidur di mobil, perjalanan kita jauh lho..." ucap Toni lembut
"memangnya kita mau pergi kemana?"
"kita ke pantai A.... "
"hah....?!" Dina membelalakkan matanya
Toni menahan tawanya melihat ekspresi Dina yang benar-bemar terkejut.
"kamu sengaja mengerjai aku ya...?" protes Dina
"katanya mau liburan....hanya di sana yang ada resort yang sedikit private Din...bisa lebih tenang...enggak ramai kaya pantai-pantai lainnya"
"tapi jauhhh...." ucap Dina lirih
"iya...kalau berangkat sekarang sebelum makan siang kita sudah sampai sana" ucap Toni
"baiklah...aku mandi dulu..." Dina masuk ke kamar mandi
Toni tersenyum, melihat Dina yang tidak berubah, selalu saja ada alasan jika mau pergi padahal dia ingin sekali pergi.
Toni melihat tas ransel yang sudah siap di atas meja belajarnya, Toni tertawa karena tas yang Dina bawa begitu besar mungkin cukup untuk pergi tiga harian. Namun Toni memaklumi, karena mereka pergi ke pantai Dina pasti membawa baju ganti berlebih.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1