
Happy New Year 2023 🤩🤩🤩
......................
Bel tanda istirahat peralihan ke jam sore telah berbunyi. Dina masih membereskan buku-bukunya, sedangkan teman-temannya sudah mulai keluar kelas.
"Din...ke kantin yuk..." ucap Yuni
"kamu duluan saja, masih ada yang harus aku bereskan" ucap Dina sambil merapikan buku-buku yang ada di dalam tasnya
"ya sudah...aku ke kantin belakang kelas IPS, aku tunggu di sana" Yuni meninggalkan Dina sendiri
Tak lama, Toni sudah berada di sebelah Dina "Princess..."
Dina menoleh ke arah yang memanggilnya "Ton..."
"ayo makan siang di rumah saja, mbok Nah sudah memasak makanan kesukaanmu" ucap Toni lembut
Dina menghela nafasnya "kenapa harus menyuruh mbok Nah memasak buatku sih Ton...?"
"mbok Nah sendiri yang ingin memasak itu Din..." ucap Toni lembut
"baiklah..." Dina beranjak dari duduknya
"ayo..." Toni menggandeng tangan Dina. Dina diam tak bergeming, Toni yang menyadari Dina hanya diam menoleh ke arah Dina "kenapa?" Toni mengerutkan dahinya
Dina menatap ke arah tangannya yang digandeng oleh Toni "maaf Din..." ucap Toni lirih dan melepaskan genggaman tangannya
"ayo..." ucap Toni dengan nada sedih
Dina berjalan di samping Toni, sebenarnya ia senang digandeng oleh Toni, tapi ia bingung dengan perasaannya sendiri. Hati dan pikirannya terkadang tidak sejalan.
Yang ia inginkan menghindar dari Toni tapi tapi hatinya berkata lain, ia ingin selalu bersama Toni. Ia masih ingin bersama Toni, tapi rasa sakit dan traumanya yang membuat ia menjaga jarak dengan Toni.
Dengan senyum mengembang Toni masuk ke dalam rumahnya dan diikuti oleh Dina. Toni langsung masuk ke ruang makan, Dina pun mengikuti Toni dari belakang.
"mbok...papa dimana?" tanya Toni mengambil segelas air putih dan meminumnya.
"papa di sini..!" ucap pak Yanuar
Toni dan Dina menoleh ke belakang, menatap seorang pria berumur sekitar empat puluh tahunan yang berjalan masuk ke dalam ruang makan.
Dina terkejut, karena biasanya papanya Toni tak ada di rumah di hari kerja. Dengan perasaan sedikit malu, Dina menghampiri papanya Toni dan menyapanya "siang om..." ucap Dina sopan
"ayo...ayo...duduk...kita makan bersama" ucap papanya Toni sambil menarik kursi makan kemudian mendudukinya
"ayo Din...." ucap Toni sambil menarik kursi untuk Dina
__ADS_1
Dina duduk di kursi yang sudah ditarik oleh Toni. Kemudian Toni duduk di sebelah Dina. Tak lama mbok Nah masuk ke ruang makan dengan membawa semangkuk besar bakso.
Dina dari tadi diam, ia gugup makan siang satu meja bersama papanya Toni. Pak Yanuar yang menegetahui Dina gugup tersenyum "om yang menyuruh Toni mengajakmu makan siang di sini" pak Yanuar menarik kedua sudut bibirnya ke atas
"ah...iya om..." ucap Dina malu-malu
"pasti kamu bertanya-tanya kenapa om di rumah di hari kerja..." ucap Pak Yanuar. Dina hanya tersenyum tak berani mengatakan apapun.
"om ingin bekerja dari rumah satu minggu ini... Dan juga om ingin lebih dekat dengan anak laki-laki om satu-satunya" pak Yanuar menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
"ayo makan...aku sudah lapar..." Toni menyela
"ayo...ayo...kata Toni ini semua makanan kesukaan kamu, ayo makan yang banyak..." ucap pak Yanuar sambil mengambil nasi "ayo Ton...ambilkan untuk Dina, mungkin ia malu"
"iya pa..." Toni mulai mengambilkan nasi untuk Dina
"sudah Ton...cukup..." ucap Dina lirih. Dina merasa canggung dari tadi ia diperhatikan oleh papanya Toni.
Toni kemudian mengambilkan lauk untuk Dina. Dan juga sayur cap cay kesukaan Dina. Kemudian ia mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
"bakso buatan mbok Nah itu maknyus lho Din...ayo kamu coba..." ucap papanya Toni
"iya om..." jawab Dina canggung. Kemudian Dina mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. Mbok Nah masuk ke ruang makan dan membawa beberapa buah mangkok kemudian meletakkannya di meja makan.
"Ton...ambilkan baksonya untuk Dina, mungkin dia malu ada papa di sini" ucap papanya Dina sambil memakan makanannya.
"iya pa..." Toni mengambil mangkok yang tadi di bawa oleh mbok Nah kemudian mulai mengambilkan bakso untuk Dina "kalau kurang nanti aku ambilkan lagi" ucap Toni meletakkan mangkok bakso di hadapan Dina.
"papa sudah selesai, kalian lanjutkan makannya ya..." papanya Toni beranjak dari meja makan dan berjalan ke ruang keluarga.
"kenapa kamu tidak mengatakan kalau papamu di rumah..." bisik Dina
"jika aku mengatakan papa di rumah, kamu pasti tidak mau aku ajak ke sini" Toni terkekeh
"aku malu Ton...." ucap Dina lirih
"kenapa harus malu? Hmm..." tanya Toni lembut "justru papa yang menginginkan kita kembali bersama Din..."
"maksudnya?" Dina mengerutkan dahinya
"papa mendukung hubungan kita" ucap Toni dengan senyum mengembang "sekarang semua aku serahkan kepadamu, aku tidak akan memaksamu, hanya saja ijinkan aku untuk tetap dekat denganmu"
Dina menghela nafasnya, ia tidak menyangka semuanya menjadi rumit. Dirinya tidak menyangka papanya Toni mendukung hubungan mereka. Dina pikir pacaran ya pacaran saja tak perlu orang tua terlibat.
"entahlah Ton... Aku tidak bisa melarang kamu atau siapapun untuk dekat denganku, hanya saja aku masih belum bisa melupakan semua kejadian di masa lalu" Dina menghela nafasnya
"iya aku mengerti, aku akan berusaha menunjukkan kepadamu kalau aku bisa berubah" ucap Toni dengan nada sendu
__ADS_1
Dina dan Toni sudah menyelesaikan makannya, seperti biasa Dina membawa piring-piring kotor ke tempat cuci piring dan mencucinya.
"aduh...non Dina kalau Den Yanuar tahu, mbok bisa kena marah" mbok Nah tergopoh-gopoh menghampiri Dina
"tidak apa-apa mbok, ini cuma piring yang aku dan Toni pakai tadi" ucap Dina dengan menarik kedua sudut bibirnya ke atas
"tapi non....!"
"sudah...mbok tenang saja...." Dina menyunggingkan senyumnya "tumben papanya Toni di rumah mbok"
"oh....itu... Den Yanuar sengaja bekerja dari rumah agar lebih dekat dengan mas Toni dan juga bisa mengenal non Dina" ucap mbok Nah sambil mengeringkan piring-piring yang habis dicuci Dina
"mengenalku? Mengapa?" Dina mengerutkan dahinya
"sepertinya den Yanuar sudah menyukai non Dina pada pandangan pertama" ucap mbok Nah menyunggingkan senyumnya
"memyukai bagaimana mbok?" Dina mencuci tangannya
"ya suka non Dina dekat dengan mas Toni begitu "
"oh...aku kira apa mbok" Dina terkekeh
"tapi non Dina ini memang menantu idaman, sayangnya mbok tidak punya anak laki-laki" mbok Nah terkekeh
"mbok ini bicara apa, aku itu masih SMA mbok....belum saatnya memikirkan pernikahan" ucap Dina tersenyum tulus "sudah ya mbok, aku kembali ke sekolah dulu"
Dina berjalan keluar dari dapur menuju ruang keluarga. Di sana ada Toni dan papanya yang sedang terlibat obrolan ringan.
"kamu dari mana saja Din? om kira kamu sudah kembali ke sekolah" ucap pak Yanuar
"dari dapur, bertemu mbok Nah om" ucap Dina tersenyum canggung
"oh...besok kesini lagi ya... Om ingin ada yang menemani om makan siang" ucap pak Yanuar, Dina hanya mengangguk.
"om Dina pamit kembali ke sekolah dulu ya..." ucap Dina sopan. Toni beranjak dari duduknya dan meraih tangan Dina kemudian menggandengnya.
Pak Yanuar menarik kedua sudut bibirnya ke atas melihat perilaku Toni. Dina tak menepis tangan Toni, justru ia sedang menikmati kebersamaannya dengan Toni.
Sesampainya di depan pintu gerbang sekolah, Dina melepaskan tangan Toni, ia tidak mau ada yang salah paham terhadap hubungan mereka.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1
Please like, vofte dan komennta ya bestie...
Terima kasiih sekebon bestie...