Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 84 Terbakar emosi


__ADS_3

Toni mengemudikan mobilnya dengan hati-hati. Jarak kos Dina dan kos Vanya tak begitu jauh, hanya lima sampai sepuluh menit perjalanan jika tidak sedang ramai. Di dalam mobil lagi-lagi Dina hanya diam, ia tak tak memiliki bahan obrolan dengan Toni.


"hmm...tadi kamu kenapa tiba-tiba terlihat seperti ketakutan?" Toni memecah keheningan di dalam mobil


Dina menghela nafasnya "aku trauma Ton..." ucap Dina lirih


"trauma...?" Toni benar-benar terkejut


"beberapa hari yang lalu, aku dituduh merebut tunangan orang, dan aku dipermalukan di kampus" ucap Dina lirih kepalanya tertunduk. Ia merasa malu jika mengingat peristiwa di kampusnya tempo hari.


Toni meremas stir yang ia pegang "siapa Din?!" Toni begitu marah tidak menyangka Dina mengalami hal yang buruk di kampus barunya.


Dina menoleh menatap Toni "tidak perlu dibahas, masalahnya sudah selesai, lagipula aku sudah memiliki pacar buat apa aku merebut milik orang lain" Dina berusaha tersenyum


"tapi tetap saja itu keterlaluan Din...katakan siapa? Dimana dia tinggal aku akan menghancurkannya!" ucap Toni terbawa emosi. Sifat asli Toni yang Dina tak sukai muncul.


"sudah Ton...kalau kamu marah-marah seperti itu lebih baik aku turun di sini saja" ucap Dina datar


"baik...baik...maaf Din...aku benar-benar emosi mendengar ceritamu" Toni mengalah ia tak mau Dina kembali menghindarinya lagi walaupun dalam hatinya tak terima Dina dipermalukan di depan umum "sekarang kosmu sebelah mana? Ini sudah sampai depan kampusmu"


"di depan kamu belok saja ke kiri terus belok ke kiri lagi" ucap Dina datar


Toni mengikuti petunjuk Dina ia menyetir dengan sangat hati-hati agar tidak terlewat. Pelan-pelan Toni menyusuri jalan "kos kamu yang mana Din?"


"itu rumah nomor dua dari perempatan depan, sebelah kanan jalan Dina menunjuk ke arah kosnya


"yang warna kuning itu?" Toni menatap ke arah yang ditunjuk Dina


"iya benar"


"sepertinya ibu kos kamu punya warna favorit yang sama dengan kamu" Toni terkekeh

__ADS_1


"masih ingat saja kamu Ton" Dina tersenyum


"enggak ada yang aku lupa Din"


Toni menghentikan mobilnya dan memarkirkannya di seberang kos Dina. Belum juga ia membukakan pintu mobil untuk Dina, Dina sudah turun dari mobilnya. Toni hanya bisa menghela nafasnya. Ia ingin memanjakan Dina, namun ia lupa jika Dina adalah cewek yang mandiri.


Toni membantu mengambil barang-barang Dina yang terletak di kursi belakang. Dina mengambilnya dari tangan Toni "aku bisa membawanya sendiri Ton"


"kamu sedang sakit Din, aku bantu ya..." ucap Toni lembut dan mengambil kembali tas Dina dan memanggul ransel Dina. Dina berjalan santai melewati cowok yang sepertinya Toni kenal yang berdiri di depan mobilnya menatap nyalang pada Toni.


Dina membuka pintu kosnya kemudian ia masuk dan membuka pintu kamarnya. Toni pun juga masuk mengikuti Dina "ini aku letakkan dimana?"


"letakkan saja di dekat meja itu" Dina menunjuk ke arah meja belajarnya. Toni masuk ke dalam kamar Dina dan meletakkan tas yang ia bawa ke tempat yang ditunjuk oleh Dina.


"Din...aku mau tanya sesuatu" Toni ragu mengatakannya


"apa?"


"iya...sebelum kamu tanya apa aku kembali dengannya aku jawab dulu, aku tidak bersamanya, dia kakak tingkatku satu jurusan denganku" terang Dina yang tau kemana arah pertanyaan Toni.


"oh...begitu...aku ke mobil dulu sebentar" ucap Toni lega kemudian ia meninggalkan Dina dalam kamarnya.


Dina menghela nafasnya "situasi macam apa ini? Kenapa mereka harus bertemu" batin Dina


Dina keluar dari kamarnya, dan menemui Bimo. Ada sedikit perdebatan di antara mereka. Toni yang melihatnya buru-buru menghampiri mereka berdua.


"Dina sedang sakit, biarkan dia istirahat" ucap Toni datar mendekat ke arah Dina. Tatapan Toni dan Bimo beradu seolah-olah mereka berdua adalah musuh bebuyutan.


"Toni benar mas, lain kali saja, aku mau istirahat" ucap Dina menengahi ketegangan di antara mereka berdua


"ini ada titipan dari mbok Nah...." Toni menyerahkan tas yang berisi beberapa kotak makanan "dan ini dari papa, katanya ini vitamin agar kamu tidak mudah sakit" Toni menyerahkan paperbag kecil

__ADS_1


"memangnya om Yanuar tahu kalau kamu pergi denganku?" Dina mengerutkan dahinya sambil menerima barang-barang yang diberikan oleh Toni.


"iya....karena harusnya aku sudah berangkat dari tadi pagi makanya papa bertanya-tanya" Toni terkekeh


"sampaikan terima kasihku untuk om Yanuar dan mbok Nah" Dina mengembangkan senyumnya


"kata mbok Nah...itu isinya makanan kesukaan kamu semua dan ada juga sup obat, oh...iya...di dalam paperbag itu ada obat demam jangan lupa diminum kalau masih merasa tidak enak badan" ucap Toni menunjukkan perhatiannya


"iya...iya...kamu seperti mamaku" Dina terkekeh "terima kasih sudah memberiku tumpangan" Dina tersenyum tulus.


"aku pulang dulu, sebaiknya kamu makan terus istirahat, badan kamu masih demam" ucap Toni lembut


"iya...sekali lagi terima kasih..." Dina mengembangkan senyumnya. Toni pun berbalik berjalan ke mobilnya. Ia masuk ke dalam mobilnya dan menatap ke arah kos Dina.


Ia ingin memastikan Dina tak pergi dengan Bimo. Ia tak rela Dina pergi dengan cowok lain. Setelah memastikan Dina masuk ke dalam kos dan mobil Bimo pergi Toni pun juga pergi.


Toni melajukan mobilnya ke rumahnya yang berada di kota J. Ia tak akan lama di sana karena besok siang ia harus kuliah. Dari tadi ponselnya terus berbunyi namun ia abaikan ia tahu siapa yang menelponnya.


Ia lelah menghadapi Andini, yang tak seperti Dina meski sedang sakit tapi tak mau merepotkan dirinya. Bahkan Dina tak pernah meminta dibelikan apapun padanya.


Kos Dina tak jauh dari rumah yang baru saja ia beli. Toni merasa takdir sedang berpihak padanya. Kos Dina dan rumahnya berdekatan, namun ia kembali teringat jika tiap hari Sabtu Minggu Dina pulang ke kota K sedangkan dirinya berada di kota J.


Harapannya sedikit hilang ia tak bisa leluasa bertemu Dina. Apalagi Toni bertekat untuk bisa lulus dalam waktu tak lebih dari tiga setengah tahun dan setelah itu ia mengambil program magister.


Setelah berpikir lagi, Toni memutuskan untuk mengambil program magister di universitas B. "Semoga kamu belum lulus Din....tunggu aku dua tahun lagi" gumam Toni.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2