
Hari-hari berlalu, ujian kelulusan mereka semakin dekat. Baik Toni maupun Dina sama-sama sibuk mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi ujian penentu kelulusan mereka.
Toni masih mengawasi Dina dari jauh. Terkadang ia membuntuti Dina kemanapun ia pergi. Jika ternyata Dina pergi dengan Dendy atau dengan Widi, Toni akan meninggalkan Dina.
Tapi ketika Dina berkendara sendirian, Toni akan mengikuti Dina dari jarak tang tidak disadari Dina. Toni hanya ingin memastikan Dina baik-baik saja dan selamat sampai di tujuannya.
Toni menyadari jika menampakkan dirinya di depan Dina, pasti Dina akan semakin menghindarinya. Toni memilih untuk menjauh dan memberikan Dina ruang untuk menyembuhkan luka-lukanya.
Toni ingin menghilangkan trauma dari hati Dina. Dirinya mengikuti saran Roy.
"menjauhlah dari Dina, berikan dia ruang untuk menyembuhkan luka-lukanya, jangan pernah kawatir, aku tahu Dina masih menyayangimu, ia hanya butuh waktu, lagipula biarkan dia fokus mengejar cita-citanya. Kamu juga kejar cita-citamu, selesaikan kuliah kamu lebih cepat dari Dina, bekerjalah meskipun kamu sekarang sudah memiliki penghasilan dari mengurus bisnis papamu, tapi Dina tak akan mau dengan cowok yang hanya mengadalkan orang tuanya, Dina akan menghargaimu jika kamu bisa berdiri di atas kakimu tanpa bayang-bayang orang tuamu"
Kata-kata Roy yang selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Ia mencoba mengikuti saran Roy untuk sementara waktu menjauh dari Dina. Ia ingin memperbaiki dirinya seperti kata Roy.
Dina lebih menghargai cowok yang mandiri. Dina tidak menyukai cowok yang suka memanfaatkan apa yang dimiliki orang tuanya. Toni bertekat untuk lulus secepat mungkin, dan mencari pekerjaan agar Dina bangga pada dirinya.
Meskipun sekarang Toni telah dipercayakan membantu mengelola salah satu kantor cabang perusahaan papanya yang berada di kota J. Toni masih dalam tahap belajar, jika ada waktu senggang ia pergi ke kota J untuk belajar dengan salah satu kepercayaan papanya.
Kantor yang tidak terlalu besar, papanya sengaja menyuruh Toni untuk belajar mengelola kantor tersebut agar Toni punya pengalaman di saat ia telah lulus kuliah nanti.
Tak ada yang mengetahui hal itu, hanya papanya, kakaknya dan juga Roy yang mengetahui hal itu. Bahkan mamanya tak mengetahuinya, papanya tak ingin jika mamanya mengetahui jika Toni belajar mengurus perusahaan papanya.
__ADS_1
Dengan alasan, jika mamanya tahu, ia takut Toni akan dimanfaatkan oleh mamanya untuk bisa masuk ke partai politik dimana mamanya bernaung. Biarlah yang mamanya tahu Toni hanya suka bermain basket, pergi dengan teman-temannya seperti anak seusia mereka.
Ujian akhir tinggal menghitung hari, Toni termasul siswa yang cerdas, ia yakin jika dirinya pasti lulus dengan nilai memuaskan. Ia tak ingin Dina memandangnya sebelah mata.
Meski berada di kelas IPS, Toni termasuk siswa berprestasi di kelasnya. Memang itu yang ia inginkan, masuk di kelas IPS karena ia tak menyukai pelajaran kimia dan fisika. Nilai-nilai Toni bagus di mata pelajaran ekonomi dan akuntansi.
Minggu terakhir sebelum hari ujian akhir, Toni pergi ke kantin belakang kelasnya. Ia melihat Dina sedang asyik makan nasi pecel favoritnya. Ada rasa ragu untuk masuk ke kantin itu. Ia telah bertekat untuk menjauh dari Dina, tapi melihat Dina yang duduk sendiri ada rasa rindu yang amat sangat.
Ia rindu bisa mengobrol dengan Dina meski hanya sebentar. Ia rindu kebersamaannya dengan Dina.
"Din..." Toni memberanikan diri untuk menghampiri Dina dan berdiri di samping Dina. Dan ternyata Dina sudah selesai makan.
"iya Ton..." ucap Dina datar
"siap tidak siap harus siap Ton" Dina terkekeh
"semangat ya Din... Semoga lancar dan lulus dengan nilai bagus" ucap Toni dengan senyum mengembang
"terima kasih Ton" ucap Dina kemudian berlalu meninggalkan Toni membayar makanannya kemudian meninggalkan kantin. Dengan tatapan sendu Toni menatap punggung Dina yang berjalan menjauh darinya.
Dina yang selalu ceria, selalu baik bahkan tidak pernah membalas orang-orang yang telah menyakitinya menjadi acuh terhadapnya. Dina hanya berbicara seperlunya kepadanya. Memang semua itu salahnya menyesalpun sudah tak ada gunanya.
__ADS_1
Toni bertekat setelah mereka lulus nanti, dan bisa membuktikan bahwa dirinya adalah cowok yang mandiri, ia akan mendekati Dina perlahan. Ia berharap tidak ada Widi yang menjadi pelindungnya atau siapapun yang menjadi pacar Dina.
Toni pun keluar dari kantin, selera makannya hilang karena Dina telah lebih dulu meninggalkan kantin. Dengan langkah gontai ia kembali masuk ke kelasnya.
Ia merasa kesepian, hari ini Roy tidak masuk karena sakit. Ia ingin berbicara mengeluarkan keluh kesahnya, tapi tak ada Roy. Toni memutuskan untuk pergi ke perpustakaan, ia mencari hiburan dengan membaca ensiklipedi atau buku-buku lainnya.
Ia sebenarnya tak suka membaca, tapi karena tekat kelak bisa lulus kuliah dengan cepat, mulai dari sekarang ia membiasakan dirinya untuk membaca.
Bahkan ia akan kuliah dimana sampai sekarang ia masih belum memutuskan. Ia ingin kuliah di kampus bagus tapi dosen-dosen pengajarnya bisa mudah diajak untuk berdiskusi. Ia belum mendapat informasi tentang kampus yang ia inginkan itu.
Bisa saja ia kuliah di kampus tempat kakaknya kuliah, tapi kakaknya pasti tidak akan mau kalau ia kuliah di sana. Alasannya sederhana, ia tak mau dimata-mati oleh adiknya.
.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1
Jangan lupa ritualnya ya bestie