
Hari-hari berlalu, Dina dan Toni semakin dekat. Dina tidak mau terlalu berharap dengan Toni, meskipun ia merasakan perhatian lebih dari Toni. Sebisa mungkin Dina menganggap Toni teman baiknya.
Dina hanya tidak ingin ketika ia sudah benar-benar jatuh cinta pada Toni tapi Toni malah mengabaikannya. Dina pikir biarlah ia dan Toni berteman baik.
Karena ia tidak ingin terlalu berharap dengan Toni, perlahan Dina menjaga jarak dengan Toni. Dina mulai berbaur dengan teman-teman sekelas yang lain.
Dina juga mulai dekat dengan Widi, cowok pendiam yang tidak banyak berbicara, yang mengungkapkan perhatiaannya lewat tindakan bukan kata-kata.
Berteman juga dengan Angga, cowok cerewet yang suka menggosip yang tidak pernah memasukkan segala ledekan temannya ke dalam hatinya.
Perubahan Dina itu dirasakan oleh Toni. Yang biasa jika istirahat atau menunggu antar pelajaran selalu mengobrol dan bercanda, kini Dina lebih sering menyibukkan diri dengan membaca.
Kebiasaan Dina waktu SMP kembali lagi, lebih suka menyibukkan diri dengan membaca ketimbang bercanda dengan teman-teman sekelasnya.
"Roy...Dina kenapa?" bisik Toni waktu jam pelajaran Fisika berlangsung
"memangnya kenapa?" jawab Roy dengan bisikan juga
"kenapa sekarang dia lebih pendiam, dan lebih sering membaca buku daripada bercanda sama kita" ucap Toni berbisik agar tidak dindengar oleh siapapun
"dari dulu Dina memang begitu Ton...di kelas ya begitu membaca, kalau tidak ya ke perpustakaan" jawab Roy santai yang memang sudah mengetahui tabiat Dina
"masak sih?" tanya Toni
"ya...mungkin karena sekarang pelajaran sudah mulai penuh, jadi dia kembali seperti dulu" jawab Roy sambil mengedikkan bahunya
Toni merasa tidak puas dengan jawaban Roy. Ia masih merasa Dina berubah. Bagi yang mengenal Dina sejak dulu sudah tahu kalau Dina memang lebih suka membaca buku ketimbang bercanda dengan teman-temannya.
Apalagi jika teman-teman yang tidak terlalu dekat dengan Dina. Tapi jika diminta bantuan, Dina pasti dengan senang hati membantunya.
Jam istirahat kedua telah tiba. Toni berusaha mengajak Dina ke kantin seperti biasa. Tapi ditolak secara halus oleh Dina dengan alasan ada catatan yang belum sempat ia selesaikan.
Toni heran, biasanya Dina selalu rajin dan mencatat lebih cepat dari Dia, Rani dan Roy. Toni masih tidak percaya dengan jawaban Dina. Toni berpura-pura keluar sebentar, ia ingin mengetahui apakah Dina benar-benar menyelesaikan catatannya atau tidak.
Toni pergi ke kantin, dan membeli es jeruk kesukaan Dina. Kemudian ia kembali ke kelas, dia ingin membuktikan jika perasaannya benar. Dina sedang menghindari dia.
Toni masuk ke kelas dan mendapati Dina masih di mejanya dengan buku-buku yang masih terbuka di hadapannya. Toni sedikit lega karena kecurigaannya tidak beralasan.
Tapi di sana ada Widi yang duduk di kursi depan Dina dan menemani Dina yang sedang menulis. Sesekali mereka mengobrol dan bercanda yang membuat Dina tersenyum bahkan tertawa.
Toni merasakan sesak di dadanya. Ia kemudian berjalan ke arah tempat duduk Dina.
"ini Din...minum dulu" Toni menyodorkan es jeruk yang dibungkus plastik
__ADS_1
"eh...Ton...terima kasih" ucap Dina mengambil es jeruk dari tangan Toni.
"masih belum selesai?" tanya Toni
"sudah...hanya merapikan catatan saja...biar enak dibacanya" ucap Dina tersenyum
"Din...aku ke kantin dulu ya..." pamit Widi
"eh...iya Wid...makasih ya...sudah dipinjami catatan" ucap Dina dengan senyum mengembang.
Widi berjalan meninggalkan mereka berdua, kelas dalam keadaan kosong hanya mereka berdua saja yang berada di dalam kelas.
"kenapa kamu tidak pinjam catatanku Din..." tanya Toni dengan nada sedikit cemburu
"pinjam kamu? kamu saja tidak mencatat masak iya aku pinjam kamu" Dina terkekeh
"hah...aku mencatat Din...semuanya aku catat" Toni mulai tidak terima jika dikatakan tidak mencatat
"tadi yang aku lihat kamu dan Roy berbisik-bisik, mana mungkin kamu mencatat semuanya" Dina terkekeh
"ehh...hmmm....anuu...." Toni menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"benarkan....apa kataku?" tanya Dina dengan raut wajah jahil
Dina kembali fokus dengan buku yang ada di depannya. Dia tak menghiraukan Toni lagi. Dina berusaha mengurangi interaksi dengan Toni. Ia tahu jika Toni mulai menyadari dengan perubahan sikapnya.
Selama pelajaran, Toni tidak fokus ia tak tenang melihat Dina yang benar-benar serius memperhatikan penjelasan guru. Bel tanda istirahat jam sore telah berbunyi, Dina tidak segera merapikan barang-barangnya.
"kamu tidak istirahat Din?" tanya Rani
"iya sebentar Ran.." jawab Dina datar
"Din....ayo ke kantin..." ucap Toni yang sudah berdiri di sebelah meja Dina
"kamu duluan saja Ton...aku masih mau ke toilet sebentar" ucap Dina beralasan
"baiklah...aku tunggi di depan ya..." jawab Toni
"kamu tidak pulanh? Rumah kamu kan dekat!" tanya Dina
"iya...gampang..." ucap Toni tersenyum mengembang
"Ton... Ke rumahmu saja yuk...." ucap Roy yang sebenarnya ingin menumpang makan
__ADS_1
"tapi Dina...?!" Toni bingung
"Din...nanti kamu menyusul kita ya...dengan Rani" ucap Roy dengan wajah memohon
"iya...iya...nanti kita susul" ucap Dina
Akhirnya Toni mengikuti keinginan Roy. Ia tahu Roy memang suka dengan masakan bibi di rumahnya. Sedangkan Dina merasa lega, Toni tidak jadi menunggu dirinya.
"Ran...kamu bawa motor tidak hari ini?" tanya Dina
"bawa...memangnya ada apa?" tanya Rani heran
"antar aku ke rumah budeku ya Ran..." ucap Dina dengan wajah polosnya
"katanya ke rumah Toni...?" tanya Rani heran
"aku baru ingat, ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan budeku Ran.." kilah Dina
"oh...ya Sudah...ayo aku antar..." ucap Rani
Mereka berdua berjalan ke arah tempat parkir motor yang berada di gedung utara, dekat dengan ruangan kelas tiga. Rani mengantarkan Dina ke rumah budenya Dina.
Sebenarnya Rani heran, tadi Dina mengatakan akan ke rumah Toni, tapi tibah-tiba berubah pikiran. Rani mulai berpikir, akhir-akhir ini Dina kembali seperti waktu SMP. Suka menyibukkan dirinya sendiri.
Sedangkan Roy juga kebingungan menghadapi Toni yang menjadi sedikit uring-uringan.
"kamu ini sebenarnya ada apa sih Ton...seperti cewek yang sedang pms saja?" ucap Roy sambil makan sop ayam di rumah Toni
"Dina Roy...sepertinya dia menghindariku" ucap Toni dengan tatapan sendu
"menghindar bagaimana Ton...?" tanya Roy
"ya seperti sekarang...biasanya aku ajak ke kantin dia mau-mau saja, tapi akhir-akhir ini ada saja alasan dia" ucap Toni yang sambil meneguk minumannya
Roy memikirkan kata-kata Toni, tapi semakin ia berpikir, semakin tidak mendapatkan jawabannya. Ia masih merasa jika Dina memang seperti itu. Tidak ada yang berubah dari Dina.
.
.
B e r s a m b u n g
yuk...yang belum pencet tombol favorit pencet dulu ya...
__ADS_1
Jangan lupa, like, vote dan komennya ya...
Terima kasih sekebon bestie