
Setelah selesai makan, mereka pun duduk sejenak di ruangan itu, menatap tumpukan kado yang berada di dalam ruangan itu. Semalam mereka tak melihat tumpukan kado-kado itu di sana.
Dina beranjak berdiri sedikit meringis, ia merasa sedikit ngilu di badannya, Toni yang melihatnya itu langsung menghampiri Dina "mau kemana?"
"aku mau memakai bajuku dulu" ucap Dina karena sejak tadi ia sama sekali belum memakai baju, hanya memakai bathtrobe saja.
"nggak usah pakai baju, toh sebentar lagi akan dilepas lagi" Toni mneyeringai
"apa?!" Dina membulatkan matanya
"nggak perlu berteriak sayang...." goda Toni
Dina mengerucutkan bibirnya "kenapa juga kamu menjadi mesum begini" Dina terlihat sangat lucu di mata Toni semakin membuat ia gemas dan ingin sekali memakannya lagi.
"bukankah sejak dulu begini? Kenapa kamu baru menyadarinya hemm? Kalau nggak aku cicil dulu mana mau kamu menikah dengaku" Toni semakin menggoda Dina
"tapi nggak begini juga...aku tidak boleh pakai baju, terus dari tadi kita belum keluar kamar" Dina semakin mengerucutkan bibirnya
Toni tergelak, Dina terlihat semakin lucu, kemudian menyambar bibir Dina ********** sekilas. "Jangan begitu lagi nanti aku tidak bisa menahannya lagi" goda Toni
Dina melayangkan tatapan tajam pada Toni, ia kesal Tono benar-benar menepati ucapannya akan mengurung Dina seharian.
"apa milikmu sakit?" Toni mencium puncak kepala Dina seraya memeluk Dina yang sedang duduk dari belakang
"sudah lebih baik, hanya saja tadi pagi aku merasa seperti baru pertama kali melakukannya" ucap Dina
"aku merasakannya semalam, benar-benar menggigit" goda Toni
"sementara kita tinggal di sini kamu tak apa kan?" ucap Toni
__ADS_1
"di sini? Memangnya boleh?" Dina mengerutkan dahinya
"kenapa nggak boleh, memangnya siapa yang melarang?" Toni terkekeh
"terserah kamu, aku akan berada dimana kamu berada" Dina menyandarkan kepalanya pada tangan Toni.
Siang menjelang sore itu mereka habiskan dengan bermesraan di balkon kamar hotel tersebut. Menatap pemandangan kota K dari atas hotel itu.
Sungguh damai rasanya, Dina merasa menikah dengan Toni adalah sebuah pilihan yang tepat. Ia tak mau lagi memikirkan Dendy meskipun nama itu masih terukir jauh di dalam hatinya. Ia merasa tidak salah memilih Toni, karena menikah dengan orang yang mencintainya lebih baik daripada ia harus memperjuangkan cintanya yang entah apakah bisa atau tidak diperjuangkan.
Hingga sore menjelang, mereka masih duduk di sana berpelukan menikmati semilir angin yang menyejukkan. "sayang aku mau makan mie ayam" rengek Dina
"baiklah kamu tunggu sebentar" Toni berjalan masuk kemudian mengangkat gagang telepon dan meminta untuk dibawakan dua porsie mie ayam untuk mereka berdua.
Tak lama apa yang mereka pesan pun datang, Toni menggendong Dina masuk ke dalam untuk memakan apa yang diinginkan istrinya itu. Toni memperlakukan Dina seperti ratu. Ia menyuapi Dina memakan mienya itu
Lima belas menit kemudian mereka telah selesai makan, Toni membereskan mangkok bekas mereka makan dan meletakkannya di dekat pintu
"ah...iya sudah menjelang malam" Dina pun berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Mereka berdua mandi bersama, diselingi canda tawa dan saling menggoda, dan akhirnya terjadilah apa yang biasa pengantin baru lakukan. Kegiatan panas itu pun terulang lagi di dalam kamar mandi. Hingga satu jam kemudian, Dina keluat dengan mulutnya mengerucut, ia kesal karena lagi-lagi Toni tak bisa menahan dirinya.
Dina berjalan mencari tasnya, ia mengambil pil yang biasa ia minum, ia menghitungnya harusnya sekarang saatnya ia datang bulan namun ia masih bisa bercinta dengan Toni, sedikit terbesit kakawatiran jika ia hamil, namun ia menepisnya karena memang siklusnya beberapa bulan ini kacau, ia sudah berkonsultasi dengan dokter dan itu wajar karena stress dan kelelahan.
Toni menatap sendu dari jauh, ia pikir Dina sudah tak lagi meminum pil itu, namun nyatanya ia masih meminumnya. Ia juga tak ingin terlalu memaksa Dina, ia ingin Dina bahagia bersamanya.
"sayang...kita makan malam di sini atau di bawah?" tanya Toni melingkarkan tangannya di pinggang ramping Dina
"di sini saja, aku lelah..." ucap Dina yang memang terlihat kelelahan
__ADS_1
"baiklah...aku akan meminta makanan kita diantar ke sini" ucap Toni kemudian menelpon bagian dapur untuk dibawakan makan malam untuk mereka.
Setelah mereka makan malam, Toni mengajak Dina beristirahat ia melihat Dina yang terlihat benar-benar lelah. Ada rasa bersalah dalam hati Toni karena telah membuat Dina kelelahan.
"beristirahatlah...besok siang kita akan berangkat berbulan madu" ucap Toni menarik Dina ke dalam pelukannya
"kemana?" tanya Dina antusias
"kamu mau kemana?" tanya Toni
"hmm....aku ingin keliling eropa" ucap Dina menyembunyikan wajahnya di dada Toni
"baiklah...tapi sebelum itu ada satu tempat yang harus kita kunjungi terlebih dahulu" ucap Toni mengeratkan pelukannta
"serius? Aku hanya bercanda sayang" Dina mendongakkan wajahnya
"kenapa? Semuanya sudah dipersiapkan oleh papa, ini hadiah pernikahan dari papa untuk kita sayang...." ucap Toni mnegecup puncak kepala Dina
"tapi aku belum mengemasi pakaianku" ucap Dina lirih
"Vanya sudah menyiapkan semuanya, kamu tidak usah kawatir" ucap Toni membelai rambut Dina.
"baiklah..." ucap Dina kemudian memejamkan matanya. Mereka berdua tidur berpelukan sama-sama tidak memakai pakaian karena permintaan Toni. Lagi pula Dina juga kebingungan dimana kopernya berada, seingatnya Ani membantunya membawa koper berisi pakaian miliknya namun ia tidak menemukan kopernya sama sekali di kamar itu.
Dina hanya bisa mengiyakan permintaan Toni. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjadi istri yang baik dan patuh pada suaminya.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g