
Dua hari berlalu, hari ini hari Senin, sehari sebelum hari kemerdekaan Republik Indonesia. Karena tidak ada upacara, Dina berangkat sedikit lebih siang dari biasanya.
Pukul tujuh kurang sepuluh menit Dina telah sampai di sekolah. Sebagian besar siswa di kelas Dina sudah datang dan sedang berkumpul di depan kelas membahas pertandingan final basket yang akan diselenggarakan hari ini.
Pertandingan final basket antara kelas Dina dan kelas 1F. Mereka mulai membahas strategi permainan mereka agar bisa memenangkan pertandingan nanti.
Dina masuk ke dalam kelas dan duduk di kursinya. Menunggu Rani datang Dina mengobrol dengan Santi yang duduk di depannya. Bel berbunyi, semua siswa masuk ke kelas.
"aku kira kamu tidak masuk Ran..." gerutu Dina waktu Rani buru-buru masuk
"aku sudah datang dari tadi, tapi ikut anak-anak ngobrol di depan" ucap Rani sambil meletakkan tasnya di meja.
"oh...hari ini sepertinya tidak ada pelajaran ya..." ucap Dina
"iya...hari ini final, pasti ramai... Anak-anak yang mau bertanding sudah ke lapangan dari tadi" ucap Rani menggebu-gebu
"oh...pantas saja..." Dina menoleh ke belakang lalu ke kanan dan kirinya
"kamu cari Toni?" tanya Rani
"tidak...." kilah Dina
"Toni tadi ada di depan, mungkin sekarang sedang ganti baju" terang Rani "ayo Din kita ke lapangan saja..." Rani menarik tangan Dina dan menyeret Dina agar mau segera pergi ke lapangan.
Di lapangan sudah ramai, siswa-siswa kelas lain sudah berkumpul di lapangan. Dina duduk di dekat tangga sambil membawa sebotol air mineral.
Melihat Dina yang sudah duduk di barisan penonton, Roy berjalan menghampiri Dina.
"Din...kamu sudah datang?" tanya Roy
"belum..." Dina mencebik
"kamu itu....dicari Toni dari tadi" ucap Roy sambil melihat ke arah Toni yang sibuk mengobrol dengan teman-teman satu timnya.
"kamu salah...Toni tidak mencari aku " Dina menatap ke arah Toni
"Ton...Toni...!!" teriak Roy, dan yang dipanggil langsung menatap ke arahnya.
Toni pun segera berlari ke arah Roy dan Dina dengan senyum mengembang.
"apa Roy?" tanya Toni
"ini Dina..." ucap Roy menatap ke arah Dina, sedang Dina mengerutkan dahinya.
Toni menarik tangan Dina, dan mengajaknya menjauh dari Roy dan Rani.
"ada apa Ton?" tanya Dina
"hmmm....Din...hmmm...."
__ADS_1
"iya ada apa?" Dina mengerutkan dahinya
"soal yang kemarin bagaimana?" tanya Toni dengan jantung yang berdegup kencang
"soal apa Ton?" Dina mengerutkan dahinya
"Toni....!!" teriak Roy dari kejauhan
"aku butuh jawabannya Din..." ucap Toni masih belum melepaskan tangan Dina dengan jantung yang berdegup luar biasa "apa jawabanmu?"
"kalau aku jawab sekarang, kamu janji apapun jawabanku tidak akan mempengaruhimu saat bertanding..?" ucap Dina dengan senyum yang ditahan
Toni merasa makin gugup, ia berpikir Dina akan menolaknya mendengar ucapan Dina yang baru saja ia dengar.
"Toni...!! Ayo...pertandingan mau dimulai!!" Teriak Roy
"ayo Din...apa jawaban kamu, aku terima apapun itu!" Toni dengan tatapan mengiba dan cemas
"iya Ton..." ucap Dina dengan senyum mengembang
"apa Din...?!" ucap Toni dengan wajah terkejutnya
"iya Ton...aku mau...!" ucap Dina dengan menahan ketawa melihat ekspresi Toni yang antara senang dan bingung
"yes..!! Terima kasih...aku mau bertanding dulu!" Toni dengan senyum yang mengembang tiada henti berlari meninggalkan Dina sendiri ke arah teman satu timnya.
Dina kemudian berjalan ke tempat duduknya kembali ke sebelah Rani.
"tidak apa-apa, hanya minta diberi semangat saja" ucap Dina dengan senyum mengembang
"oh...aku kira Toni minta jawaban" ucap Rani kemudian menatap ke arah lapangan karena pertandingan sudah akan dimulai.
Dina hanya tersipu mendengar ucapan Rani, dan saat itu juga Toni menatap ke arahnya dengan senyum mengembang.
Sepanjang pertandingan babak pertama, mata Dina tak lepas dari memperhatikan Toni. Ia bahagia akhirnya perasaannya dapat terbalas. Toni pun juga sama selama pertandingan ia mencuri-curi pandang ke arah Dina.
"Permainan Toni bagus sekali Din...dia tampak semangat sekali" ucap Rani sambil melihat ke arah lapangan
"iya Ran..."jawab Dina singkat
Babak pertama pun selesai dengan skor kelas Dina jauh di atas kelas 1F. Toni berlari ke pinggir lapangan bersama teman-teman satu timnya. Kemudian ia berlari menghampiri Dina.
Dina menyodorkan air mineral yang dibawanya untuk Toni. Toni menerimanya dan meminumnya hingga tandas. Rani memperhatikan interaksi keduanya.
"Din...duduknya pindah ke sana saja..."ucap Toni sambil menunjuk tempat dekat timnya beristirahat
"aku di sini saja Ton" ucap Dina dengan senyuman
"ayolah Din..." Toni menarik tangan Dina dan mengajaknya ke sebuah kursi yang tadi ia duduki sebelum bertanding.
__ADS_1
"kenapa Dina duduk di sini?" protes Bian teman satu tim Toni
"biarkan Dina di sini, kasihan duduk di sana panas..." ucap Toni datar menatap ke arah Bian.
"jadi sudah ada jawaban?" bisik Roy ditelinga Toni, dan dijawab anggukan oleh Toni
"pantas saja mainnya ngebut..." Roy mencebik
Dina menatap ke arah Roy dengan tatapan bingung, apa yang mereka bicarakan kenapa tiba-tiba Roy berucap seperti itu. Dina menoleh ke arah Bian yang menatapnya dengan tatapan tidak suka.
Pertandingan dilanjutkan kembali, Toni semakin bersemangat bermain. Rani menyusul Dina dengan penuh rasa ingin tahu.
"Din...aku haus ke kantin yuk..." ucap Rani
"ah...iya...aku juga mau beli minum buat Toni..." ucap Dina santai
"jadi...." ucap Rani dengan tatapan penuh tanda tanya
"apa Ran...?" Dina beranjak dari duduknya dan berjalan ke kantin bersama Raani
"jadi kalian sudah pacaran...?" tanya Rani antusias
"he em..." jawab Dina dengan senyum mengembang
"wah...perlu ada syukuran nih...biar awet..." ucap Rani terkekeh
"ada-ada saja kamu ini..." ucap Dina sambil memesan es jeruk dan mengambil satu botol air mineral untuk Toni.
Setelah es jeruk miliknya dibungkus oleh ibu kantin, Dina dan Rani kembali ke tempat duduk Dina tadi. Ia memperhatikan Toni yang seperti sedang mencarinya. Saat pandangan mereka beradu Toni tersenyum lega, dan kembali melanjutkan pertandingannya.
Pertandingan telah selesai, dan dimenangkan oleh kelas Dina dengan skor yang terpaut jauh dari skor kelas 1F. Toni menghampiri Dina dan menyambar botol yang dipegang Dina.
"untukku kan?" Toni membuka tutup botol minuman tersebut
"belum juga dijawab sudah diminum" Dina mencebik
"aku haus Din...lagian kamu tidak memberi aku selamat" ucap Toni sambil meneguk minumannya
"iya...iya...selamat atas kemenangannya" Dina kesal
Toni tersenyum melihat Dina yang sedang kesal. Kemudian ia mengusap puncak kepala Dina dengan tatapan bahagianya.
.
.
B e r s a m b u n g
Yang belum memasukkan ke dalam favorit, pencet dulu tombol favoritnya ya bestie
__ADS_1
Ditunggu like, vote dan komennya ya terima kasih sekebon bestie