Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 105 Kedinginan


__ADS_3

"aku ingin kuliah mencari ilmu sekalian mencari relasi bisnis, aku ingin memilik usaha sendiri, meskipun kecil tapi bukan di bawah wijaya grup" ucap Toni menerawang jauh


"berarti kamu sudah tahu jawabannya" Dina tersenyum menatap ke arah depan


Mereka berdua menikmati pemandangan dari atas bukit. Malam semakin larut udara semakin dingin, meski Dina sudah memakai jas milik Toni namun ia masih merasa kedinginan.


"kamu kedinginan?" tanya Toni lembut, melihat Dina yang tampak gelisah "ayo kita pulang...."


"iya dingin...tapi aku ingin berlama-lama di sini, sudah lama sekali aku tidak menikmati pemandangan malam seperti ini" ucap Dina masih menatap ke depan


"kalau begitu...ijinkan aku ya..." Toni menarik bahu Dina dan memeluknya, Dina menoleh menatap Toni "maafkan aku..." ucap Toni melihat tatapan Dina yang sulit diartikan


Dina tersenyum "terima kasih"


Toni mengembangkan senyumnya mendengar ucapan Dina, ia mengira Dina akan marah padanya, semua diluar dugaannya. Toni mengeratkan pelukannya, meskipun saat ini status mereka tidak jelas, namun bisa memeluk Dina adalah hal yang benar-benar membuatnya bahagia.


"entah kenapa, aku merasa nyaman dalam pelukanmu Ton" batin Dina


"apakah kamu mulai membuka hatimu untukku Din?" batin Toni


Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Mereka larut dalam pikiran masing-masing, menikmati suasana malam yang sudah sangat lama tak bisa Dina nikmati.


Lama mereka berdiam, Toni merasa kedinginan tapi ia tak mau membuat Dina kawatir. Ia berusaha sekuat mungkin menahan rasa dingin yang menusuk tulangnya. Ia rela memberikan jas nya untuk Dina agar tidak kedinginan.


"kamu kedinginan?" Dina menatap Toni


"aku baik-baik saja..." Toni tersenyum


"kita pulang saja kalau begitu..." Dina menegakkan tubuhnya


"pulang? Kamu yakin?" tanya Toni lembut


"yakin enggak yakin, Ton...enggak tahu si bapak resek itu masih nongkrong di depan kos apa enggak..." ucap Dina lesu "tapi kamu kedinginan, lagipula kamu pasti capek bolak-balik dari sini ke kota K"


"aku baik-baik saja selama bersama kamu" ucap Toni lembut menatap Dina dengam tatapan penuh arti.


Dina menghela nafas, jawaban Toni baru saja membuat ia sedikit kesal. Toni mendadak terlihat menggigil meskipun tidak terlalu terlihat, namun Dina kawatir.


"ayo pulang Ton...aku menginap tempatmu lagi boleh kan?" Dina mengalah, ia tak mau Toni jatuh sakit karena dirinya.

__ADS_1


"aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu Din, kenapa kamu malah mengajak pulang?" Toni sedikit kecewa


"lain kali kita bisa ke sini lagi..." ucap Dina datar


"baiklah...ayo kita pulang..." Toni berdiri mengulurkan tangannya kepada Dina. Dina menyambut uluran tangan Toni, ia berdiri dengan digandeng Toni.


Toni mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah karena ia lelah dan mengantuk. Sebenarnya dari tadi ia pulang sudah merasa lelah, namun karena ia terlalu kesal melihat teman-temannya menatap Dina dengan tatapan menggoda, rasa lelahnya tertutup rasa cemburu.


Setengaj jam kemudian, mereka telah sampai di rumah Toni. Dina masuk ke kamar tamu yang berada di bawah, sedangkan Toni naik ke atas ke kamarnya.


Mereka berdua terlalu lelah, mereka pun tertidur di kamar masing-masing. Keinginan Toni untuk menghabiskan malam bersama Dina kandas karena rasa lelah yang tak tertahankan.


Pukul enam pagi Dina terbangun, ia keluar dari kamarnya rumah tampak sepi. Dina berjalan ke dapur, namun Toni belum ada di sana. Dina pun memasak air, kemudian menyeduh teh. Ia sengaja melakukan itu untuk Toni sebagai ucapan terima kasih dan permohonan maafnya.


Kemudian Dina membuka kulkas, ia melihat bahan-bahan yang ada di kulkas dan mulai memasak sesuai bahan yang ada di kulkas. Sebenarnya ia bangun karena merasa lapar, ia memasak bukan hanya untuk Toni namun untuk dirinya juga.


Dina tak menyadari jika sedari tadi gerak-geriknya diperhatikan oleh Toni. Toni sengaja tidak bersuara karena ia ingin melihat bagaimana Dina memasak.


Toni tersenyum, Dina terlihat gesit dan cekatan di dapur. Ia mengagumi Dina yang menurutnya serba bisa, dan tidak manja pada dirinya padahal jika Dina meminta apapun padanya, ia pasti akan memberikannya, namun Dina tak pernah meminta apapun padanya.


Dina berbalik badan karena ingin membersihkan meja makan, betapa terkejutnya ia melihat Toni yang duduk tersenyum padanya di meja makan.


"sejak tadi...sejak kamu membuka kulkas " Toni terkekeh


"kenapa enggak bilang kalau sudah bangun?" Dina kesal


"aku tidak ingin mengganggumu..." Toni tersenyum lembut


"ini teh hangatnya..." Dina meletakkan secangkir teh di depan Toni


"terima kasih" ucap Toni tak berhenti tersenyum "manis..." ucap Toni sambil menatap Dina


"hah...? Kemanisan ya...?" Dina menatap Toni serius


"manisnya pas..." Toni meneguk tehnya sambil menatap Dina yang juga menatap padanya "semakin manis" Toni menyunggingkan senyumnya


"mau makan sekarang?" tanya Dina berbalik ke arah kompornya


"memangnya kamu masak apa?" Toni berjalan mendekati Dina

__ADS_1


"ini mie goreng, dan ayam goreng" ucap Dina sambil menuangkan hasil masakannya di piring


Toni mengambil makanan yang sudah dituang oleh Dina, kemudian membawanya ke meja makan. Mereka berdua mulai makan, Dina merasa cemas, ia takut masakannya tak sesuai selera Toni. Ini pertama kalinya Dina memasak sendiri untuk Toni.


"enak..." ucap Toni


"kamu pasti cuma menghiburku saja" ucap Dina acuh


"ini enak Dina...beneran enak...buat apa aku bohong"


Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya Dina, ia diam tak tahu apa yang mau ia obrolkan dengan Toni.


"hari ini hari minggu, kamu ada rencana apa hari ini?" tanya Toni memecah keheningan


"aku hanya ingin tidur seharian..." jawab Dina asal


"hmm...bagaimana kalau kita memasak bersama..." ucap Toni


"masak...? Bersama...? Ide bagus juga...." ucap Dina sambil mengunyah makanannya


"setelah mandi kita belanja ya..." ucap Toni menyunggingkan senyumnya


"kamu antar aku ke kos dulu, aku mau mandi, aku enggak bawa baju ganti" ucap Dina santai


Toni sudah menyelesaikan makannya, ia hendak mencuci semua peralatan memasak dan makannya namun dilarang oleh Dina. Dina menyuruh segera mandi dan bersiap. Dina ingin segera pulang ke kosnya, ia merasa risih karena dari kemarin sore ia tidak ganti pakaian.


Setelah selesai mandi Toni mengantar Dina untuk pulang ke kosnya. Sebenarnya ia sudah menyiapkan beberapa baju di kamar yang Dina tempati. Namun ia tak berani mengatakan pada Dina, ia masih takut Dina marah kembali.


Bukan tanpa alasan Toni menyiapkan itu semua. Toni yakin Dina akan sering ke rumahnya, dan ia yakin Dina suatu saat akan menjadi miliknya seutuhnya, hanya saja saat ini ia berusaha menahan dirinya. Ia ingin Dina menjadi miliknya karena memang Dina menyayanginya.


.


.


.


B e r s a m b u n g


Jangan lupa ritualnya ya bestie, please like, komen dan votenya ya, terima kasih sekebon bestie

__ADS_1


__ADS_2