Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 180 Pergi ke kota S


__ADS_3

Toni sudah kembali ke kota J dengan perasaan bahagia. Semua hal yang ia inginkan satu per satu terkabul. Kini ia tak lagi ragu akan perasaan Dina. Ia tak takut lagi Dina akan berpaling darinya.


Semua karyawan di PT Wijaya Sentosa sedang membicarakan tentang pertunangan direktur mereka yang berlangsung sederhana. Ada yang suka juga ada yang tidak suka.


"seperti apa sih tunangan pak Toni?"


"paling juga cuma mau hartanya"


"tunangan pak Toni itu cantik dan pintar"


"aku dengar mereka sudah lama berpacaran" dan masih banyak lagi obrolan karyawan Toni.


"sstt....pak bos datang..." salah satu karyawan berbisik agar menyudahi pembicaraan mereka.


Mereka tidak tahu sedari tadi Toni sudah mendengar obrolan mereka. Toni hanya menatap datar pada mereka, sebenarnya ia marah namun ia tahan ia tak ingin tersulut emosinya hanya untuk hal-hal yang remeh.


Lain halnya jika sudah mengganggu Dina, ia akan mengambil tindakan seperti waktu Bagas mendekati dan merendahkan Dina. Ia tak akan segan-segan memecat karyawannya yang merendahkan calon istrinya.


Toni pun masuk ke dalam ruangannya. Ia memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaan agar di hari kamis ia bisa meninggalkan kantor dengan tenang.


"Mega.... ke ruanganku sebentar" ucap Toni di telepon


Tak lama terdengar ada yang mengetuk pintu kemudian seorang wanita berumur sekitar dua puluh tujuh tahun masuk ke ruangannya.


"iya bos..."


"hari kamis sampai sabtu apa ada agenda untukku?"


Sekretasris itu membuka buku yang ia pegang, ia membolak-balik halamannya. "Di hari jumat ada meeting dengan perusahaan pak Ferdi"


"ada yang lain?" Toni menatap sekretarisnya itu


"nggak ada bos hanya itu"


"terserah kamu atau Ridwan tolong gantikan saya menghadiri meeting itu, dan lagi saya akan pergi dari hari Rabu, dan mungkin baru kembali hari Senin" ucap Toni


"baik bos...ada lagi?" tanya Mega


"itu saja..."


"saya permisi dulu bos..." Mega meninggalkan ruangan Toni dan kembali ke mejanya.


.

__ADS_1


Hari Rabu sore sepulang kerja ia langsung ke kota K. Ia mengendari mobilnya dengan kecepatan agak tinggi. Ia ingin sampai di rumah Dina sebelum malam.


Pukul tujuh malam Toni sudah sampai di rumah Dina. "Kak...ada kak Toni di depan" ucap Alan adik Dina menghampiri Dina yang sedang makan bersama mama papanya.


"suruh masuk ke sini saja Lan..." ucap mamanya Dina


Tak berapa lama, Toni sudah berada di ruang makan "ayo makan sini" ucap papanya Dina


"iya om..." Toni menarik kursi yang ada di sebelah Dina. Dina pun berdiri mengambil piring kemudian mengisinya dengan nasi dan lauk.


"kamu langsung dari kantor atau dari mana?" tanya papanya Dina


"sepulang kantor saya langsung berangkat ke sini om..." jawab Toni "sudah cukup Din..." ucap Toni sambil mengambil piring dari tangan Dina


"kalian lanjutkan makannya, oma dan tante sudah selesai" papa dan mama Dina beranjak dari meja makan meninggalkan Dina dan Toni.


Toni mengecup pipi Dina sekilas "ishh...apa sih...?" ucap Dina lirih


"habisnya calon suami datang bukannya disambut malah ditinggal makan" ucap Toni dengam senyum jahil


"aku nggak tahu kalau kamu mau datang..." ucap Dina santai


"tadi aku beberapa kali menelponmu namun tidak kamu jawab, jadi aku mengirim pesan" ucap Toni sambil mengunyah makanannya


"besok berangkat jam berapa?" tanya Dina


"aku sudah pesan tiket kereta untuk kita berdua, kereta jam 9 pagi" ucap Toni


.


Pagi harinya, pukul enam tiga puluh pagi Toni sudah sampai di rumah Dina diantar sopir kantor. Toni membantu Dina membereskan barang-barang yang akan ia bawa kemudian memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


"kalau naik mobil saja bagaimana?" tanya Toni


"apa nggak kasihan sopirnya? Lagipula bukannya lebih lama kalau naik mobil?" jawab Dina


"papa yang menyuruh, memang lebih lama tapi kita bisa singgah di setiap kota yang kita lewati"


"nggak ah...lain kali saja kita jalan-jalannya"


Dina berpamitaj kepada kedua orang tuanya begitu juga Toni. Mereka mempercayakan Toni untuk menjaga dan mengantar Dina sampai tempat tujuan.


Kereta perlahan meninggalkan stasiun kota K. Dina menyandarkan kepalanya di bahu Toni, meski ini sudah menjadi pilihannya namun rasanya berat berpisah dari orang yang sekarang berada di sampingnya itu.

__ADS_1


"tidurlah, nanti kalau sudah sampai aku akan membangunkanmu" Toni menarik Dina kedalam dekapannya. Dina menarik nafas dalam-dalam mencium aroma tubuh yang sebentar lagi pasti akan ia rindukan.


Dina terlelap dalam dekapan Toni, sesekali ia mencium puncak kepala Dina. Berat bagi Toni untuk melepas Dina bekerja di kota S, namun ia juga tak bisa menghalangi.


Jika ia mampu bertahan selama bertahun-tahun, apalah artinya mereka terpisah jarak hanya selama tiga bulan. Sebenarnya ia sudah rela jika Dina akan bekerja satu atau dua tahun ke depan meski harus berada jauh di kota lain namun Dina sudah berjanji ia hanya tiga bulan saja berada di kota S.


Perjalanan yang mereka tempuh memakan waktu lima jam dengan naik kereta jika menaiki mobil pribadi mereka bisa menghabiskan waktu 7 atau 8 jam.


Karena terlalu laru dalam pikiran mereka masing-masing, waktu yang begitu lama tak terasa. Kini mereka telah sampai di stasiun kota S. Toni membawakan barang-barang milik Dina kemudian mengajak Dina duduk di kursi tunggu.


"sebentar...kita tunggu seseorang dulu.." ucap Toni meletakkan tas pakaian milik Dina.


"siapa?" Dina duduk di sebelah Toni


"teman..." jawab Toni singkat


Sepuluh menit kemudian, orang yang dimaksud oleh Toni pun menghampiri mereka. Cowok yang tingginya hampir sama dengan Toni, tampan hanya saja kulitnya sawo matang.


"hai Ton...lama tak jumpa..." seseorang itu menepuk-nepuk bahu Toni


"iya...terkahir kali kita bertemu saat acara wisuda ya..."


"iya betul..."


"kenalkan...ini tunanganku Dina...." ucap Toni memperkenalkan Dina


"Dina....Dina yang dulu sering kamu ceritakan itu?" dan dijawab anggukan oleh Toni


"hai...kenalkan aku Deni teman kuliah Toni" ucap teman Toni sambil megulurkan tangannya, namun tangannya ditepis oleh Toni "ckk...kamu ini...masak cuma berkenalan dengan tunanganmu saja nggak boleh"


Dina hanya tersenyum melihat Deni yang menggerutu "aku Dina...senang berkenalan denganmu"


"aku tahu kamu....kamu itu paling nggak bisa lihat cewek cantik..." ucap Toni sedikit kesal


Kemudian Toni dan Deni membawa barang-barang milik Dina, dan menuju ke tempat parkir mobil Deni itu.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2