Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 209 Caddy si penggoda


__ADS_3

Malam harinya Toni dan Dina melanjutkan perjalanan mereka ke negara Tirai Bambu. Meski ada rasa kesal dalam hati Dina, namun tak bisa dipungkiri jika ia bahagia. Keinginannya satu per satu terwujud, dan Toni yang membantunya mewujudkannya.


Setelah sekitar enam jam mengudara di dalam pesawat, mereka tiba di Shanghai International Airport. Dina begitu bahagia, ia bisa menginjakkan kakinya di negara yang menjadi daftar teratas negara yang ingin ia kunjungi.


Karena malam telah larut, Toni membawa Dina menginap di hotel yang tak jauh dari bandara. Ia yang membawa barang-barang mereka. Toni ingin memanjakan Dina, apapun akan ia lakukan untuk membahagiakan Dina.


.


Pagi harinya, team yang akan membantu mereka melakukan prewedding telah siap. Toni dan Dina pun diarahkan untuk berdandan sesuai tema yang diinginkan oleh Dina.


Beberapa tempat ikonik di Negara Tirai Bambu mereka kunjungi untuk pemotretan prewedding mereka. Lelah, itu yang dirasakan oleh Toni dan Dina namun mereka bahagia.


Dua hari mereka melakukan sesi pemotretan akhirnya berakhir sudah. Di hari ketiga, Toni mengajak Dina berjalan-jalan menikmati kuliner yang ada di sana.


Toni melihat Dina yang sangat bahagia. Liburan yang singkat mampu membuat Dina melupakan peristiwa beberapa hari yang lalu ketika mereka berada di Singapura.


Sayang waktu liburan mereka telah usai. Dina dan Toni sama-sama harus bekerja kembali. Banyak pekerjaan yang Toni tunda agar mereka bisa liburan singkat kali ini.


.


Dina dan Toni sudah kembali ke rutinitasnya masing-masing. Toni sudah kembali ke kota J, meski berat berjauhan dengan Dina namun harus ia lakukan, ia tak mungkin meninggalkan perusahaannya hanya demi menghabiskan waktu dengan orang yang ia cintai.


"bos...bagaimana liburannya?" tanya Ridwan masuk ke dalam ruangan Toni


"lancar..." jawab Toni dengan raut wajah bahagia


"hmm....kemarin Mona mencari bos" ucap Ridwan ragu


"Mona?" Toni mengerutkan dahinya


"iya caddy yang biasa bos pakai...." ucap Ridwan hati-hati


"oh..." Toni kembali melanjutkan pekerjaannya, ia tak mau menanggapi perkataan Ridwan karena tidak penting baginya.


Toni kembali larut dalam pekerjaannya, ia sudah berencana akan sesering mungkin pulang ke kota K. Ia tak ingin masalah yang telah lalu terulang.

__ADS_1


Lagipula ia juga sedang mempersiapkan rumah barunya, yang akan ia tempati setelah ia menikah dengan Dina. Sejak ia melamar Dina dan papanya memberitahu dirinya jika setelah menikah ia harus menggantikan posisi Vanya ia sudah membeli tanah dan membangun rumah impian sesuai impian Dina.


Toni sebenarnya menolak permintaan papanya untuk menggantikan Vanya. Namun Yanuar Wijaya menagih janjinya dulu yang sempat Toni ucapkan ketika menolak posisi itu karena ia ingin mengejar cintanya dulu.


Kini pernikahan mereka berdua sudah ada di depan mata, tak ada alasan lagi bagi Toni untuk menolak menggantikan posisi papanya. Bagaimana dengan Vanya, apakah Vanya keberatan, Vanya sama sekali tidak keberatan, ia menduduki posisinya yang sekarang karena melihat kesehatan papanya yang mulai menurun.


Vanya orang yang menyukai kebebasan, ia tak ingin terikat aturan, apalagi harus mengurusi perusahaan keluarganya yang memiliki beberapa anak perusahaan. Vanya hanya ingin memiliki sebuah butik dan salon kecantikan sesuai dengan hobinya yang suka berbelanja dan mempercantik diri. Ia merasa tidak cocok jika harus bekerja di balik meja, atau menghadiri meeting. Itulah kenapa sejak ada Dina, Dina yang lebih sering bertemu klien dan menghadiri meeting.


Tok...tok...tok...


Pintu Toni diketuk, namun Toni tak menyahut ia masih fokus menyelesaikan pekerjaannya hingga tidak tahu jika yang baru saja mengetuk pintu telah masuk ke dalam ruangannya.


Terdengar ketukan heels menggema di ruangan Toni. Toni pun mendongak sambil mengerutkan dahinya.


"sudah lama anda tidak bermain golf, saya menunggu anda setiap hari tapi tak kunjung datang" ucap perempuan itu


"saya sibuk, sedang banyak pekerjaan" Toni melanjutkan pekerjaannya kembali. Namun caddy yang bernama Mona itu malah mendekat ke kursi yang diduduki Toni. Toni tak menghiraukannya, ia semakin bersikap dingin ia tak mau Mona salah paham terhadap sikapnya beberapa waktu lalu.


Mona berdiri bersandar di meja kerja Toni dan menghadap ke arah Toni, sungguh Toni merasa jijik, Mona memakai rok setengah paha dengan belahan sedikit tinggi.


"apa anda tidak ingin bermain dengan saya?" ucap Mona sambil membuka sedikit pahanya dan menarik roknya ke atas.


Toni mengacuhkan, ia tak mau meladeni, meskipun ia sedikit terpancing, namun ia masih mengendalikannya. Ia masih ingat jika dirinya sudah bertunangan. Namun Mona tak gentar, ia semakin menaikkan roknya, bahkan ia kini sudah duduk di meja Toni dan membuka pahanya lebar-lebar.


Toni mendongak "apa mau kamu?!" ucapnya.


.


Hari ini Dina menggantikan Vanya untuk meninjau salah satu hotel milik Wijaya Group yang berada di perbatasan kota K. Setelah semua urusannya selesai, ia meminta sopir untuk mengantarnya ke anak perusahaan Wijaya Group yang sekarang dipegang oleh Toni yang jaraknya hanya sekitar empat puluh menit dari hotel itu.


Dina ingin memberi kejutan kepada Toni, ia sudah lama tak mengunjungi kantor itu. Sekaligus ia ingin bernostalgia di kota J. Dina sampai di kantor Toni tepat saat jam makan siang.


"Tuan Toni ada di tempat?" ucap Dina kepada resepsionis


"maaf, apa Nona sudah membuat janji?" tanya resepsionis itu

__ADS_1


"saya ingin memberi kejutan untuknya"


"maaf dengan siapa, saya telepon ke ibu Mega dulu" ucap resepsionis


"Dina...sekalian titip pesan ke kak Mega, jangan beritahu Toni kalau saya datang" ucap Dina ramah


"baik, tunggu sebentar..." ucap resepsionis


Dina pun masih berdiri mengamati sekeliling, tidak terlalu banyak berubah.


"Non Dina apa kabar?" ucap seseorang dari arah belakang Dina


"eh...Bagas..." ucap Dina ramah "baik...kamu sendiri bagaimana?"


Resepsionis itu tertegun, melihat staff di kantornya memanggil Dina dengan sebutan Nona.


"posisi saya sudah dikembalikan oleh bos Toni Non..." ucap Bagas "maafkan saya, karena saya tidak tahu jika anda tunangan Bos" lanjutnya dengan nada penyesalan


"iya...aku sudah melupakannya...."


"maaf Nona...kata bu Mega anda langsung saja ke ruangan Tuan Toni" sela resepsionis itu


"ah...iya...terima kasih" ucap Dina ramah "aku ke atas dulu ya..." Dina kemudian berjalan meninggalkan lobi dan naik ke ruangan Toni.


"jadi itu tadi tunangan bos?" tanya resepsionis itu


"iya...lain kali kalau dia datang jangan buat dia menunggu" ucap Bagas kemudian meninggalkan lobi.


Tak ada yang menyangka jika Dina adalah tunangan seorang bos. Yang tidak mengenalnya pasti ia dianggap orang biasa yang mungkin ingin menggoda bosnya itu.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2