Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 99 Semangkok Mie kuah


__ADS_3

Dengan telaten Toni mengompres Dina yang masih tertidur. Toni tahu Dina sakit karena ia kelelahan. Tere menceritakan apa yang dilakukan Dina sebelum ia jatu sakit seperti ini.


Dina menghabiskan waktunya dari pagi hingga sore untuk magang, sore sampai malam ikut melakukan persiapan penyambutan mahasiswa baru malamnya ia mengerjakan laporan setiap hari seperti itu.


Di hari sabtu dan minggu Dina memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Menurut cerita Tere hampir tak ada waktu bagi Dina untuk beristirahat.


Terdengar pintu kamar Toni diketuk, nampaklah Ridwan di ambang pintu sambil membawa tas besar.


"mas....ini barang-barangnya Dina ditaruh di mana?"


"letakkan saja di dekat lemari situ" ucap Toni


"Raya sudah datang, mas mau dimasakkan apa kali saja Raya bisa" ucap Ridwan berdiri di ambang pintu


"kalian pulang saja, nanti aku bisa masak sendiri" ucap Toni berjalan menghampiri Ridwan


"mungkin ada yang mas butuhkan lagi sebelum kami pulang?"


"enggak....enggak ada...tolong kunci pintu depan dan pagar sekalian ya..."


"baik mas...saya pulang dulu, kalau ada apa-apa telepon saja"


"sudah sana....aku enggak akan mengganggu kalian malam-malam" Toni tersenyum


Ridwan pun meninggalkan kamar Toni dan pulang bersama Raya. Toni kembali memeriksa kondisi Dina, badannya masih demam, ia belum sempat memberikan obat yang diberikan dokter kepada Dina karena masih belum bangun.


Dengan telaten Toni memgompres Dina. Ia duduk bersandar kepala tempat tidurnya di sebelah Dina yang masih tertidur. Batin Toni kawatir akan terjadi sesuatu pada Dina, sudah 3 jam lebih Dina masih belum terbangun.


Toni hanya bisa berdoa dan berharap semoga Dina cepat siuman dan bisa makan serta meminum obatnya. Toni membelai lembut rambut Dina, dia sempat berpikir entah kenapa tadi dia memaksakan diri membawa Dina ke rumahnya dan merawatnya.


Memang tadi Toni tak berpikir panjang, melihat Dina tiba-tiba pingsan tepat di hadapannya. Tak terpikirkan olehnya bagaimana reaksi Dina saat ia siuman nanti.


Dina mulai mengerjapkan matanya, perlahan pandangannya mulai jelas. Ia menatap langit-langit dan merasa asing dengan apa yang ia lihat. Kemudian ia menoleh ke sampingnya, ia terkejut namun ia tak sanggup untuk menunjukkan reaksi keterkejutannya.


"kamu sudah sadar?" tanya Toni lembut menatap Dina yang wajahnya terlihat putih pucat seperti selembar kertas.


"To..ni..." ucap Dina lirih "aku kenapa? Ada dimana?"


"kamu demam Din...tadi pingsan aku bawa ke rumahku karena di sebelah ada dokter yang bisa memeriksamu sewaktu-waktu" ucap Toni lembut


"aku pulang ke kos saja Ton..." Dina memaksakan untuk bangun, namun matanya rasanya berkunang-kunang dan badannya lemas

__ADS_1


"Dina...kamu sakit...istirahat dulu...." ucap Toni sedikit tegas namun dengan suara lembut.


"tapi Ton...."


"Dina....kalau kamu sudah lebih sehat kamu boleh pulang ke kosmu, kalau sekarang kamu di sini dulu ya...lagipula tadi Tere mengatakan besok dia kuliah pagi dan ada tugas kelompok jadi tidak bisa menemanimu" terang Toni


Dina berpikir sejenak, jika Tere sibuk ia tidak ada yang menemani. Tia sudah pindah kos, sedangkan Reni dia tidak kuliah di semester pendek. Dina membenarkan apa kata Toni, apalagi Bimo masih sering mencarinya, jika tahu dirinya sakit pasti Bimo akan menempel padanya terus.


Dina tak punya pilihan lain, selain mengikuti apa kata Toni. Lebih baik ia bersama Toni, ia pernah menjaganya sewaktu sakit. Tak pernah memaksa dengan kata-kata yang menurutnya terlalu tegas untuk dirinya. Selalu lembut padanya, dan tak pernah memaksakan apa yang Dina tak mau.


"kamu minumlah obat ini dulu..." ucap Toni menyodorkan obat dan segelas air putih


"ini apa?" Dina menatap obat yang diberikan oleh Toni


"ini obat penurun panas dan vitamin" Toni tersenyum "minumlah dulu, setelah itu aku buatkan makan malam untukmu"


Dina meminum obat itu kemudian ia meletakkan gelasnya di meja sebelah tempat tidur Toni. Toni pun meninggalkan Dina dan turun ke dapur untuk memasak makan malam untuk mereka berdua.


Dina menatap ke samping tempat tidurnya, ada baskom berisi air serta handuk kecil, Dina tersenyum ia tahu pasti Toni tadi mengompresnya.


Setengah jam berlalu, Toni sudah kembali ke kamarnya membawa sebuah nampan terlihat ada dua mangkuk di atas nampan itu.


"kamu makan mie enggak apa-apa kan?" tanya Toni sambil meletakkan nampan itu di meja sebelah tempat tidur


"ini bukan mie instan ya...tapi mie kuah agar badanmu lebih enak"


Dina tersenyum "kamu semakin pandai memasak..."


"biasa saja...." Toni terkekeh "makan di sofa sana ya..."


"iya..." Dina mencoba bangkit berdiri namun ia masih terlalu pusing, ia kembali terduduk. Toni memapahnya berjalan ke sofa


Toni mengambil nampan tadi dan membawanya ke sofa. "Aku bisa makan sendiri Ton..." ucap Dina


"yakin kamu bisa?"


"aku cuma demam, tanganku masih baik-baik saja" Dina memaksakan senyumnya


"aku suapi saja ya..." ucap Toni lembut. Dina tak menjawab, ia merasa lemas, ia merasa tak mungkin sanggup memegang mangkok sambil makan.


Toni tersenyum, ia pun mulai menyuapi Dina sedikit demi sedikit. Dina melihat ketulusan Toni merawatnya, jika dibandingkan dengan pacar-pacarnya yang lain Toni memang paling sabar merawatnya meskipun terkadang punya tempramen yang buruk jika sudah tersinggung.

__ADS_1


Toni sabar dan selalu lembut terhadapnya, benar-benar mengerti cara merawat dirinya yang sedang sakit. Toni tahu cara membuatnya mau makan tanpa merasa dipaksa.


"kenapa kamu bisa jatuh sakit seperti ini?"


"aku juga enggak ingin sakit Ton..."


"kalau capek jangan dipaksakan, istirahat...memangnya magangmu belum selesai?"


"masih seminggu lagi Ton..." jawab Dina sambil mengunyah makanannya


"aku pernah bilang, tidak ada kewajiban mahasiswa magang untuk bekerja seperti karyawan tetap"


"tugasku enggak berat Ton...aku di sana cuma ngobrol sama bantu-bantu staf lain"


"tapi....katanya kamu masih mengurusi masalah himpunan?"


"kata siapa?" Dina protes


"adalah..." Toni sambil menyuapkan mie ke dalam mulut Dina


"aku bosan Ton...enggak ada teman, kos sepi...teman-teman kuliah semua magang di luar kota"


Toni tersenyum melihat sisa makanan di mangkok yang ia pegang. "pasti makanmu enggak kamu perhatikan" Toni tersenyum


"aku makan Ton...." ucap Dina "kalau ingat" ucap Dina lirih


"mau tambah lagi makannya?" tanya Toni tersenyum lembut


"lhooo....sudah habis ternyata" Dina terkekeh


Toni tersenyum, wajah Dina tak sepucat tadi. Kini wajahnya terlihat lebih segar meski masih terlihat kalau ia sakit dan kelelahan.


Ia pun mulai mengambil mangkok kedua dan hendak menyuapkannya ke Dina, namun Dina menolaknya. Ia pun makan sambil mengobrol dengan Dina, sesekali mereka tertawa bersama.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan votenya ya bestie 😊😊


__ADS_2