
Setelah makan selesai makan, Dina membawa piring-piring kotor ke dapur. Toni sudah melarangnya, beralasan biarkan mbok Nah saja yang mengerjakannya. Tapi Dina bersikeras untuk membawanya. Perdebatan pun terjadi, dan pemenangnya adalah Dina.
Di dapur pun, mbok Nah melarang Dina untuk mencuci piringnya. Ia takut Toni marah karena membiarkan Dina mencuci piring. Dina akhirnya yang mengalah karena jam istirahatnya sudah habis.
Toni buru-buru menarik tangan Dina untuk kembali ke sekolah. Ia tidak mau Dina terlambat masuk kelas. Roy dan Rani sudah kembali terlebih dahulu. Sesampainya di kelas ternyata jam pelajaran terakhir di kosong, karena gurunya ada keperluan mendadak dan tidak ada tugas.
Roy pun berinisiatif meminta ijin pada wali kelasnya agar kelasnya diperbolehkan pulang lebih awal. Wali kelasnya memberikan ijin dengan satu syarat mereka tidak membuat keributan dan langsung pulang.
Teman-teman sekelas Dina bersorak-sorai karena mereka bisa pulang lebih awal. Teman-teman sekelas Dina langsung pulang. Dina masih membereskan barang-barangnya. Ia tidak terburu-buru seperti teman-teman yang lainnya.
Toni dengan setia menemani Dina. Ia tidak peduli Roy sudah merengek untuk pulang.
"kalau mau pulang, pulang saja, tidak usah menunggu aku" ucap Toni pada Roy yang menunggunya
"yang sedang jatuh cinta....ya sudah...." Roy akhirnya pulang tanpa menunggu Toni.
"kasihan Roy...." ucap Dina
"lebih kasihan lagi kamu, belum pulang..." ucap Toni lembut
"ini juga mau pulang...." ucap Dina sambil mengerucutkan bibirnya
"Din...terima kasih ya...." ucap Toni tersenyum menatap Dina
"untuk...?" Dina menegrutkan dahinya
"untuk jawabanmu..." jawab Toni dengan senyum yang mengembang
Dina hanya tersenyum menanggapi. Sebenarnya hatinya berbunga-bunga sejak sebelum pertandingan tadi pagi. Tapi ia sebisa mungkin menyembunyikan rasa bahagianya, agar tidak semua orang menyadarinya.
"aku sempat takut kamu menolakku..." ucap Toni
"takut? Kenapa harus takut?" Dina mengerutkan dahinya
"ya takut....aku sudah lama memendam perasaan ini padamu, takut kamu akan menjauh dariku"
"sudah lama? Kita baru kenal beberapa minggu Ton..." Dina terkekeh
__ADS_1
"kamu lupa ya...sebenarnya kita berteman sudah lama, sudah lebih dari tiga tahun"
"hah... Iyakah?" Dina sedikit terkejut
"iya...kelas kita bersebelahan dari kelas satu SMP, tapi aku baru menyadari ada cewek yang menarik di kelas sebelahku beberapa bulan yang lalu, tepatnya waktu pertandingan basket antar kelas seusai ujian akhir" terang Toni dengan tatapan bahagia mengenang saat-saat pertama menyadari kehadiran Dina.
"kamu cowok terkenal waktu itu, idaman anak-anak kelasku" Dina terkekeh
"termasuk kamu?" Toni menggoda Dina dengan tatapan penasaran
"tidak...aku tidak termasuk" Dina tergelak "aku tidak pernah memeperhatikan anak-anak kelasmu, hanya dengar dari teman-temanku saja"
"begitu ya.... Hampir saja aku melambung tinggi karena aku menjadi idola kamu waktu SMP" Toni mengerucutkan bibirnya
"Ton..."
"hmmm..." Toni menatap Dina denga sorot mata bahagia
"kamu yang pertama bagiku, jangan kecewakan aku..." ucap Dina dengan senyum tipis
"meski kamu bukan yang pertama bagiku, tapi aku akan berusaha untuk menjaga kepercayaanmu padaku" ucap Toni serius
"hmm....ke berapa ya....?" Toni pura-pura menghitung sambil melirik Dina "tidak penting kamu yang ke berapa, yang jelas aku menyayangimu, aku jatuh cinta padamu sejak pertama kita saling menatap waktu itu" Toni menarik bahu Dina yang duduk di sebelahnya dan memeluknya dari samping.
Toni mengecup puncak kepala Dina, saat ini ia merasa dunia milik mereka berdua, yang lain hanya mengontrak. Dina tidak tahu yang ia rasakan, ini kali pertama ia berpacaran.
Yang jelas ia bahagia, akhirnya keinginginan untuk berpacaran pada saat ia SMA terwujud. Ia sungguh beruntung mendapat pacar seperti yang ia idamkan selama ini.
Sosok yang lembut, tampan, pemain basket, satu yang belum Dina tahu, apakah Toni bisa bermain musik. Ia belum benar-benar mengenal Toni lebih dekat. Ia hanya berharap semoga ia tidak akan pernah kecewa dengan Toni.
"mau diantar pulang?" tanya Toni
"aku membawa motor sendiri Ton..." ucap Dina masih berada dalam pelukan Toni.
"bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar" Toni melepaskan pelukannya
"baiklah..." jawab Dina kemudian ia memakai jaketnya "pakai motor aku atau....?" ucapan Dina melayang di udara ketika Toni menarik tangan Dina
__ADS_1
"kunci motor kamu mana?" tanya Toni sambil menengadahkan tangannya. Dina menyerahkan kunci motornya kepada Toni. Mereka pun berjalan beriringan ke tempat parkir motor.
Toni menyalakan motor Dina, dan menyuruh Dina naik ke beoncenganya. Toni melajukan motor Dina ke rumahnya.
"kenapa ke sini? Katanya mau jalan-jalan...." Dina mengerutkan dahinya
"iya sebentar..." ucap Toni memasukkan motor Dina ke dalam garasi. Dina bingung, jika mau jalan-jalan kenapa motornya malah dimasukkan. Belum sempat bertanya Toni meninggalkannya masuk ke dalam rumah, lima menit kemudian Toni keluar dari rumah sudah berganti baju dan memakai kaca mata hitam diikui mbok Nah dari belakang.
Toni masuk ke dalam garasi dan menyalakan sebuah mobil yang ada di sana, sedangkan mbok Nah membukakan pintu pagar. Toni menghampiri Dina dan menarik tangan Dina kemudian ia membukakan pintu untuk Dina.
Dina bingung kenapa tiba-tiba Toni mengajaknya pergi dengan naik mobil. Toni telah duduk di belakang stir mobil dengan menatap Dina.
"mulai sekarang kamu adalah princess bagiku" ucap Toni dengan senyum mengembang kemudian ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"kenapa diam?" tanya Toni memecah keheningan
"aku kira kita akan pergi naik motor" jawab Dina lirih
"udara sangat panas princess" jawab Toni lembut
Dina tidak tahu ia akan diajak kemana, karena jalanan itu begitu asing baginya, ia belum pernah melewati jalanan itu. Toni tahu Dina bingung, ia kemudian memutar musik di mobilnya.
Dan yang diputar Toni adalah lagu-lagu band favorit Dina. Kegugupan Dina berangsur menghilang mendengar lagu-lagu yang di putar Toni. Toni senang ia mulai mendengar Dina bersenandung di dalam mobilnya.
Toni membawa Dina ke daerah pinggiran kota, tidak begitu jauh jaraknya dari sekolah mereka. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit.
"ini kita mau kemana Ton?" tanya Dina heran karena jalanan yang mereka lewati mulai sepi dan jalannya tak terlalu bagus
"ke tempat di mana aku sering menenangkan diri" ucap Toni santai
Dina hanya menganggukkan kepalanya, ia sebenarnya takut akan terjadi sesuatu dengan dirinya, tapi ia mencoba berpikiran positif. Ia percaya Toni tidak akan mencelakainya.
Tibalah mereka di sebuah pinggir sungai. Toni mematikan mesin mobilnya, ia kemudian turun dan membukakan pintu sisi penumpang. Toni menyuruh Dina untuk meninggalkan tasnya di mobil kemudian ia membantu Dina untuk turun dari mobil.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g