
Keesokan harinya pagi-pagi sekali, Toni sudah bersiap untuk menjemput Dina. Toni sudah berada di meja makan untuk sarapan.
"mbok...mama kapan pulang?" tanya Toni sambil menuang nasi ke piringnya
"kurang tahu mas, mungkin nanti malam" ucap mbok Nah sambil metakkan piring lauk di meja makan
"pagi-pagi sudah sarapan, mau jemput Dina lagi?" papanya Toni berjalan ke arah meja makan
"iya pa... aku tidak tega kalau Dina naik motor sendiri, takut melamun di jalan" ucap Toni
"memangnya ada apa? Dina sakit?" papanya Toni menyeruput kopi yang sudah di sediakan oleh mbok Nah
"papa tidak tahu?" Toni mengerutkan dahinya
"memangnya ada apa?" tanya papanya Toni
"neneknya baru meninggal hari minggu kemarin" ucap Toni sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya
"hmm.....begitu ya...kenapa tidak ada yang mengabari kita ya..?" tanya papanya Dina
"kemarin hari minggu ada yang mengabarkan ke ibu kalau, mertua temannya meninggal begitu den..." mbok Nah menimpali
Toni menyelesaikan makannya, dan berpamitan pada papanya. Sangat tidak biasa pagi-pagi sekali mereka terlibat dalam obrolan ringan. Biasanya papa dan mamanya selalu buru-buru bekerja tiap pagi.
Toni berangkat ke rumah Dina mengendarai motornya dengan kecepatam sedang. Sesampainya di rumah Dina, Toni memarkirkan motornya di halaman rumah Dina.
Kebetulan mamanya Dina sedang menyapu halaman rumah.
"pagi tante..." ucap Toni sopan
"eh...Toni...pagi...." ucap mamanya Dina berhenti menyapu "pagi-pagi sudah sampai di sini"
"iya tante...mau jemput Dina, Dina sudah siap belum tante?" tanya Toni sopan
"tadi sih sedang mandi....paling sekarang sudah selesai" ucap mamanya Dina "kamu tunggu saja di teras samping"
"iya tante.....oh iya...tadi papa titip salam untuk tante" Toni menarik kedua sudut bibirnya
"oh...iya..." mamanya Dina tersenyum kemudian melanjutkan menyapu halaman.
Toni berjalan ke arah teras samping rumah Dina. Menunggu Dina bersiap. Rumah Dina masih sepi, adik-adik Dina belum tampak bersiap untuk berangkat sekolah.
Dina keluar dari rumah hendak mengeluarkan motornya. Dina terkejut mendapati Toni yang sudah berada di rumahnya.
"sudah kubilang aku bisa berangkat sendiri Ton..." ucap Dina datar
"baiklah, mulai besok aku tidak akan menjemputmu lagi" ucap Toni dengan senyum dipaksakan. Toni teringat ucapan papanya yang mengatakan jangam terlalu memaksa Dina jika memang ia tidak nyaman.
__ADS_1
"tapi untuk hari ini boleh kan kalau aku menjemput dan mengantarmu?" tanya Toni lembut
"baiklah...." ucap Dina datar
"Din.... Aku tahu mungkin aku telah menyakitimu dan mengecewakanmu, aku hanya ingin menebus semua kesalahanku di masa lalu, tolong beri aku kesempatan Din" ucap Toni sendu
Dina menghela nafas kemudian ia duduk di sebelah Toni. "Kesempatan yang bagaimana lagi Ton?" tanya Dina dengan nada sedikit lebih lembut
"setidaknya biarkan aku dekat denganmu lagi" ucap Toni sendu
Dina kembali menghela nafasnya "aku tetap menganggapmu teman Ton, apa itu masih kurang?"
"terserah kamu, jika itu membuatmu nyaman aku akan terima, tapi tolong jangan membenci aku" ucap Toni lirih
"aku tidak pernah membenci kamu, dan tidak akan pernah bisa" Dina menarik kedua sudut bibirnya ke atas
Toni tersenyum lebar, ia senang karena Dina sudah mau tersenyum lagi padanya. Toni mengikuti saran papanya dan itu berhasil. Toni bertekad akan mengambil hatinya Dina secara perlahan.
"nanti siang kamu mau kan makan siang di rumahku?" tanya Toni penuh semangat
"hmmm....lihat nanti bagaimana ya Ton..." ucap Dina kemudian ia bangkit berdiri dan masuk lagi ke dalam rumahnya.
Tak berselang lama, Dina keluar lagi sudah memakai jaket dan membawa tas sekolahnya. "Ayo berangkat sekarang saja, aku ada ulangan pagi ini" ucap Dina lembut
"ayo... Helm kamu mana?" tanya Toni dengan tatapan teduhnya
Dina keluar lagi dari dalam rumahnya, sudah siap untuk berangkat. Dina menghampiri mamanya yang masih menyapu halaman. "Ma....aku berangkat dulu..." pamit Dina
"kami berangkat dulu tante..."ucap Toni sopan
"iya...hati-hati....jangan ngebut ya Ton.." ucap mamanya Din dengan kedua sudut bibir terangkat
Toni melajukan motornya dengan kecepatan sedang, karena jam masuk sekolah masih lama. Lima belas menit kemudian mereka telah sampai di sekolah. Toni memarkirkan motornya di tempat parkir motor di dekat kelas Dina.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas mereka masing-masing. Sesampai di samping kelas Dina "aku ke kelas dulu" ucap Dina datar
"iya....sukses ulangannya ya Din" ucap Toni dengan senyum mengembang. Kemudian ia berjalan ke kelasnya dengan hati riang gembira.
Dina meletakkan tasnya di tempat duduknya. Kemudian ia mengeluarkan buku dan membaca materi untuk ulangan hariannya.
"Dina....!" teriak seseorang dari pintu kelasnya. Dina melihat ke arah pintu ruang kelasnya.
"ada apa?!" tanya Dina menatap penuh tanda tanya
"bisa keluar sebentar? Ada yang mau aku bicarakan denganmu" ucap seseorang itu
Dina beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar kelas. "Ada apa?" tanya Dina datar
__ADS_1
"hari minggu sore ada rapat pembubaran panitia camping datang ya..." ucap seseorang itu yang tak lain tak bukan adalah Krisna.
"kenapa aku juga diundang?" tanya Dina mengerutkan dahinya
"Dendy yang menyuruhku mengundangmu, katanya kamu harus datang" ucap Krisna
"baiklah....aku usahakan untuk datang" ucap Dina datar
"jangan lupa ya...minggu jam tiga sore di base camp" ucap Krisna kemudian ia berlalu dari hadapan Dina.
Dina kembali masuk ke kelasnya dan ternyata Yuni teman sebangkunya sudah berada di tempat duduk mereka.
"dari mana saja kamu Din?" tanya Yuni dengan tatapan penuh tanda tanya
"aku dari depan, masak kamu tidak melihat aku di depan pintu?" tanya Dina mengerucutkan bibirnya.
Yuni terkekeh "maaf, saking paniknya aku tidak memperhatikan siapapun yang ada di depanku"
"eh....aku mau tanya tolong jawab jujur" ucap Yuni menggebu-gebu
"tanya apa?" Dina kembali membaca bukunya
"kamu dan Toni berbaikan?"tanya Yuni antusias
"tidak Yun....aku cuma berteman baik dengannya" ucap Dina tanpa menatap Yuni
"yakin....hanya teman baik?" tanya Yuni dengan nada menggoda
"kalau tidak percaya, tanya orangnya saja sana" jawab Dina kesal
"iya...iya...tidak perlu marah-marah seperti itu!" Yuni tergelak
Dina melanjutkan membaca bukunya, sedangkan Yuni masih sibuk mengerjakan PR yang belum sempat ia kerjakan tadi malam.
Bel tanda pelajaran dimulai telah berbunyi, pelajaran pertama mereka diisi dengan ulangan harian. Semua siswa mengerjakan soal-soal ulangan dengan tenang.
Yuni yang duduk di sebelah Dina, sibuk mencontek jawaban Dina. Dina hanya diam saja, toh gurunya dari tadi sudah mengetahui jika Yuni mencontek jawabannya.
.
.
.
B e r s a m b u n g
Dukung terus karya ini ya bestie....
__ADS_1
Pleasa like, vote dan komennya ya bestie...terima kasih sekebon bestie