
Karena terlalu lelah, mereka sampai tak menyadari jika matahari telah meninggi. Dina mulai mengerjapkan matanya karena merasakan intinya penuh sesak. Ia kemudian melihat bagian bawahnya, betapa terkejutnya dirinya, semalaman tongkat panjang dan berurat itu masih menancap dengan kokoh pada intinya.
Ia menggeliat hendak melepaskan penyatuan mereka, namun tiba-tiba Toni menyerangnya kembali, langsung menindih tubuh mungil Dina. Dan mulai menghentakkan miliknya yang sudah sangat ingin memuntahkan laharnya kembali.
"aahhh....hentikan sayang...." Dina bergerak liar mulutnya meminta menghentikan, tapi pinggulnya juga ikut bergerak liar
"hentikan?" Toni menghentikan hentakannya "kamu yakin?" Dina yang sudah hampir sampai puncak pun, tak menjawab, ia bergerak semakin liar di bawah kungkungan Toni "sepertinya tubuhmu yang mengingingkan lebih..." Toni mulai menghentakkan miliknya perlahan.
Namun Dina semakin meracau Toni pun terpancing akhirnya ia tak tahan dan mempercepat tempo hentakannya. Tak ada puasnya tak ada lelahnya, Toni mencumbui Dina.
Mereka mendaki puncak kenikmatan bersama, hingga satu jam lamanya. Toni benar-benar melampiaskan kekesalan dan kecemburuannya pada Dina.
Ia ingin Dina selalu menyebut namanya bukan menyebut nama mantannya. Bahkan saat mereka bercinta pun, Toni meminta Dina menyebut namanya berulang kali.
Lahar putih di ronde ke dua telah membanjiri rahim Dina dan Toni pun ambruk di atas tubuh Dina, ia masih enggan mencabut miliknya, menikmati sisa-sisa puncak kenikmatan. Menikmati kedutan-kedutan manja milik Dina yang selalu membuatnya kecanduan.
"sepertinya milikku bengkak" ucap Dina mendorong tubuh Toni dari atas tubuhnya. Toni pun jatuh di samping Dina membuat penyatuan itu terlepas begitu saja "ssshhh....." Dina meringis
Toni pun langsung bangkit, ia melebarkan paha Dina, dan melihat milik Dina, yang terlihat merah dan sedikot bengkak. Toni pun turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat
Toni mulai mengompres milik Dina yang terlihat bengkak itu "maaf...aku tidak bisa mengontrol rasa cemburuku" ucap Toni sambil mengompres milik Dina "aku tidak suka...saat kamu menyebut nama mantan-mantanmu" ada nada kesal dalam ucapan Toni.
Dina hanya diam, pandangan matanya sayu, ia lelah dari semalam Toni seperti orang kesetanan. "awhh..." Dina kembali meringis ketika Toni mengompres bagian yang bengkak
"kenapa harus cemburu? Aku sudah jadi milik kamu seutuhnya" ucap Dina lembut "lagipula aku menyukai yang semalam itu" ucap Dina manja sambil menggigit bibir bawahnya dengan tatapan menggoda
Toni menatap ke arah Dina menyeringai "kamu suka?" Toni merayap ke atas tubuh Dina kembali
__ADS_1
"he em...aku merindukan adik kecilmu itu sayang....sejak kita kembali dari kota S aku tidak pernah merasakannya lagi, aku tersiksa sayang....." ucap Dina mendayu menggoda Toni "dan ternyata dia semakin hebat membuatku tak berdaya" tangan Dina membelai, belalai Toni yang mulai berdiri tegak kembali
"heemm....princessku sudah mulai nakal ya...." Toni mulai menyentuh bagian favoritnya
"aku nakal hanya di depan kamu..." ucap Dina malu-malu dan itu membuat Toni semakin bergairah
"baiklah Nyonya Toni Wijaya....aku akan mengobati kerinduanmu itu, karena adik kecilku sudah mulai susah dijinakkan, bersiaplah untuk menerima amukan adik kecilku ini" Toni mulai memasukkan adik kecilnya pada inti Dina
"aaahhh...." Dina tersentak "siapa takut Tuan Toni Wijaya" Dina mengalungkan tangannya di leher Toni. Toni pun mengangkat tubuh Dina tanpa melepas penyatuan mereka dan menggendongnya masuk ke dalam kamar mandi
Mereka mengulang lagi mendaki puncak kenikmatan berdua. Hanya suara erangan ,******* dan jeritan Dina yang menggema di kamar mandi itu.
Matahari sudah tepat berada di atas kepala, Toni dan Dina sudah tampak rapi setelah melewati lima ronde percintaan. Lutut Dina terasa bergetar, bahkan jalannya pun sudah mirip bebek. Meski begitu Dina tak merasa marah, karena dia yang menginginkannya. Kerinduan yang memuncak serta pertengkaran hebat di antara mereka membuat mereka semakin mengingingkan melebur menjadi satu.
Cinta di antara mereka semakin kuat dan kokoh. Pertengkaran, perselisihan di antara mereka malah membuat mereka menyadari jika mereka berdua sudah tak bisa berpaling lagi.
"aku habiskan ini dulu ya..." ucap Dina tak jelas karena mulutnya penuh dengan makanan. Ia kelaparan karena dari semalam mereka tak berhenti mendaki puncak kenikmatan
Setelah menyelesaikan makannya, Dina pun menceritakan semuanya tanpa ia tutup-tutupi. Sesuatu yang membuatnya kehilangan muka di kampus.
Toni mengepalkan tangannya, ia begitu marah mendengar cerita Dina. Ternyata istri dari teman baiknya itu begitu jahat. Ia tak menyangka di balik wajah cantik dan terlihat lemah lembut itu menyimpan sisi jahat yang membuatnya emosi.
Ia tak bisa membayangkan bagaimana kondisi Dina saat itu, andai dia lebih dulu bertemu Dina, pasti ia akan menjadi tameng untuk Dina dan melindunginya dengan sekuat tenaga.
"aku tidak menyangka dia bisa sekejam itu"
"sudahlah...tak perlu dibahas lagi, dia hanya membuka luka lamaku" Dina menyandarkan tubuhnya di dada Toni.
__ADS_1
"bersiaplah....malam ini kita ke China untuk prewedding" ucap Toni sambil membelai kepala Dina
Dina bangkit dari duduknya dan menatap Toni "kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya? Pekerjaanku bagaimana? Belum lagi aku harus ijin papa dan mama dulu" Dina panik ia merasa belum mempersiapkan semuanya.
"aku sudah mengaturnya, aku juga sudah meminta ijin pada om dan tante" ucap Toni santai
Dina hanya bisa mengerucutkan bibirnya "tapi aku malu...." ucap Dina lirih
"malu? Kenapa?"
"ini...ini..." Dina menyibak rambutnya kemudian ia membuka kancing depan atasannya
Toni tergelak "jadi karena itu? Apa mau aku tambah lagi" goda Toni
Dina reflek menutup bajunya kembali, membuat Toni semakin tergelak. Akhirnya ia yang membereskan barang-barang mereka berdua. Ia tahu ia salah karena tak memberitahu Dina sebelumnya.
Ia pikir Dina akan senang karena bisa pergi ke negera yang selama ini ia ingin kunjungi. Dina pernah mengatakan ingin mengunjungi negara China, lalu Jepang terakhir ke Thailand.
Toni ingin mewujudkan itu mumpung pekerjaannya tidak terlalu banyak, dan juga Vanya yang tidak keberatan jika ia membawa pergi asistennya itu ke luar negeri.
Karena ia telah diberitahu oleh Vanya jika Dina memang disiapkan oleh papanya untuk memegang salah satu anak perusahaan Wijaya Group, namun nanti setelah mereka berdua resmi menikah.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g