
Lima belas menit berlalu, Toni masih menunggu dengan sabar. Ia memperhatikan sekeliling rumah Dina, terlihat sederhana namun terasa sejuk dan asri.
Tiba-tiba Toni dikejutkan oleh suara Dina "cepat sekali Ton?" Dina menghampiri Toni yang duduk di teras
"eh...iya Din...aku sebenarnya sudah siap dari tadi" Toni menggaruk kepalanya yang tidak gatal "sudah membaik?"
"sudah lumayan...mau berangkat sekarang atau nanti?" Dina meletakkan barang-barangnya di kursi dekat Toni
"ini barang-barang yang mau kamu bawa?" Toni menunjuk ke arah tas Dina
"iya..." jawab Dina singkat
"terserah mau berangkat kapan, aku masukkan dulu barang-barang kamu ke mobil" Toni berdiri mengambil tas Dina dan berjalan ke mobilnya yang terparkir di halaman
Dina masuk ke dalam rumah berpamitan ke mama dan papanya. Kemudian Dina keluar lagi diikuti oleh mamanya.
"bawa mobilnya jangan kencang-kencang ya...Ton, Dina sedang sakit" ucap mama Vera
"iya tante.... Kalau Dina demam lagi nanti saya antar ke dokter sekalian" ucap Toni sopan
"aku berangkat dulu ma...." ucap Dina mencium pipi kiri dan kanan mamanya
"hati-hati di jalan, kalau besok belum membaik kamu telepon Wilson, tadi papa sudah menelponnya katanya dia akan ke kosmu nanti" pesan mamanya
"iya...iya...ma..." Dina mengerucutkan bibirnya
"kami berangkat dulu tante..." pamit Toni sopan
"hati-hati di jalan ya..." mamanya Dina melambaikan tangannya
Toni mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rendah. Ia mengingat pesan mamanya Dina. Ia kawatir Dina tidak nyaman jika ia mengemudikan mobilnya seperti biasanya.
Dina melamun, larut dalam pikirannya, tiba-tiba ia tersadar, mereka berjalan terlalu pelan.
"kenapa bawa mobilnya seperti siput Ton?" ucap Dina sedikit kesal
"tadi mamamu bilang aku tidak boleh kencang-kencang bawa mobilnya..." ucap Toni datar
"iya...tapi kalau seperti ini kapan sampainya" Dina kesal
Toni menghela nafas, ia menuruti Dina menambah kecepatan mobilnya. "Din...Wilson itu siapa?" Toni memberanikan diri menanyakan satu nama yang dari tadi terngiang-ngiang di kepalanya dengan dada yang berdegup kencang
"sepupuku" jawab Dina singkat.
Toni merasa lega, mendengar jawaban Dina. Hening, tak ada satu pun yang berbicara, Dina kembali lagi melamun Toni juga fokus kembali mengemudikan mobilnya.
"Nanti, ke kos kakakku dulu ya...baru aku mengantarmu?" Toni melirik Dina yang menatap ke jendela samping
"iya...terserah..." jawab Dina pelan
Toni memegang kening Dina dengan tangan kirinya, memastikan jika Dina baik-baik saja. Namun ternyata Dina sepertinya demam lagi, dahinya terasa panas.
__ADS_1
"kalau sakit kenapa memaksakan ke kos?" tanya Toni dengan nada kawatir
"aku besok ada presentasi tugas" jawab Dina datar "kamu fokus nyetir saja, aku mau tidur" Dina memejamkan matanya
Toni menepikan mobilnya kemudian melepas sabuk pengaman, dan mencondongkan tubuhnya ke arah Dina.
"kamu mau apa?!" Dina panik, Toni hanya tersenyum.
Tangan Toni meraba ke bagian sebelah kursi penumpang kemudian menarik tuas kursi "aku hanya mau menurunkan sandaran kursimu, agar kamu bisa tidur nyaman, lepas saja sabuk pengamanmu" ucap Toni lembut
Toni meraih boneka yang ada di kursi belakang "ini pakai buat menyangga kepala kamu" Toni menyerahkan boneka itu ke Dina.
Setelah memastikan Dina nyaman, Toni melanjutkan perjalanan mereka. Sesekali Toni melirik Dina yang terlihat memejamkan matanya.
"kamu boleh menyalakan radio atau lagu apa saja yang mau kamu dengar biar kamu tidak bosan" ucap Dina sambil memejamkan matanya
Toni pun menyalakan radio di mobilnya, menuruti apa yang Dina katakan. Sesekali ia melirik Dina memastikan Dina tak terganggu dengan suara radio.
Namun Toni melihat ada kesedihan di wajah Dina, ia tak tahu apa yang membuat Dina sedih. Ia tak berani bertanya pada Dina.
Sesekali Toni bersenandung pelan mengikuti lagu yang diputar di radio. Ia tahu Dina tak akan terganggu dengan apa yang ia lakukan. Dulu Dina sangat senang jika ia bernyanyi.
Dalam perjalanan yang begitu panjang ke kota J banyak lagu yang sudah ia senandungkan. Perasaan Toni tak menentu, sedih dan bahagia bercampur menjadi satu.
Resah jiwaku menepi
Mengingat semua yang terlewati
Mendekapku dalam hangatnya cintamu
Lambat sang waktu berganti
Endapkan laraku di sini
Coba 'tuk lupakan bayangan dirimu
Yang selalu saja memaksa 'tuk merindumu
Sekian lama aku mencoba
Menepikan diriku di redupnya hatiku
Letih menahan perih yang kurasakan
Walau ku tahu, ku masih mendambamu
Lambat sang waktu berganti
Endapkan laraku di sini
Coba 'tuk lupakan bayangan dirimu
__ADS_1
Yang selalu saja memaksa 'tuk merindumu
Sekian lama aku mencoba
Menepikan diriku di redupnya hatiku
Letih menahan perih yang kurasakan
Walau ku tahu, ku masih mendambamu
Lihatlah aku di sini
Melawan getirnya takdirku sendiri
Tanpamu, aku lemah
Dan tiada berarti
Sekian lama aku mencoba
Menepikan diriku di redupnya hatiku
Letih menahan perih yang kurasakan
Walau ku tahu, ku masih mendambamu
Sekian lama aku mencoba
Menepikan diriku di redupnya hatiku
Letih menahan perih yang kurasakan
Walau ku tahu, ku masih mendambamu
(Naff ~ Terendap Laraku)
Toni bersenandung mengikuti lagu yang diputar di radio. Ia begitu menghayati lagu itu, lagu itu begitu cocok dengan apa yang ia rasakan selama ini.
"aku masih mendambakanmu Din" batin Toni menoleh ke arah Dina yang terlihat begitu tenang dalam tidurnya. "Kamu tak lebih cantik dari semua teman-teman baruku, tapi kamulah yang terbaik" Toni kembali menatap jalanan di depannya.
"kamu begitu menghayati lagu itu Ton...aku tahu kamu masih berharap padaku, tapi sayangnya aku tak bisa, aku sudah terikat dengan orang lain" batin Dina yang dari tadi ia tidak tidur.
Dina sengaja berpura-pura tidur karena menghindari pembicaraan dengan Toni. Ia terlalu lelah, hidupnya dikelilingi oleh cowok-cowok yang terlalu protektif padanya.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1