Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 199 Tanggal Pernikahan


__ADS_3

Akhirnya setelah satu minggu Dina disibukkan dengan rutinitas barunya, Dina bisa beristirahat di rumah. Akhir pekan yang dinanti semua orang agar bisa berkumpul dengan keluarga tercinta.


Dina bersantai menikmati hari liburnya. Namun tidak dengan mamanya yang sedang sibuk di dapur. Dina tidak tahu akan ada acara apa di rumahnya, mamanya ditanya hanya akan ada teman lama yang berkunjung ke rumah.


Dina ingin membantu mamanya namun dilarang, Dina disuruh membersihkan ruang tamu dan setelah selesai disuruh mandi dan berpakaian rapi.


Dina bingung bertanya pada mamanya namun tak ada jawaban yang memuaskan. Dina hanya bisa menuruti apa yang mamanya mau meskipun penuh dengan tanda tanya besar.


Dina telah selesai mandi, dan juga sudah berpakaian rapi. Dina membantu mamanya menyiapkan peralatan makan di atas meja makan.


Terdengar deru suara mobil memasuki halaman rumahnya. "Din...coba lihat siapa yang datang..." ucap mamanya Dina sambil melepaskan celemek yang ia pakai "oh...ya...nanti tamunya suruh langsung masuk saja, mama mau panggil papa dulu"


Dina pun berjalan ke depan, membuka pintu utama rumahnya. Senyumnya mengembang, yang datang adalah Toni dan papanya. Toni tampak menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya.


Dina mengulurkan tangan, dan meraih tangan papanya Toni "ternyata tamu yang dimaksud mama adalah papa" Dina terkekeh


"papa sengaja merahasiakan kedatangan papa dari kamu"


"ini untukmu...." Toni menyerahkan buket bunga yang tadi dia sembunyikan di belakang tubuhnya


"terima kasih" Dina meraih buket bunga itu, Toni mencium dahi dan pipi Dina.


"ayo masuk dulu pa..." ucap Dina kemudian berjalan bersama papanya Toni masuk ke dalam rumah.


"Yan.." papanya Dina langsung menjabat tangan calon besannya itu "ayo duduk..."


Dina pun ke belakang meletakkan bunga di kamarnya kemudian ia membuatkan minuman untuk calon mertua dan calon suaminya itu.


Dina meletakkan minuman yang ia buat di meja tamu, kemudian ia duduk di sebelah mamanya.


"bagaimana Din...kamu betah bekerja dengan Vanya?" tanya papanya Toni


"baru juga satu minggu pa..." Dina terkekeh "Dina usahakan betah"

__ADS_1


"harus itu...." ucap papanya Toni tersenyum penuh wibawa


"langsung saja Yan...kita tentukan tanggal pernikahan mereka" ucap papanya Dina. Dina membulatkan matanya, ia tak menyangka kedatangan Toni dan papanya adalah untuk membicarakan tanggal pernikahan dirinya dengan Toni.


"tapi pa...Dina ingin bekerja dulu, masih belum ingin menikah cepat-cepat" protes Dina


"Dina...kamu dan Toni sudah bertunangan, mama dan papa tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dengan kalian" ucap mamanya Dina lembut


"tapi kan..." ucapan Dina terpotong


"sayang....waktu lamaran itu kan kita sudah sepakat membicarakan tanggal pernikahan setelah kamu menyelesaikan kontrak kamu" ucap Toni lembut


"tapi Ton..."


"Sayang.....kamu tetap masih bisa bekerja setelah kita menikah, aku tidak akan melarang kamu" ucap Toni lembut.


Para orang tua hanya memperhatikan perdebatan di antara anak-anak mereka. Satu hal yang papanya Dina baru tahu, Toni begitu lembut dan begitu sabar memberikan pengertian pada Dina.


"baiklah..." ucap Dina lirih, percuma ia protes, kedua orang tuanya sudah menyetujui pertemuan untuk membahas tanggal pernikahan mereka.


"aku ingin kalian menikah tahun depan, untuk tanggalnya waktu Dina ulang tahun ke dua puluh empat atau setelahnya" ucap papanya Dina tegas


Dina tak lagi bisa berkata-kata, jika memang pernikahannya saat dirinya ulang tahun berarti itu kurang dari satu tahun lagi.


"aku ingin secepatnya mereka menikah" ucap pak Yanuar santai


"secepatnya?" alis mamanya Dina bertaut


"iya...mereka berdua sudah cukup dekat, tak ada alasan lagi menunda pernikahan mereka" ucap pak Yanuar yang tahu jika hampir satu bulan lamanya Toni dan Dina tinggal bersama di kota S


"secepatnya itu bukan satu bulan lagi kan Yan?" mamanya Dina memastikan


"lebih cepat lebih baik" ucap papanya Toni santai

__ADS_1


"baiklah....enam bulan lagi saja mereka menikah" ucap papanya Dina yang sudah kehabisan kata-kata. Ia berat melepaskan putri satu-satunya untuk menikah namun Dina sudah dewasa dan memang sudah waktunya memiliki kehidupan sendiri.


"enam bulan lagi?" Toni mengetuk-ngetuk dagunya "bagaimana kalau tanggal empat belas februari?" tanya Toni.


Dina ingin protes, namun percuma, suaranya tak akan di dengar oleh mereka. Di sini hanya Dina sendiri yang tidak ingin mempercepat pernikahannya.


"setuju..." ucap papanya Dina tegas


"berarti kita sepakat menikahkan mereka di tanggal itu" ucap papanya Toni


"tapi kalau tanggal itu berarti bukan enam bulan...lima bulan lebih sekit" gerutu Dina


Toni berpindah duduknya, mendekati Dina. Kemudian meraih tangan Dina "sayang...cepat atau lambat kita akan menikah, untuk apa mempermasalahkan berapa bulan atau berapa hari...hemmm?"


"terserah kalian saja lah..." Dina sudah pasrah, ia kehilangan semangatnya mendengar semua tak mendengarkan pendapatnya.


Toni bersorak dalam hatinya, tak lama lagi Dina akan menjadi miliknya selama-lamanya. Keinginan yang selama ini ingin ia wujudkan. Menikahi Dina seorang.


.


Keesokan paginya di kantor Wijaya Group, Dina berjalan dengan langkah gontai memasuki ruangannya, bahkan sapaan dari sekretaris Vanya pun tak ia hiraukan.


Dina menyalakan komputer, mencoba mengalihkan rasa kesalnya dengan bekerja, namun ia tak bisa, pikirannya seolah-olah buntu. Bahkan beberapa berkas yang harus ia periksa masih teronggok rapi di hadapannya. Dina melamun memikirkan dirinya yang sebentar lagi resmi menjadi menantu pemilik Wijaya Group.


Rasanya jika bisa mengulang waktu, ia tak ingin menerima lamaran Toni kala itu. Ia akan menundanya sampai ia lulus kuliah. Tapi sayangnya ia tak bisa memutar kembali waktu.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2