Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 54 Ulang tahun Ani


__ADS_3

Semua mulai membaca buku menu, Ani menggeser buku menu ke arah Toni. Toni meraih buku menu yang diberikan oleh Ani kemudian membukanya dan menunjukkan ke Dina yang duduk diam di sebelahnya.


"ayo Din, kamu pesan apa?" tanya Toni lembut


"sebentar aku baca dulu" ucap Dina tanpa melihat ke arah Toni


"ini enak lho Din, yang ini juga, ini menu favorit di sini" ucap Toni menunjukkan beberapa menu kepada Dina sudah seperti pelayan yang menerangkan menu-menu terbaik di restoran itu


Dina menggeser buku menu ke arah Toni dia tidak mengatakan apapun pada Toni.


"An, tolong pesankan aku apa yang kamu pesan saja deh, aku bingung memilih menunya" ucap Dina ke Ani


"oke Din aku...." ucapan Ani menggantung di udara


"pesankan Dina blackpeper beef steak An, aku juga" ucap Toni ke Ani, sedangkan Dina hanya memutar bola matanya malas.


"Terus minumnya jus alpukat ya....buat Dina juga"


"yang aku pesan itu menu favorit di sini Din, aku yakin kamu pasti suka" ucap Toni yang melihat raut Dina yang agak kecewa karena Toni yang memilihkan menu untuknya.


Dina tak menjawab ataupun menanggapi perkataan Toni. Dina terpaksa hanya karena ingin menyenangkan hati Ani saja. Dina juga ingat sekarang dirinya sudah punya pacar. Dia berusaha menjaga apa yang sudah dia putuskan.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, mereka pun mulai bersenda gurau. Dina hanya diam karena ia merasa sedikit canggung dan tidak nyaman duduk di sebelah Toni.


"kamu kenapa diam saja Din?" tanya Toni lembut


"tidak apa-apa" Dina memaksakan senyumnya


Toni menyadari, Dina diam karena berdekatan dengan dirinya. Toni sendiri sebenarnya sudah yakin untuk sementara waktu menjauh dari Dina untuk memberi ruang untuk Dina.


Tapi mendapat undangan acara ulang tahun Ani, Toni seolah mendapat semangat lagi untuk mendekati Dina. Ia lupa dengan balas dendamnya pada Bian, ia juga lupa kalau ia ingin memberi ruang untuk Dina.


Toni menjadi lemah ketika dihadapkan dengan kesempatan untuk bisa berdekatan dengan Dina. Sekecil apapun kesempatan itu, Toni selalu ingin memanfaatkannya.


Dina lebih banyak melamun, daripada menimpali obrolan teman-temannya. Semua tak luput dari perhatian Roy. Roy tahu jika Dina merasa tidak nyaman, tapi mau bagaimana lagi, semua sudah telanjur.


Akhirnya semua pesanan mereka telah datang, para pelayan membawa pesanan mereka dan meletakkan di hadapan mereka masing-masing.


"eh...hujan ya..." tiba-tiba Ani menyeletuk karena mendengar suara kuah steak yang mendidih di hotplate


Dina reflek langsung menengok ke arah jendela memastikan ucapan Ani.

__ADS_1


"panas ah...An" ucap Dina


"ooaalaaa...suara dari steak nya An" Dina tergelak waktu pelayan mendekat menaruh pesanan mereka di meja


"Ani... Ani...suara kuah mendidih kok dibilang hujan" ucap Toni tergelak


Semua yang ada di meja itu kompak tertawa melihat tingkah konyol Ani


"ya...maaf...aku baru pertama makan beginian" ucap Ani menahan malu


"enggak apa-apa An, aku juga baru pertama kok" ucap Dina menepuk-nepuk bahu Ani


"kamu baru pertama ke sini Din?" tanya Toni yang duduk di sebelahnya


"iya" jawab Dina singkat tanpa menatap Toni


"lain kali aku ajak makan di sini berdua Din" ucap Toni lembut.


Toni masih berusaha mendapatkan maaf dari Dina, meskipun dari tadi hanya memberikan jawaban seperlunya saja tapi Toni masih berusaha sabar karena dia sadar dia telah bersalah kepada Dina meskipun bukan sepenuhnya kesalahan dirinya.


Meski Bianlah yang telah menghancurkan mereka, tapi Toni juga punya andil dalam perpisahan mereka. Jika saja Toni bisa membuat prioritas mana yang lebih penting untuk dirinya pasti keadaan tidak akan menjadi rumit.


Mereka semua makan pesanan mereka, diiringi dengan obrolan ringan dan canda tawa. Dina hanya tersenyum menanggapi candaan mereka semua. Sebenarnya dia ingin segera pulang saja karena malas jika harus lama-lama berdekatan dengan Toni


"sepertinya ada yang sedang perang dingin dari tadi" sindir Fajar


"benar...duduk bersebelahan tapi hanya diam saja..." timpal Bagas


Dina merasa ucapan-ucapan itu tertuju untuknya dan Toni. Dina merasa semakin tidak karuan, ia benar-benar ingin segera pergi dari tempat itu.


"ngomong-ngomong...kita belum mengucapkan selamat kepada Ani" Roy menengahi


"ah...iya...kita sudah makan tapi belum mengucapkan selamat ulang tahun" Toni tersadar


Satu per satu mengucapkan selamat kepada Ani. "An...selamat ulang tahun...maaf kadonya tertinggal di rumah" ucap Dina terkekeh sambil memeluk Ani


"tidak apa-apa...aku sudah senang orang-orang terdekatku bisa menemani aku makan saat ini" Ani mengembangkan senyumannya


"tapi senang kan...? Bisa boncengan dengan Roy?" Bisik Dina menggoda Ani


"kamu juga boncengan dengan Toni, bagaimana rasanya?" bisik Ani sambil menaikturunkan alisnya

__ADS_1


"biasa saja...andai bukan karena ini hari ulang tahunmu aku malas boncengan dengannya" Dina mencebik


"kalian ini kenapa dari tadi bisik-bisik terus" ucap Roy


"ah...iya maaf-maaf..." Ani terkekeh


Dina kembali duduk ke posisi semula. Ia merutuk dalam hatinya, karena waktu berjalan terasa lama sekali.


"jadi Dina dan Toni kalian balikan lagi?" tanya Bagas


Dina mendelik mendapat pertanyaan seperti itu. Kenapa juga semua orang tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi di toilet beberapa waktu lalu.


"aku rasa kalian pasangan serasi, wajah kalian pun tampak mirip" timpal Fajar


Dina makin tidak nyaman karena semua menganggap jika dirinya dan Toni baik-baik saja.


"kita doakan saja mereka bisa bersama lagi" ucap Roy dengan tatapan penuh arti. Dina membulatkan matanya, merasa semakin kesal kepada Roy.


"aku doakan semoga kalian berjodoh" ucap Danu yang dari tadi hanya diam mendengarkan obrolan teman-temannya


"eh...Danu akhirnya bicara..." dorak Bagas "biasanya apa yang dikatakan Danu sering terjadi lho..."


"amin...." Toni mengembangkan senyumannya


Dina menatap datar Danu dan membuat Danu menyadari jika ia telah salah berbicara.


"ayo tunggu apalagi, semua mendukung kalian untuk balikan lagi" ucap Fajar


"sayangnya itu tidak mungkin terjadi" ucap Dina dengan nada kesal


Toni menoleh ke arah Dina, dan senyum yang tadi begitu mengembang perlahan memudar. Toni lesu, mendengar ucapan Dina di depan banyak orang. Jika saja hanya berhadapan dengan Dina Toni tak akan sedih.


Tak terasa mereka sudah dua jam menghabiskan waktu di restoran 'S' Ani bangkit berdiri untuk membayar tagihan makanan yang mereka pesan tadi. Dina juga ikut bangkit menyusul Ani ke kasir menemani Ani.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


.


__ADS_2