
Dina selesai kuliah jam dua kurang lima menit. Ia sengaja tak mengabari Toni, ia ingin pulang berjalan kaki, sudah lama ia tidak menyusuri jalanan dari kampus ke kosnya karena kalau tidak naik motor sendiri ia akan diantar jemput oleh Toni.
Dina menuruni tangga, ia ingin membaca pengumuman yang ada di lobi. Saat sampai di anak tangga terakhir, tampak seorang yang tak asing, berpakaian rapi menghampirinya.
"mbak Dina sudah selesai kuliah?" tanya Ridwan
"sudah"
"saya disuruh mas Toni menjemput mbak Dina"
Dina menghela nafasnya "lain kali bilang ke Toni, aku nggak perlu dijemput, kasihan kamu jauh-jauh datang ke kampus cuma mau jemput aku yang kosku saja cuma berjarak lima menitan kalau jalan kaki" Dina mencoba bersabar
"mas Toni hanya ingin mbak Dina selamat sampai rumah"
"iya...kamu tunggu sebentar, aku mau baca pengumuman dulu" Dina meninggalkan Ridwan yang masih berdiri di tangga lobi fakultas
Dina menyadari dari tadi semua memperhatikannya berbicara dengan Ridwan karena penampilan Ridwan terlalu rapi untuk seorang mahasiswa.
Ridwan memperhatikan Dina dari jauh, ia diminta Toni mengawasi dan menjaga Dina. Namun di luar dugaannya, Dina tidak menyukai jika ia diperlakukan spesial oleh Toni, padahal banyak karyawan di perusahaan Toni ingin diperhatikan lebih oleh Toni.
"ayo kita pulang..." Dina menghampiri Ridwan
"kita langsung pulang ke rumah mas Toni?"
"kira-kira kamu harus cepat balik ke kantor nggak Wan?"
"tergantung, kalau mbak Dina butuh bantuan saya, saya bisa menundanya" ucap Ridwan sopan sambil membuka pintu mobil untuk Dina
"nggak jadi saja, kamu kerja aku nggak mau ngrepotin kamu" Dina membuka pintu depan sisi penumpang "aku duduk di depan, nggak sopan kalau aku duduk di belakang" ucap Dina naik ke mobil
"nanti kalau mas Toni tahu saya dimarahin" Ridwan menyalakan mesin mobilnya
"asal kamu nggak cerita nggak ada yang tahu" Dina memakai sabuk pengamannya "antarkan aku ke kos saja ya Wan..."
"tapi mbak...nanti saya dimarahi mas Toni...mbak mau kemana saya antar dulu, mas Toni berpesan mbak harus ditemani sampai mas Toni pulang"
"ya ampun....sebenarnya ada apa...beberapa hari terakhir aku seperti tahanan nggak boleh pergi sesuka hati" Dina kesal
"demi keselamatan mbak Dina kata mas Toni..."
"memangnya kenapa? biasanya juga aku kemana-mana sendiri"
"mas Toni hanya takut ada yang berniat buruk dengan mbak Dina"
"memangnya aku siapa kenapa harus dikawal kayak pejabat aja" Dina kesal
__ADS_1
"mbak Dina kemarin habis bertemu mantan mbak Dina kan?"
"terus apa hubungannya?"
"mantannya mbak Dina itu anaknya saingan bisnis mas Toni"
"hah? kan cuma saingan bisnis Toni, lagi pula yang punya perusahaan bukan bapaknya dia, tapi ada orang lain, bapaknya itu hanya orang kepercayaan saja Wan" Dina tak habis pikir, ternyata hanya karena alasan sepele Toni jadi mengekang Dina
"oh...begitu ya mbak...mas Toni tahunya dia anak pemilik perusahaan Maju Lancar"
"makanya jangan sok tahu, tanya dulu...bukannya Toni juga harusnya tahu, dia kan kakak kelas kita waktu SMA" Dina benar-benar kesal dengan Toni "atau hanya alasan dia saja, karena dia sedang cemburu?"
Ridwan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pikirannya sama dengan apa yang Dina pikirkan, Toni memberitahu cerita tentang Bimo yang menurutnya hanya karangan Toni saja.
Ridwan hanya geleng-geleng kepala menghadapi bosnya sekaligus teman mainnya waktu masih kecil yang tingkahnya konyol sejak bertemu lagi dengan Dina.
Acara ketika Toni menyatakan perasaan ke Dina sebenarnya di luar rencana panitia family gathering perusahaan. Tiga hari sebelum acara tiba-tiba Toni memintanya menyisipkan dia yang tampil bernyanyi untuk Dina, padahal di awal panitia memintanya mengisi acara tapi Toni tidak mau.
"mbak ini sudah sampai kos...nanti kalau mas Toni marah bagaimana?" Ridwan sedikit ketakutan, karena tempramen Toni jika terhadap bawahannya yang tidak menuruti perintahnya menakutkan "mas Toni itu kalau marah menakutkan mbak...bisa-bisa saya dipecat"
"hah...masih belum berubah?" Dina masih belum turun dari mobilnya
"saya mengenalnya dari kecil mbak, mas Toni kalau marah serem, tapi sejak SMA sudah mulai berkurang tapi pernah ia marah besar sama non Fara entah diapakan saya tidak tahu pokoknya setelah itu non Fara takut bertemu mas Toni"
"ya sudah...antar aku ke toko buku ya...ada yang harus aku beli, setelah itu kita ke rumah Toni" Dina mengalah ia tak mau Ridwan atau siapapun terkena masalah karena dirinya "lain kali kalau Toni menyuruh kamu, kamu cukup mengawasiku dari jauh saja, aku nggak mau jadi bahan pembicaraan orang-orang"
.
Pukul lima sore Dina telah sampai di rumah Toni. Ia segera mandi kemudian ia memasak makanan untuk mereka makan malam. Setelah makan malam ia ingin berbicara pada Toni.
Toni sampai rumah ketika Dina masih sibuk memasak, Dina tak menyadarinya. Dari belakang Toni memeluk Dina erat "masak apa sayang?"
"bisa tidak kalau datang itu bersuara? Aku hampir saja terkena serangan jantung" gerutu Dina
"iya...iya maaf..." ucap Toni kemudian mengecup bahu Dina
"mandi dulu, sebentar lagi selesai" ucap Dina
"baik princess sayang..." Toni berjalan meninggalkan Dina di dapur naik ke kamarnya
Setelah makan malam selesai, mereka berdua menonton tv di ruang keluarga. Toni sesekali menjawab telepon dari siapa Dina tidak tahu.
"sayang..." ucap Dina manja
"apa? Hmm..." ucap Toni
__ADS_1
"kamu percaya aku kan?"
"iya...aku percaya..."
"kalau percaya biarkan aku menjalani hari-hariku seperti biasa ya..." ucap Dina dengan tatapan memohon
"maksudnya?"
"ya...aku kuliah...pergi dengan teman-temanku...tidur di kosku menghabiskan waktu dengan teman-teman kosku seperti dulu-dulu"
"jadi kamu minta putus?"
"hah...?!" Dina terkejut "kenapa berpikiran seperti itu?"
"itu kamu ingin bebas..."
"Toni...aku hanya ingin sedikit kebebasan, seperti kesepakatan kita di awal asal aku bisa jaga diri dan jaga hati untukmu, kamu tidak masalah" ucap Dina sambil memeluk Toni
"Din...kali ini aku pacaran serius, nggak main-main, aku ingin kita lebih dekat tidak seperti waktu kita SMA dulu"
"aku juga sama...aku juga serius menjalani hubungan ini, namun....beberapa hari terakhir aku terkekang Ton...belum lagi jadi bahan gunjingan karena pagi kamu antar siang dijemput orang lain lagi" Dina mengerucutkan bibirnya
"baiklah....asal kamu nyaman...tapi aku tetap ingin sepulang aku kerja kita bisa menghabiskan waktu bersama dan kamu menginap di sini" ucap Toni memeluk Dina
"tapi jangan setiap hari aku menginap di sini...sesekali saja..." Dina mengerucutkan bibirnya
"iya...iya...asal kamu bahagia" Toni mwngecup dahi Dina "tapi malam ini kamu tidur di sini ya...besok pagi aku berangkat, mungkin satu atau dua minggu aku baru kembali"
"terus ujian kamu?"
"masih satu minggu lagi, aku usahakan sudah berada di sini lagi" ucap Toni lembut "selama aku pergi terserah kamu mau di sini atau di kos, kalau mau di sini kamu bisa bawa teman atau aku akan meminta Raya menemanimu"
"iya...terima kasih sayang, itu bisa diatur" Dina mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Toni, ia merasa bahagia, ia diberi kepercayaan lagi oleh Toni.
Hari ini ia begitu lelah menghadapi banyak hal, sempat hatinya goyah karena bertemu dengan Dendy. Namun Toni mampu membuat dirinya merasa pulih kembali, merasa begitu dicintai.
Baru beberapa bulan ia kembali menjalin hubungan dengan Toni, masih terlalu dini untuk memutuskan menuju ke jenjang berikutnya, apalagi kuliahnya belum selesai. Dina masih butuh waktu, meskipun Toni sering mengungkit masalah keseriusannya menjalin hubungan dengan Dina.
Toni tak ingin memaksa, seperti dulu ia mendekati Dina. Ia ingin Dina dengan sendirinya meyakini jika memang mereka berdua ditakdirkan bersama.
.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g