
Sebulan berlalu, hubungan Toni dan Dina masih jalan di tempat padahal rencana pernikahan mereka tidak sampai tiga bulan lagi. Dina tetap bersikap profesional di kantor mendampingi dan membantu Toni mengurus perusahaan.
Dina masih saja menolak jika Toni ingin mengajaknya pergi keluar berdua atau hanya sekedar mengantarnya pulang. Toni semakin frustasi, ia bisa berdekatan dengan Dina namun ia tak bisa menyentuh Dina sesuka hatinya.
Jangankan berpegangan tangan, mengajaknya membicarakan rencana pernikahan mereka saja Dina hanya diam. Berbagai cara telah Toni lakukan agar Dina mau bersikap padanya seperti dulu lagi.
Toni sungguh tersiksa dengan kondisi hubungannya kini, berdekatan namun seperti dua orang asing. Ia tak mau melepaskan Dina tapi ia juga bingung bagaimana meluluhkan Dina kembali.
"ulang tahun Wijaya Group tinggal sepuluh hari lagi, aku harap acara itu bisa berjalan sangat meriah" ucap Toni tegas saat meeting di kantor membahas acara yang akan digelar beberapa hari lagi "aku menunjuk Dina sebagai koordinator acara, semua yang terlibat bisa berbicara dengan dia" Toni menarik satu sudut bibirnya ke atas. Ia ingin membuat Dina berada di kantor sampai malam, agar ia bisa terus dekat dengannya.
Dina terhenyak, pekerjaannya sudah banyak, kini ditambah lagi dengan acara ulang tahu perusahaan. Dina hanya bisa mengangguk karena bosnya yang memerintah.
"jika tidak ada pertanyaan meeting kali ini cukup sampai di sini" Toni pun berdiri dan keluar dari ruang meeting.
Dina, Rama dan beberapa karyawan lainnya masih di ruangan itu untuk membicarakan detail acaranya. Dari balik pintu Toni melihat Dina yang tampak sibuk menuturkan konsep acara yang ingin dibuatnya pada team yang akan bekerja mempersiapkan seluruh acara itu.
"Din...kalian baik-baik saja kan...?" bisik Rama, Dina mengerutkan dahinya "kamu dan bos" Dina hanya menjawab dengan senyuman.
"semua sudah mengerti tugas masing-masing kan?" tanya Dina pada teman-temannya
"sudah..." ucap semuanya serentak
"baiklah...sekarang mulailah bekerja" ucap Dina dengan senyuman terbit di wajahnya
Mereka orang-orang yang dipilih Dina untuk mempersiapkan acara ulang tahun perusahaan yang menaungi mereka itu. Semua merasa cocok bekerja dengan Dina karena Dina orang yang cekatan dan tidak pelit ilmu.
Dina berjalan terburu-buru kembali ke ruangannya karena masih ada setumpuk dokumen yang akan ia periksa. Dina tak memperhatikan jalannya, di depannya ada kabel vacuum cleaner yang menjuntai di lantai.
Bughh....aauwwhhh...
Dina terjatuh, semua yang ia pegang berhamburan, Rama yang berdiri tak jauh darinya langsung berlari menghampiri Dina "kamu tak apa Din?" tanya Rama memegang kaki Dina
__ADS_1
"aku baik.."
"sayang....." Dina menoleh ke arah Toni yang membuka pintu ruangannya kemudian berlari menghampiri Dina "singkirkan tanganmu dari kakinya!" Ucap Toni dengan nada tidak suka. Rama langsung menarik tangannya.
"kamu baik-baik saja? Mana yang sakit hem?" Toni panik kemudian memegang tangan tubuh serta kaki
"aku baik-baik saja" Dina mencoba bangkit berdiri namun sayangnya kaki kirinya tak bisa menopang tubuhnya "aaahhh..." Dina hampir terjatuh Toni dengan sigap menggendong Dina
"kamu...! Bereskan barang-barang Dina dan ambilkan es untuk mengompres kakinya" ucap Toni sebelum menghilang di balik pintu ruangannya.
Toni mendudukkan Dina di sofa di ruangannya kemudian melepas sepatu berhak tinggi dari kaki Dina "aassshhh...." Dina meringis
"apa ini sakit?" Toni menyentuh pergelangan kaki Dina yang tampak merah dan dijawab dengan anggukan.
Tak lama Rama masuk membawa sebaskom es batu dan juga kain, ia letakkan di meja di depan Dina.
"kamu handel dulu pekerjaan Dina..." ucap Toni pada Rama. Rama pun keluar dari ruangan Toni
"ini tandanya kamu harus istirahat, kamu terlalu sibuk akhir-akhir ini" ucap Toni sambil mengompres kaki Dina
"bagaimana aku istirahat, banyak masalah di anak perusahaan, lagipula kamu memberiku tugas menangani acara ulang tahun perusahaan" gerutu Dina
"biar Rama yang mengambil alih semua, kamu istirahatlah dulu" Toni menatap Dina, ia begitu merindukan Dina yang selalu cerewet yang selalu perhatian padanya. Namun akhir-akhir ini Dina lebih banyak diam ia hanya berbicara masalah pekerjaan dengannya.
"kamu istirahatlah dulu, aku akan menyelesaikan pekerjaanku setelah itu aku akan mengantarmu pulang"
Toni berjalan ke mejanya, dan menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda. Satu jam berlalu, Toni sudah menyelesaikan pekerjaannya.
Ia pun berjalan dan duduk di sofa sebelah Dina "sudah lebih baik?" tanya Toni mengambil kain dari atas kaki Dina
"lumayan..." ucap Dina melihat kakinya "sudah bisa aku gerakkan meskipun sedikit sakit"
__ADS_1
"aku antar pulang ya? Sebelum itu ke rumah sakit dulu, aku ingin memastikan kamu baik-baik saja" ucap Toni menggendong Dina kembali membawanya turun ke parkiran mobil.
"aku bisa jalan sendiri, tak perlu kamu gendong, malu..." ucap Dina lirih
"kenapa mesti malu, kamu calon istriku..."
"tidak semua orang tahu kalau kita telah bertunangan" ucap Dina saat mereka telah sampai di depan mobil Toni.
Toni mendudukkan Dina di kursi penumpang, kemudian ia masuk di sisi pengemudi. Toni membawa Dina ke rumah sakit terdekat melakukan pemeriksaan pada kakinya.
Setelah satu jam menunggu hasil rontgen, dokter yang menangani Dina menjelaskan jika Dina baik-baik saja, hanya terkilir, tidak ada yang perlu dikawatirkan.
Setelah lega mendengar penjelasan dokter Toni mengantar Dina pulang ke rumahnya. Lagi-lagi Toni menggendong Dina masuk ke dalam rumah.
"tolong bawa Dina ke kamarnya sekalian" ucap mamanya Dina. Toni pun menggendong Dina masuk ke kamarnya. Ini pertama kali Toni masuk kamar Dina. Kamar yang tidak terlalu luas, bernuansa kuning warna kesukaan Dina, tak banyak hiasan di kamar itu, hanya beberapa foto Dina bersama teman-temannya dan juga foto bersama dirinya waktu bertunangan.
"terima kasih...ini sudah malam...pulanglah ucap Dina"
"kenapa harus berterima kasih, ini sudah kewajibanku menjaga dan merawatmu" ucap Toni menarik kursi dan duduk di hadapan Dina
Dina diam tak menanggapi ucapan Toni. Meski dalam hatinya ia merasa sangat senang karena Toni masih begitu perhatian padanya setelah ia mendiamkan Toni.
"istirahatlah....besok kamu tidak perlu ke kantor..." Toni berdiri kemudian mengecup dahi Dina "aku pulang dulu" meski berat meninggalkan Dina dalam kondisi sakit namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Mereka berdua belum menikah, orang tua Dina pasti tak mengijinkannya jika ia ingin menginap di sana.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1