
Dina tidak mau pertengkaran seperti ini terjadi. Ia menginginkan semua baik-baik saja. Andaikata mereka harus berpisah, Dina ingin berpisah secara baik-baik saja.
Dina berprinsip, berawal teman berakhir juga teman. Dina tak ingin menyakiti siapapun. Meski tak bisa dipungkiri setiap perpisahan pasti ada yang tersakiti.
"selama ini kamu dekat dengan Widi, jangan dikira aku tidak tahu ya...!" ucap Toni dengan nada tinggi
"oh...begitu..siapa yang mengatakan aku dekat dengannya? Pasti teman-temanmu itu!" ucap Dina kesal
Toni tak bisa menjawab, ia tak pernah melihat Dina benar-benar dekat dengan cowok manapun. Dina hanya bersikap baik kepada semua orang. Ia mengetahui hal itu juga dari teman-teman dekatnya.
"apakah pernah kamu melihat sendiri dengan matamu kalau aku dekat dengan cowok lain selain kamu?!"
Toni lagi-lagi tak bisa menjawabnya, ia hanya diam membenarkan perkataan Dina.
"aku melihat kamu dekat dengan cewek lain, tapi aku hanya diam, tidak pernah protes atau marah, karena aku masih percaya padamu, tapi kamu tidak melihat sendiri kamu bisa menuduhku, benar-benar luar biasa...!" Dina tertawa
"siapa Din? Aku tidak pernah dekat dengan siapapun!" ucap Toni
"tidak perlu aku sebutkan siapa, ada banyak saksinya!"
"sudahlah... Kamu lebih mendengarkan ucapan teman-temanmu, untuk apa kita bersama, lebih baik kita akhiri semua" ucap Dina menahan amarahnya
"aku tidak seperti yang kamu tuduhkan Din...!" kilah Toni
"aku tidak menuduhmu, aku mendengar sendiri pembicaraan kalian, untuk apa kita masih bersama jika kamu tidak percaya padaku, kamu tidak pernah ada waktu untukku, bahkan aku sakit pun kamu tidak peduli!" ucap Dina dengan tatapan sinis.
Awalnya Dina merasa berat untuk memutuskan hubungan mereka, tapi mendengar tuduhan-tuduhan Toni, Dina semakin yakin jika memang ia harus berpisah dari Toni.
"baiklah...kita putus, dengan satu syarat..." Toni menjeda ucapannya "jika besok kamu punya pacar lagi, jangan pernah bermesraan di hadapanku"
__ADS_1
"egois sekali kamu....baiklah kalau itu mau kamu, jangan pernah menyesal jika ternyata kamu salah memilih teman!"
Dina meninggalkan Toni yang duduk termenung sendiri. Dina pulang dengan perasaan sedih dan marah. Ia sangat menyayangi Toni, ia berat jika harus berpisah dari Toni, tapi ia juga tidak mau diabaikan.
.
Beberapa hari berlalu, Dina dan Toni menjaga jarak mereka. Dina berpindah tempat duduknya jauh dari meja Toni. Mereka berdua benar-benar seperti orang asing yang tidak pernah saling mengenal.
"Ton..... Dina kenapa? Kenapa dia berpindah tempat duduk?" Roy bingung. Karena tak ada satupun yang mengetahui jika mereka berdua telah putus.
"aku dan dia sudah putus Roy..." jawab Toni datar
"kapan? Kenapa bisa?" Roy mengerutkan dahinya
"sabtu lalu" jawab Toni datar
Toni diam, dalam hati kecilnya ia merasa kehilangan. Tapi teman-teman dekatnya menghiburnya, memang sudah seharusnya dirinya dan Dina putus.
Di satu sisi ia begitu kehilangan Dina, tapi di sisi lain ia juga membenarkan jika Dina memang harus segera ia putuskan karena sudah berani menghianatinya.
Tiga bulan lamanya mereka berpacaran, tidak banyak kenangan yang terukir dalam hatinya. Sebagian besar waktunya ia habiskan bersama teman-teman barunya.
Teman-teman yang memberi pengaruh buruk kepadanya tapi ia belum menyadarinya. Ia masih dibutakan dengan kekompakan tim mereka.
Dina pun juga merasaka kehilangan yang begitu dalam. Pengalaman pertamanya memiliki pacar, ternyata tak seindah di awal. Di awal hubungan mereka, Toni begitu romantis, begitu perhatian padanya.
Sadar atau tidak, Dina mulai tergantung dengan Toni. Dina juga yang mengubah Toni menyalurkan emosinya pada aktivitas fisik. Begitu juga Toni mengubah Dina menjadi cewek yang lebih sabar dan tidak mudah terpengaruh oleh ucapan-ucapan orang di sekitarnya.
"Din.... Kamu baik-baik saja kan?" tanya Roy menghampiri meja Dina
__ADS_1
"aku baik, memangnya ada apa Roy?" tanya Dina heran
"aku baru tahu, kalau kalian sudah putus" ucap Roy dengan raut wajah sedih
"hah?! Kalian putus?!" Rani dengan raut wajah terkejut "pantas saja kita duduknya pindah" Rani begitu terkejut mendengar ucapan Roy baru saja.
"sudah...tidak perlu dibahas lagi, orang yang kalian bahas, sudah bahagia" ucap Dina tersenyum tipis
"maksudmu Din?"
Dina hanya menjawab dengan senyuman. Ia merasa menyesal sekaligus lega. Setidaknya sekarang dia bebas tak punya ikatan dengan Toni.
Dina masih menyimpan cincin pemberian Toni. Ia menyimpannya karena menghargai pemberian Toni. Meskipun ia merasa tersakiti tapi Dina tak membencinya.
Dina hanya menghindar, mengurangi interaksinya dengan Toni. Dan juga ia menghindari semua yang berhubungan dengan Toni. Dina bisa melihat wajah angkuh penuh kemenangan dari seorang Bian yang berhasil memisahkan dirinya dengan Toni.
Dina tidak tahu kenapa teman-teman Toni tidak menyukainya. Selama ini ia selalu berbuat baik kepada siapapun tanpa membeda-bedakan teman.
Dina kembali menenggelamkan dirinya dalam tumpukan buku. Setiap ada waktu luang, ia menghabiskannya di perpustakaan. Dina hanya ingin ketenangan, ia hanya ingin melupakan semua perasaannya kepada Toni.
Dina merasa hanya belajar lah pelarian yang tepat untuk dirinya. Di perpustakaan tidak ada pandangaan yang menghakiminya, tidak ada yang menggunjingkannya.
Di perpustakaan juga, ia mengenal lebih banyak teman. Mengenal kakak-kakak kelas yang begitu baik terhadapnya. Teman-teman baru yang bisa menghiburnya.
Melupakan dari segala yang baru saja ia alami. Melupakan perasaannya pada Toni. Tapi ternyata tak semudah itu ia melupakan perasaannya kepada Toni.
Yang mampu ia lakukan adalah mengubur rasa yang ada di hatinya jauh di lubuk hatinya.
B e r s a m b u n g
__ADS_1