Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci

Mencintai Perempuan Yang Anak Ku Benci
Ditungguin dong


__ADS_3

Suni langsung pergi ke cafe untuk bertemu dengan bosnya dia tak langsung pulang, namun langsung ke cafe tempat kerjanya, tempat kerjanya yang dulu teman-temannya bahkan menyambut Sani dengan senang karena bisa bekerja lagi dengan Sani.


"Akhirnya San kamu bisa kerja lagi di sini. Aku senang banget tahu nggak sih waktu Bos bilang kalau kamu bakal kerja lagi di sini senang banget pokoknya, gak nyangka juga kamu bisa kerja lagi disini pokoknya aku seneng banget "


"Iya aku juga senang banget bisa kerja lagi di sini dan sama kamu lagi. Aku juga nggak nyangka loh Bos bisa datang ke rumah aku dan yah bolehin aku buat kerja lagi aku seneng banget tahu, aku tuh emang lagi benar-benar butuh pekerjaan dan bos datang nawarin, ya nggak mungkin lah aku tolak aku juga lagi butuh kan aku terima. Ya udah deh aku mau ke atas dulu ya mau ambil seragam baru."


"Ya udah gih sana aku tunggu ya, jangan lama ya San nanti kita ngobrol ngobrol lagi ya "


Sani mengangguk dan segera naik ke lantai atas menemui bosnya. Sebelumnya dia sudah mengetuk pintu dan Bosnya juga sudah mempersilakannya untuk masuk "kakimu sudah baik-baik saja San dan kau bisa bekerja sekarang,"


"Iya Pak saya sudah baik-baik saja, kaki saya juga tidak terlalu sakit jadi kenapa saya harus menunda-nunda pekerjaan ini, Lebih baik saya bekerja dari pada diam di rumah tidak ada kerjaan Pak"


"Baiklah seragam kamu, jadwal kerja kamu sama seperti dulu ya tidak ada yang berubah selamat bekerja, dan bergabung lagi di cafe saya ini, semoga kamu betah dan tidak akan keluar-keluar lagi ya"


"Terima kasih Pak saya permisi dulu untuk keluar dan bekerja pak "


"Iya silahkan"


Sani keluar dari dalam ruangan itu dengan senyumnya yang tak pernah luntur dari bibirnya, sungguh dirinya sangat senang selalu Sani masuk ke dalam ruangan karyawan dan menyimpan bajunya serta tasnya di dalam loker dan menggantinya menjadi seragam kerjanya.


"Semangat San kamu akan kerja lagi, dan kamu harus semangat buat cari uang buat ayah berobat dan juga buat sekolah kamu, kamu harus bisa hadapin semua ini kamu harus berjuang sendiri dan kamu harus kuat menghadapi semua ini" Sani mencoba menyemangati dirinya sendiri.


Sani yang sudah siap segera menghampiri temannya dan menunggu pelanggan yang akan memesan.


Tiba-tiba Sani dan temannya Bintang dipanggil oleh temannya yang sedang memasak, untuk membantunya menghidangkan semua makanan itu di meja itu yang banyak sekali anak remaja.


Sani dengan semangat mengangguk dan pergi bersama Bintang untuk menghidangkan semua makanan ini"Permisi ini makanannya" ucap Bintang


Sani pun segera mengikuti Bintang dan menyajikan semua makanan dan minumannya di meja, tiba-tiba ada yang memanggilnya "Sani ini kamu kan kerja lagi San disini, kenapa tiba-tiba kerja lagi udah nggak ada yang biayainnya sekarang"


Sani mendongakkan kepalanya dan ternyata itu teman temannya, yang bertanya itu ada Bella bahkan Mira pun ada di sini, pokoknya semua orang ada disana kecuali dirinya saja yang memang bekerja.


"Iya aku kerja lagi di sini, dan juga tentang bicara kamu itu jangan asal-asalan ya karena aku nggak pernah dibiayain sama siapa-siapa"


"Oh pantesan tadi izin ya buat kerja ternyata, lebih penting ya kerja dari pada sekolah, Ya udah kalau gitu lo keluar aja dari sekolah, nggak usah masuk lagi kerja aja lo ngapain masuk sekolah juga, cuman akan menghambat semuanya"


"Enggak kok tadi izin aku emang mau ke dokter periksa kaki dan tangan aku dan setelah pulang dari sana aku langsung kerja, Emangnya itu sekolah punya kamu ya sampai-sampai kamu larang-larang aku buat sekolah. Ya udah aku permisi dulu"


"Tunggu dong kok cepet-cepet sih harusnya kamu tuh kumpul sama kita sama teman-teman ini, ko malah kerja jadi pelayan lagi nggak banget tau gak sih, dan sekolah juga kenapa harus masukin orang miskin kayak kamu"


Alvaro hanya bisa menatap Sani saja dia tidak bisa membantu Sani, sedangkan Arzan dia malah fokus dengan ponselnya tidak tahulah ada apa dengan dia, biasanya selalu membela Sani namun sekarang dia hanya diam saja.

__ADS_1


Mungkin saja dia sedang sariawan ya. Jadi tidak mau berbicara atau membelany. Ya sudahlah dirinya juga tidak berminat untuk dibela oleh siapa-siapa.


"Tidak apa-apa Bella yang penting aku kerja halalkan, aku bukan menjadi wanita nakal demi uang aku menjadi pelayan dan ini halal uangnya kok dan aku juga tidak merepotkanmu kan aku tidak meminta uang padamu kan, dan aku juga tidak meminta biaya sekolah padamu kan, jadi tidak masalah kan kalau aku menjadi pelayan di sini. Lebih baik aku bekerja dari pada sepertimu hanya mengandalkan orang tuamu saja. semuanya permisi selamat menikmati"


Sani langsung pergi meninggalkan semua teman-temannya dan melayani yang lain, sedangkan Alvaro tiba-tiba izin untuk ke kamar kecil "aku izin dulu ya mau ke kamar kecil dulu, sebentar kok nggak akan lama"


"Ok Alvaro"


Alvaro saat melihat teman-temannya sedang asyik mengobrol langsung menarik tangan Sani untuk pergi ke pojokan sana, yang tidak terlihat oleh teman-temannya.


"Lo kenapa kerja lagi, bukannya kaki lo masih sakit ya sama tangan lo juga. Kenapa sih lu nggak bisa banget diam di rumah kalau sakit itu diam di rumah jangan malah kelayaban dan kerja"


"Aku nggak bisa Al kalau aku diam aja di rumah aku mau makan apa, aku udah bilang kan sama kamu kalau aku harus biayain pengobatan Ayah aku dan aku juga harus biayain sekolah aku sendiri. Makanya aku nggak bisa berleha leha aja, aku harus kerja aku gak bisa kayak kalian "


"Ya udah deh gue bakal bantuin lo, tapi lo jangan kerja lagi gue bisa ngebantu lo buat biaya sekolah lo dan semuanya. Gue bakal tanggung semuanya"


"Kamu mau tanggung semuanya sedangkan kamu aja belum kerja Alvaro, kamu aja masih minta kan sama Papih kamu. Aku nggak mau repotin kamu. Aku nggak mau nanti bila orang-orang berfikir aku cuman manfaatin kamu aja saat berteman sama kamu, jadi aku nggak mau repotin kamu kita berteman ya berteman, tapi urusan semuanya urusan sekolah urusan biaya dan segalanya biar aku aja yang ngurus Alvaro, aku masih bisa kok urus semuanya kamu lebih baik kumpul lagi sama teman-teman, nanti mereka curiga dan ada yang pergokin kita lagi ya, kamu balik lagi aja sama temen-temen aku juga mau kerja lagi ini hari pertama aku kerja loh"


Sani langsung pergi ke arah dapur dan Alvaro hanya menggaruk kepalanya, Susah dibilangin banget tuh anak. keras kepala banget sama seperti dirinya keras kepala.


Alvaro Langsung kembali berkumpul dengan teman-temannya dan mengobrol, namun matanya tak henti hentinya menatap Sani yang sedang melayani semua tamunya dengan ramah dan senyumnya yang tak pernah hilang dari bibirnya.


"Sayang kamu tuh lagi liatin apa sih dari tadi kita itu ajak kamu ngomong, tapi kamu kenapa sih kayak gitu terus"


"Udah ah kamu nyebelin, lebih baik aku pulang aja ah, kamu udah gak asik dari tadi melamun aja, siapa sih yang kau lamunin sebenernya. "


Bella langsung pergi meninggalkan pacarnya disusul dengan yang lainnya juga berpamitan untuk pulang, tinggal Alvaro saja yang diam di sana masih menatap Sani, dia belum mau pulang masih ingin melihat bagaimana pekerjaan Sani saat di sini.


**


Malam pun tiba tak terasa waktu pulang pun sudah tiba, Sani langsung pergi ke dalam ruang ganti dan mengganti pakaiannya menjadi seragamnya lagi, pekerjaannya sudah selesai dan sekarang waktunya pulang diganti oleh yang baru.


"Sani aku duluan ya "pamit Bintang


"Iya hati-hati ya Bintang "


"Iya San"


Sani sudah siap dan akan pulang semuanya sudah beres saat dia melewati meja teman-temannya yang tadi dia melihat Alvaro yang masih diam dan menatapnya.


"Kamu ngapain masih di sini. Bukannya pulang teman-teman yang lain kan udah pada pulang kok kamu belum sih, ini udah jam 09.00 harusnya kamu tuh udah di rumah bukannya masih nongkrong di sini"

__ADS_1


"Gue lagi tunggu lo pulang ayo kita pulang bareng, Gue juga penasaran gimana sih kerja lo di sini apa sih yang lo lakuin gitu"


"Nggak salah, ya aku kerja kayak gitu kayak tadi ngelayani pembeli. Ya udah pokoknya gitu, aku kerja harus gimana harus salto gitu"


"Nggak juga ayo pulang sudah malam juga, ini udah jam 09.00 malam , lo kerja keterlaluan banget tau nggak sih pulang jam segini, perempuan tuh nggak boleh pulang lama-lama eh maksudnya malam-malam"


Sani segera berjalan di samping Alvaro "Ya mau gimana lagi itu udah kerjaan aku, masa aku mau pulang jam 08.00 gitu nanti aku dipecat dong. Apa lagi aku tuh ambilnya yang sip siang dan emang bener-bener pulang sekolah banget jadinya gimana lagi aku pasti pulang malam, bahkan kalau aku ambil yang sore kalau ada kerja kelompok aku bisa kok pulang jam 12.00 malam"


Alvaro segera membukakan pintu untuk Sani dan Sani segera masuk dan Alvaro juga segera menyusul masuk ke dalam mobil.


"Terus kalau lagi ada PR banyak gimana, emang gak ada lagi ya kerjaan selain di sini yang pulangnya lebih wajar gitu"


"Ya mau nggak mau aku harus kerjain dong mau sampai subuh kan aku pasti kerjain karena aku harus kerjain PR, ya zaman gini dong Alvaro kamu mikir deh emang ada yang mau terima anak sekolah kerja, ini juga untung-untung aku bisa kerja di sini saat aku masih sekolah dan belum punya ijazah"


"Kenapa sih harus banget ya lo kerja padahal fokus aja sekolah, tapi gue selalu aneh lo tuh kerja tapi kenapa sih terus selalu ranking 1 dikelas dan peringkat pertama juga di angkatan kita setiap tahunnya"


"Ya caranya rajin belajar aja dan bisa bagi waktu, aku juga kan sekolah di sana pakai beasiswa kalau misalnya nilai aku tiba-tiba anjlok atau turun aku bisa nggak dapat lagi beasiswa, jadi sebisa mungkin aku harus bisa tetep rangking 1 dan yah supaya beasiswa aku juga nggak turun" sambil tersenyum pada Alvaro yang menatapnya sekilas


"Gitu ya jadi anak beasiswa rumit juga ya, harus nilainya gede-gede dan nggak boleh turun "


"Iya kali ya. Gak tau deh tapi aku bersyukur bisa masuk sekolah itu, banyak banget kan orang yang pengen masuk ke sana tapi nggak bisa dan aku juga bersyukur udah masuk sana, oh ya gimana tadi pertandingan kamu menang kan"


"Tentu dong gue pasti menang, nggak akan mungkin gue kalah, tim gue menang makanya kita tadi makan di Cafe itu buat rayain semuanya, tadi waktu datang gue juga kaget kok nggak ada lo sih, ternyata kata Mira dan teman-teman yang lain lo izin dan seperti apa yang lo katain tadi, gimana waktu udah dicek ke dokter baik-baik aja kan"


"Iya udah baik-baik aja kok, tinggal masalah pemulihan aja. Oh ya selamat ya tim kamu menang lagi hebat banget tau"


"Tentu gue hebat kapan-kapan loh traktir gue dong, gue kan selalu mengharumkan nama sekolah nih ya"


"Boleh tapi jangan mahal-mahal ya, nanti deh gajihan pertama aku traktir kamu, tapi jangan masuk ke restoran mahal juga karena aku nggak akan mampu bayar nanti uangku habis semuanya "


"Iya iya tenang aja gue nggak akan habisin gaji lo kok, bener ya deal ya , lo harus traktir gue breneran ya janji ya jangan bohong nih"


"Iya beneran aku gak akan bohong kok, beneran akan traktir kamu mau dikanti sekolah juga nggak apa-apa, itu mungkin akan lebih menyenangkan "


"Oke berarti lu siap-siap dibully nih ya kalau di kantin sekolah, dan lo siap siap dituduh mau gitu"


Sani malah tertawa dengan ucapan Alvaro, ya juga kalau traktir di sekolah dirinya akan dibully habis habin oleh Bella dan juga dituduh.


"Iya juga sih bakal di-bully sama pacar kamu dan dimaki-maki karena deket deket sama kamu dan aku pasti akan dibilang perebut pacar orang bener nggak sih, pasti kan Bella gitu "


"Iya betul banget 100% lo bakal dituduh rebut gue dari bella, itu aja yang dia tau "

__ADS_1


Mereka malah tertawa bersama-sam. Entahlah Alvaro menjadi senang berteman dengan Sani, rasanya sangat berbeda saat berteman dengan Rizki dan juga Bella serta Arzaan, bersama Sani dirinya bisa lepas menjadi dirinya sendiri tanpa harus menyembunyikan jati dirinya..


Dan Sani juga kalau diajak ngobrol itu enak dan selalu menanggapinya dengan senyum yang cukup manis untuknya, dan dia juga tidak pernah sedih dengan keadannya selalu happy dan positif.


__ADS_2