
"Kamu gak apa apa kan Mir "
"Kamu ngapain Arzan, kenapa tiba tiba kamu ada disini "
"Maaf tadi aku ikutin kamu "
"Yaelah malah pada ngobrol disini , udah sana saya bilang gak ada Sani disini, Sani kabur sama laki laki karena dia memang nakal dan perempuan murahan sana sana hus hus " usir ibu tirinya Sani.
Arzan langsung menarik Mira pergi dari sana dan membukakan pintu mobilnya untuk Mira.
"Emang bener ya Sani kaya gitu " tanya Arzan penasaran
"Kamu bisa lihat sendiri gimana Sani di sekolah pernah gak dia deket sama cowok, gak pernah kan nana mungkin dia kabur sama cowok. Itu tuh ibu tirinya dia tuh gak suka sama Sani. Sani suka cerita sama aku kalau ibu tirinya itu emang benci banget sama dia makanya kayak gitu fitnah-fitnah Sani yang engak engak "
"Syurkur deh gue kira beneran "
"Emang kenapa syukur ada apa ni lo suka ya sama Sani "
"Engga kok kata siapa, gue cuma bersyukur aja ternyata di sekolah kita gak ada cewek nakal, itu aja kok gak lebih. Lo kalau bicara suka ada ada aja deh "
"Ok deh, gue turun ya karena gue kesini sama supir gue bay Arzan, nanti gue salamin ke Sani ya "
"Apaan sih salamin apa coba " teriak Arzan sedangkan Mira hanya memeletkan lidahnya dan masuk kedalam mobil.
**
" Nak Ayah pulang dulu ya nanti ayah kesini lagi buat jengukin kamu buat jaga kamu"
"Gak usah ayah Sani sendiri aja, Sani gak mau ngerepotin Ayah, Ayah istirahat aja yang cukup dan jangan lupa minum obat kalau misalnya Ibu gak masak Ayah ke warung depan aja ambil dulu nanti biar Sani yang bayar semuanya setelah Sani sembuh ya, ayah jangan pikirin apa apa yang harus aya pikirkan kesembuhan ayah ya "
"Tetap saja Ayah tidak akan tenang sebelum melihat mu nak "
"Ayah tahu kan Sani ini anak yang kuat, Sani tidak akan kesakitan cuman dengan hal sepele ini sebentar lagi juga sembuh Sani akan seperti semula lagi. Pokoknya Ayah jangan pikirin Sani nanti Ayah tunggu Sani pulang"
Ayahnya mengangguk anggukan kepalanya sambil menahan tangisnya, memeluk anaknya sebentar dan pergi bersama Sena.
Sena selama perjalanan kemobilnya sambil melamun, Sani seorang perempuan yang seharusnya masih senang senang di usia mudanya tapi malah jadi tulang punggung keluarga.
__ADS_1
Dan sangat menyayangi ayahnya, jarang ada anak yang seperti Sani rela mengorbankan masa mudannya untuk mengurus ayahnya dan menjadi tulang punggung keluarga juga.
Sena sadar ternyata sudah ada didepan mobilnya, segera Sena membantu ayah Sani untuk masuk kedalam mobil dan menyimpan kursi rodannya di bagasi.
**
"Kenapa sih bu banyak banget yang cari si Sani"
"Gak tau ibu juga pusing deh banyak yang cari anak itu ke rumah ini,"
"Bu gimana tentang baju aku barang-barang aku juga, temen aku tuh udah beli barang-barang bagus. Aku tuh suka malu kalau jalan sama mereka mereka tuh pake mobil pakai baju malah tas mahal sepatu dan make up, sedangkan aku seperti ini, aku malu bu malu "
"Kita harus cari tabungan Sani pasti dia menyimpan uangnya, coba kamu sekarang masuk ke kamarnya cari tabungan dia. Ayo mumpung gak ada orangnya kan"
Anggia dengan semangat masuk kedalam kamar Sani, dan mengobrak abrik pakainnya dan juga barang barang yang lainnya, namun tidak ada.
Tapi dia malah menemukan kalung yang sangat cantik, lalu berlari kembali kearah ibunya "lihat ibu aku menemukan kalung ini cantik sekali, pasti ini malah deh "
"Mana mana ibu lihat "
"Wah iya bagus banget kalungnya pasti mahal, kita jual aja yu, pasti nanti kamu bisa beli barang barang yang kamu mau, gimana mau gak "
"Mau dong bu ayo ayo "
Saat mereka membuka pintu ayahnya sudah ada disana dengan seorang laki laki tampan "ayah dari mana, ibu dan Anggi menunggu ayah, menghawatirkan ayah, ini ibu baru saja akan mencari ayah, dan tuan ini siapa "
"Ayah mencari Sani dan Sani dia tertabrak mobil, tidak seperti yang ibu katakan kalau Sani pergi dengan laki laki"
" Ya ampun Sani anak Ibu kenapa bisa tertabrak, berarti semalam yang ibu lihat itu bukan Sani yang naik mobil dengan laki laki, ya ampun ibu sudah salah faham dengan anak baik itu"
"Ayo nak Sena masuk dulu " ajak ayah Sani
"Tidak Pak sepertinya saya harus segera pulang karena memang ada pekerjaan yang harus saya kerjakan"
Namun tiba-tiba saja tatapan Ayah Sani tertuju pada tangan sebelah istrinya dia memegang liontin mendiang istrinya yang diberikan pada Sani.
" Bu kenapa liontin Sani ada padamu"
__ADS_1
Sarah langsung gelagapan dan melihat kalung itu " Oh ini tadi ketemu di saku bajunya Sani waktu Ibu mau nyuci"
Sena langsung mengambilnya dan menyimpannya didalam kantongnya.
"Apakah boleh saya yang menyimpannya pak, nanti setelah Sani sembuh saya akan memberikannya"
"Iya boleh nak Sena "
"Baik Pak saya akan menyimpannya, saya pulang terlebih dahulu bapak hati-hati di rumah dan untuk masalah Sani tenang saja saya akan mengurus semuanya "
"Terima kasih nak Sena sudah mau membantu anak saya , terima kasih sekali lagi bapak tidak tahu harus membalasnya dengan apa"
"Tidak usah memikirkannya pas saya permisi"
Detelah Sena pergi Anggia terus saja menatap nya "ayah itu siapa kok ganteng banget sih kenalin dong sama Anggi "
"Itu tuan Sena yang membantu Sani saat kecelakaan"
"Sdah sudah kita ngobrolnya di dalam ayo ayo masuk dulu, tiba-tiba aja keluyuran kayak gitu"
Ayah Sani dengan susah payah masuk kedalam rumah, saat dirinya melewati kamar anaknya berantakan sekali " Ada apa ini dengan kamar Sani "
"Ayah itu gimana sih ibu sama Anggi tu belum makan, makanya kita cari uang di kamarnya Sani . Tapi dia gak kasih uang sepeserpun terus kita makan apa " bentak istrinya.
"Bisa bgak sih Ibu lihat kondisinya gimana, Sani lagi di rumah sakit dia kecelakaan apa Ibu masih mikirin uang makan Sani gimana di rumah sakit Bu Ibu tidak khawatir dengannya "
"Bodo amat lah sama anak itu yang penting perut kita berdua terisi ini gimana sih dia itu tulang punggung rumah ini malah ketabrak gimana sih sama anak itu ceroboh banget, yang tabrak apa laki laki itu minta uang sama dia yah "
"Keterlaluan kamu laki-laki itu bukan yang menabrak Sani tapi dia yang menolongnya dia yang membayar semua biaya rumah sakit Sani"
" Ya udah sekalian aja minta uang sama dia buat hidup kita sehari-hari dan tentu buat Anggia dia butuh barang-barang yah"
"Dasar tidak tahu diri kalian ini syukur-syukur ada yang bantu kita,hiduplah semampunya kita jangan mengikuti orang lain Anggia"
Ayahnya langsung mendorong kursi rodannya kedalam kamar "bu gimana bu "
"Udah diam dulu Anggia nanti kita cari cara lagi yang lain"
__ADS_1