
Alvaro saat sudah sampai didalam rumah langsung masuk kamar dan Sani sendiri mendekati suaminya.
"Kenapa Alvaro sayang "
"Dia marah karena Rizki lebih membela laki-laki yang bersama Bella sekarang aku juga bingung bagaimana ini"
"Hah maksudnya bagaimana jadi Bella memilih laki laki itu "
"Ya begitulah Bella lebih memilih laki-laki itu mau bagaimanapun kan dia sudah mengandung anaknya, tidak mungkin kan tiba-tiba memilih Alvaro yang bukan siapa-siapanya maksudnya bukan ayah dari anaknya"
"Hemm iya juga sayang aku kangen " ucap Sena sambil memeluk Sani dengan begitu erat
"Aku belum mandi bee aku mau, biarkan aku mandi dulu "
Sena mengendus ngendus leher Sani dan menciumnya " bee geli "
"Makannya ayo kita ke kamar "
Sena langsung saja memangku Sani dan membawanya kelantai atas, Sani yang takut terlihat oleh orang lain langsung menutup wajahnya.
**
Alvaro yang baru saja masuk ke dalam kamarnya langsung disuguhkan dengan tontonan yang begitu membuatnya sangat marah, Bella satu minggu lagi akan menikah apakah tidak salah apakah berita ini tidak salah, Alvaro yang kesal langsung melempari tv-nya itu dengan remote dan mematikannya dengan cara menendang TV itu tidak berguna kenapa tiba-tiba Bella menikah dengan laki-laki itu kenapa Bella malah mematahkan dirinya, mematahkan perjuangan dirinya dengan tiba-tiba saja menerima pinangan dari laki-laki itu.
"Akhh kenapa seperti ini, kenapa harus seperti ini, kenapa jalan ceritanya seperti ini, belum juga aku berjuang sepenuhnya tapi kenapa Bella sudah memilih laki-laki itu seharusnya dia lihat dulu perjuangan aku. Seharusnya dia tahu bagaimana caranya memilih seseorang yang pantas untuk menjadi pendampingnya bukan karena dia Ayah dari anak-anak itu membuat dia harus menikah lagi dengan laki-laki itu, apa Bella tidak kapok sudah diperlakukan tidak baik oleh laki-laki itu, lalu dia sekarang kembali lagi sungguh tak habis pikir jadinya dengan pikiran Bella akhhh sialan sialan "
Alvaro menundukan kepalanya dan tubuhnya roboh begitu saja, mengingat kembali kenangan bersama Bella lalu mengambil foto yang selalu terpajang,"Bella kenapa seperti ini, kenapa sih kenapa aku ingin kita bertemu aku ingin bersama mu, kenapa kau meninggalkan aku, apa kurangnya aku Bella "
__ADS_1
Alvaro terus saja sesegukan menangis ini untuk pertama kalinya dirinya menangis karena seorang perempuan, perempuan itu adalah Bella yang sangat dirinya cintai itu, Bella mematahkan hatinya.
***
"Kamu kenapa pulang Mira "
"Aku pengen pulang aja mih, kenapa sih aku nggak boleh pulang ke Indonesia ini tuh liburan dan aku pengen liburan ke sini aku nggak mau terus di Jepang aku pengen liburan ke sini"
"Awas aja kamu pulang ke sini terus bikin masalah, jangan sampai masalah yang dulu itu terulang lagi, mami nggak mau ya beresin masalah kamu lagi kamu ini di sini tuh cuman mau kejar Arzan lagi kan iya kamu mau kejar laki-laki itu lagi"
"Enggak kok mami ini gimana sih aku kan udah janji sama mami buat lupain Arzan seutuhnya dan aku nggak akan kejar dia lagi kok, aku cuman pengen liburan aja di sini pengen ketemu temen-temen yang lain dan aku juga pengen melihat keadaan Sani"
Mamihnya Mira menatap dengan mata yang memicing, benarkah apa yang dikatakan anaknya kalau dia akan menengok Sani dan tak akan melakukan kesalahan.
"Benarkah kau tak bohong "
"Hemm baiklah mamih pegang kata katamu itu awas saja kalau kau macam macam dan melakukan yang tidak tidak awas saja "
"Ya mih "
Mira naik kelantai atas alangkah senangnya saat masuk kedalam kamar dan menghirup kembali udara kamarnya, Mira membaringkan badannya dan menatap langit langit
"Mau bagaimanapun caranya aku harus tetap mendapatkan Arzan, dan sampai kapanpun Arzan harus menjadi milikku tidak menjadi milik siapa-siapa, aku akan mengejar Arzan sampai titik darah penghabisan, aku tidak akan pernah menyerah aku yakin Arzan sekarang belum mempunyai pacar apalagi Sani sudah menikah Arzan pasti akan sangat patah hati dan aku harus mendekatinya saat dia sedang patah hati itu"
Mira menatap foto yang selalu saja dirinya jadikan wallpaper, yaitu foto Arzan "meskipun seluruh dunia menolak tentang hubungan kita berdua, tapi aku akan tetap berjuang untuk mengejarmu aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkanmu dan sampai kapanpun kau hanya akan menjadi milikku, tidak dengan perempuan lain ataupun manapun karena saat perempuan itu memilikimu maka aku akan menghancurkannya aku akan membuatnya hancur dan tidak bisa melakukan apa-apa selain mundur dan membiarkan kau bahagia bersamaku, karena akulah perempuan yang hanya bisa membahagiakanmu tidak dengan perempuan lain mereka tidak akan pernah sanggup membuatmu bahagia hanya aku yang bisa"
Mira bangkit dan berjalan kearah lemarinya memilih milih pakaian yang cocok dirinya akan datang ke kampus Arzan saja, dan memberikan kejutan untuknya pasti dia akan suka dan memeluknya dengan erat ya pasti itu.
__ADS_1
"Aku bahagia sekali akhirnya aku akan bersama Arzan Sani sudah terheempas dan menikah dengan laki-laki tua, lalu tinggal aku yang memiliki Arzan hanya aku yang akan memilikinya aku tahu Arzan akan sangat patah hati karena Sani sudah menikah dan itu kesempatan yang sangat bagus untukku. Arzan akan menjadi milikku Sani bahagia dengan kakek tua itu dan aku akan membawa Arzan jauh dari teman-temannya agar mereka tidak menghasut Arzan untuk meninggalkanku"
"Tunggu cinderella-mu Arzan aku akan datang sebentar lagi, aku janji aku akan membuatmu sangat bahagia bahkan kau tidak akan menyangka kalau aku bisa melakukan itu, rasa sayangku dan cintaku hanya untukmu saja tidak untuk orang lain dan kau jangan salahkan aku bila suatu saat kau ada yang mendekati aku akan menghabisinya"
Mira mengambil satu pakaian yang menurutnya seksi dan sangat cantik bila digunakan olehnya " aku bahagia sekali akhirnya aku bisa kabur dari kampus itu " teriak Mira
Ternyata Mira kabur dari sana bukan karena liburan, Mira begitu licik dan bisa mengelabui siapa saja bahkan ibunya saja sampai percaya.
***
Sani yang sudah melakukan ibadah dengan suaminya saling tatap " bee kau jangan terlalu bersemangat, kau sedang mengandung "
"Maafkan aku, aku terlalu senang dan bahagia rasanya aku tak bisa mengontrol terimakasih sayang " Sena mengecup kening Sani dan makin mempererat ya.
"Menurutmu anak kita laki laki atau perempuan " tanya Sani
"Perempuan atau laki-laki sama saja sayang aku akan menerimanya aku tidak masalah jika dia mau lahir perempuan ataupun lahir laki-laki, karena mereka sama dan tidak ada bedanya sayang mereka adalah titipan Tuhan dan kita harus menjaganya "
Sani mendongakan kepalanya dan menatap wajah suaminya yang tampan ini " Baiklah aku senang takutnya kau ingin anak perempuan atau laki-laki dan aku tidak bisa melakukannya maksudku harapanmu nanti sirna saat anak itu lahir, tapi setelah mendengar kata-katamu kalau kau akan menerima apapun kelaminnya aku senang "
"Tentu mana mungkin aku tidak akan menerima anakku sendiri tidak ada bedanya antara laki-laki dan perempuan, sama saja yang terpenting kita benar mendidiknya dan memberikan kasih sayang yang cukup untuk dia"
Sani mengangguk dan memejamkan matanya sekarang dirinya sudah tenang suaminya sudah berkata seperti itu, jadi tak perlu takut.
"Tidurlah sayang, jangan terus memikirkan hal yang tidak tidak "
Sani hanya mengangguk saja dan mempererat pelukannya.
__ADS_1