
Mira mengetuk-ngetuk pintu rumah Sani tapi tidak ada yang membukanya. Bahkan Mira sampai magedor-gedornya tapi tidak ada yang membukakan pintu rumahnya sepi sekali, tadi dia sudah datang ke rumah ayahnya Sani tapi juga sepi ke mana sebenarnya Sani apakah ke rumah Arzan. Ya siapa tau kan dia kerumah Arzan.
Tiba-tiba ada yang mendekati Mera "neng jangan berisik anak saya lagi tidur dari tadi gedor-gedor pintunya neng Sani, ada apa neng Sani lagi nggak ada di rumah jangan gedor-gedor terus ya berisik neng "
"Ibu tahu nggak Sani nya ke mana. Maaf saya nggak tahu kalau di sini ada yang lagi tidur"
"Saya juga kurang tahu neng Sani ke mana kayaknya lagi keluar sama temennya atau mungkin lagi kerja mungkin ya itu pun karena saya juga gak tau neng, udah beberapa hari juga gak liat neng Sani "
"Ya udah makasih ya Bu"
" Iya sama-sama neng"
Mira kembali berjalan dan meninggalkan rumah Sani ke mana lagi dirinya harus mencari perempuan itu jangan sampai dia berduaan dengan Arzan tidak boleh itu tidak boleh terjadi enak saja dia akan memanfaatkan waktu. Sudah susah susah dirinya mendekati Arzan.
**
Ibu Ariana menyajikan kue dan berbagai makanan sedang kan Sani masih saja melamun, ibu Ariana segera memeluk bahunya "Sani semua orang itu akan meninggal mami tahu itu akan berat untukmu, tapi setidaknya kau harus makan dulu lupakan semuanya ya. Kau harus seperti dulu lagi ceria dan selalu tersenyum. Disini ada mamih Alvaro dan teman teman yang lain kamu gak sendirian sayang "
"Tapi aku belum merelakan ayahku yang telah meninggalkanku"
"Iya mami tahu kamu belum rela kalau kamu ditinggalin sama ayah kamu, tapi mau bagaimana lagi takdir sudah berkata lain ayahmu harus menghadap sang ilahi kamu harus meridhokan semuanya, kalau kamu masih saja sedih maka ayahmu juga pasti akan sedih"
Sani langsung memeluk ibu Ariana dengan begitu erat, dengan masih menangis Sani belum bisa melupakan ataupun merelakan ayahnya untuk pergi dari sampingnya. Dirinya belum menghabiskan waktu banyak dengan ayahnya, dirinya terlalu sibuk bekerja dan bekerja tidak bisa mengurus ayahnya.
__ADS_1
Ibu Ariana segera membawa Sani untuk pergi ke kamarnya, sebenarnya tadinya akan membawa ke kamar Sena tapi tidak mungkin di sini ada Alvaro yang sedang menatap mereka jadi ibu Ariana membawa Sani ke kamar bawah dan mendudukannya di tempat tidur.
"Mami tahu kamu butuh waktu untuk sendiri dulu kamu istirahat di sini ya jangan pikirkan apa-apa lagi kamu harus tidur"
Sani hanya bisa mengangguk saja ibu Ariana segera menutup pintu dan keluar lalu duduk bersama cucu dan teman-temannya "omah kok suruh panggil Sani mami sih"
"Ya kenapa emangnya nggak boleh itu Ayahnya tuh sama ibunya Sani itu temennya Oma, jadi nggak papa dong omah suruh panggil Sani sebutan mami ya biar lebih dekat aja kali"
"Bukannya omah dulu pernah temuin Sani ya kok baru sadar sekarang sih kalau dia anaknya teman omah"
"Iya dulu kan Oma nggak terlalu lihat mukanya karena masalah waktu itu juga kan karena kamu nggak suka sama dia, tapi akhirnya kalian temenan juga kan akur, senang deh lihatnya kamu akhirnya dewasa "
"Ya omah aku nggak mungkin kan benci terus sama dia tanpa suatu alasan, aku benci pada ibuku maka aku tidak boleh benci pada orang lain pula kan yang statusnya sama dengan ibuku aku sekarang sadar"
"Siap omah " ucap mereka bertiga dengan kompak.
Arzan yang mendapatkan telfon dari Mira langsung dimatikan bahkan beberapa kali di matikan " kenapa Zan Mira telepon kok dimatiin terus "tanya Alvaro yang memang melihat Arzan terus saja merijek panggilan dari Mira.
"Pusing dia terus aja hubungin gue Alvaro, gue juga butuh waktu sendiri dong. Dia kan bukan pacar gue terus mau apa dia terus telepon, gue keganggu banget tau nggak sih gue ini pengen bebas dan gak mau terus ditelepon sama dia sedangkan dia aja bukan siapa siapa gue"
"Mira cantik loh "celetuk Rizki
"Iya tapi gue nggak suka, pacaran aja sama lo Ki lo juga kan jomblo lu kejar dong dia "
__ADS_1
"Oh tidak bisa hatiku sudah terikat oleh kak Fatimah setelah lulus kuliah dan bekerja aku akan menikahi kak Fatimah aku tidak akan pernah menikahi perempuan lain, ingat itu kalian catat aku tak akan menikah dengan perempuan lain selain kak Fatimah "
"Tapi bagaimana kalau nanti kak Fatimah menikah dengan laki-laki lain apakah kau akan berubah pikiran"
"Tidak akan pernah kak Fatimah menikah dengan laki-laki lain , tenang saja aku yang akan menjadi suaminya "
Alvaro dan juga Arzan langsung menoyor kepala Rizki berbarengan "kalian ini ya kompak banget kalau lagi bully gue kayak gini, sakit tahu kepala gue awas ya kalau nanti sampai benjol kalian berdua yang tanggung jawab bawa gue ke rumah sakit dan obatin kepala gue ini"
"Lebay "teriak Arzan dan Alvaro
Mereka langsung beranjak dari kursi dan pergi meninggalkan Rizki "mau ke mana ikut dong jangan ditinggalin " Rizki kembali berlari dan mengejar teman-temannya memang Arzan kembali berteman dengan Alvaro dan Rizki mereka sudah berbaikan dan tidak ada musuh-musuhan lagi.
***
Sani mengambil foto ayahnya dan memeluknya dengan erat air matanya tidak bisa berhenti sama sekali tidak bisa berhenti, dirinya begitu kehilangan sosok ayah yang selalu ada di sampingnya sosok ayah yang selalu ada untuknya bahkan kebutuhannya dulu selalu dilengkapi oleh ayahnya. Namun setelah dirinya lulus dan akan fokus bekerja saja ayahnya malah meninggalkannya padahal dirinya belum bisa membahagiakan ayahnya.
Sani melihat ke arah pintu yang terbuka ternyata itu om Sena tidak dia suaminya sekarang. Sena langsung menutup pintunya dengan perlahan dan mengunci pintunya lalu memeluk sani dari samping "saya tahu ini berat buat kamu yang sabar ya maaf saya nggak bisa terus ada di samping kamu, kamu tahu kan gimana situasinya"
Sani hanya menganggukkan kepalanya saja "kenapa Om harus secepat ini ayah tinggalin aku"
Sena langsung melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Sani lalu mengangkat tubuh Sani dan menidurkan tubuhnya "lebih baik sekarang kau tidur jangan memikirkan itu dulu ya"
Sena juga ikut berbaring di samping Sani lalu memeluk tubuh kecil itu yang sekarang menjadi istrinya, istri sahnya dan bebas untuk dirinya sentuh tak menyangka bisa menikah secepat ini dengan wanita pujaannya Sena memeluk istrinya dengan begitu erat dan menepuk-nepuk bahu Sani untuk bisa tidur.
__ADS_1