
Sena yang sudah janjian dengan Sani langsung keluar dari dalam mobilnya, dengan memakai kaos polos hitam, celana Levis dan juga jaket kulit berwarna coklat.
Saat dirinya melihat kearah kanan Sani sudah ada disana, memakai rok dan juga memakai blazer tak lupa wajahnya juga berbeda dia berdandan rambutnya di kerli cukup cantik tapi Sena malah sedikit menyunggingkan senyum karena Sani yang selalu dirinya lihat begitu polos dan imut tapi sekarang dia begitu dewasa. lucu saja gitu.
"Apakah kau yakin dengan penampilanmu ini" tanya Sena memastikan.
"Tentu Om aku yakin dengan penampilanku apalagi yang kurang om, apa ada yang kurang dari diriku, sudah ayo cepat kita harus pergi dan menemui ibumu jangan sampai dia menunggu, itu tak baik"
Sani langsung berjalan ke arah mobil Sena,sampai-sampai dia hampir jatuh karena memakai sepatu hak tinggi untung saja Sena langsung menangkapnya.
"Kau baik-baik saja "
"Tentu aku baik-baik saja, tadi aku hanya akting saja agar ditangkap olehmu "bohong Sani padahal dirinya tidak bisa memakai sepatu hak tinggi seperti ini apalagi ini hampir 7 cm bisa-bisa dirinya jatuh. Tapi demi terlihat dewasa di depan ibunya Sena dirinya harus bisa.
Jangan sampai ibunya Sena menganggap kalau dirinya sebagai anak kecil, ya memang umurnya masih kecil tapi jangan sampai ibunya Sena menganggap kalau dirinya tak pantas untuk Sena .
**
Sani sudah ada di rumahnya Sena, Sena juga ada di sana dia duduk di samping Sani ibunya Sena melihat sani dari atas ke bawah.
Sani yang melihat ibunya Sena teringat dengan perempuan kemarin, ternyata yang dirinya tolong adalah ibunya Sena, namun dirinya jangan sampai bicara biarkan sajalah yang kemarin biarkan berlalu, penampilannya sekarang sedang berbeda pasti ibunya Sena tak akan percaya, kalau dirinya yang kemarin menolongnya.
"Penampilanmu cukup dewasa ya sangat dewasa, apakah ini Sena perempuan yang menurutmu cocok untuk menjadi pasanganmu bukannya kau seumuran dengan Alvaro kan"
__ADS_1
"Iya Tante saya seumuran dengan Alvaro dan penampilan saya ini hanya untuk menyamaratakan saja dengan om Sena, ya agar tak terlihat jauh saja "
Sani langsung melihat ke arah Sena dan mengedipkan matanya, Sena hanya bisa tertawa saja dengan kelakuan Sani yang baru pertama kali dirinya lihat dia ternyata begitu aktif.
"Kau tahu Sena itu hampir berkepala empat apa kau yakin akan menikah dengannya, maksud ku berhubungan dengannya kau ini masih muda dan kau juga sekarang bekerja kan sambil sekolah apakah kau yakin ingin bersama laki-laki yang dewasa, maksudku dengan laki laki yang lebih cocok menjadi ayahmu"
Sani melihat ke arah Sena dan tersenyum kembali, Sena malah tertawa dan membisikan sesuatu "itu ada yang copot"
"Apa yang copot "ucap Sani
"Bulu matamu itu akan jatuh benar kan"
Sani segera memegang bulu matanya tapi baik-baik saja
"Kenapa Om tidak bicara dari tadi sihh "
Sani langsung tersenyum ke arah ibunya Sena dan membenarkan bulu matanya "Sena apakah kau bisa pergi dulu ibu akan berbicara dengan perempuan ini, kami akan berbicara berdua ini penting urusan perempuan"
Sena langsung bangkit dan menganggukan kepalanya "aku akan menyiapkan makanan untuk kalian, sebentar ya"
Sani langsung pergi meninggalkan mereka berdua setelah melihat anaknya pergi ibu Ariana langsung menatap lekat Sani, sedangkan Sani masih membenarkan bulu matanya yang copot namun karena sulit dia mengambilnya dan langsung membuangnya sembarangan.
"Berapa yang kau inginkan, berapa uang yang kau inginkan supaya kau menjauhi anakku aku bisa memberikanmu uang, aku bisa membuat kau menjadi orang kaya berapa yang kau inginkan"
__ADS_1
Sani diam saja dia tidak menjawab dia mengingat kembali kata-kata Bintang, tiba-tiba saja ada seorang pelayan yang akan memberikan minum dan tersengaja airnya tumpah ke kaki Sani namun dia harus sabar sabar dan sabar dia menetap ibu Ariana sambil tersenyum manis, ibu Ariana langsung mengusir pelayan itu untuk segera pergi dan tak mengganggu bincang-bincangnya bersama Sani.
"Sena terlalu tua untukmu seharusnya kau menjadi anaknya, seperti apa yang aku katakan tadi jadi berapa uang yang kau butuhkan, kau butuh berapa uang aku akan memberikannya dan kau harus pergi dari hadapan anakku"
"Emm maaf Tante saya permisi, saya tidak enak badan terima kasih atas jamuannya"
Sani langsung membungkukan badannya dan pergi dari rumah itu berbarengan dengan Sena yang datang membawa minuman dan camilan "ke mana Sani kenapa dia tidak ada di sini mami"
"Entahlah dia pergi begitu saja katanya dia tidak enak badan seharusnya kau sebelum mengajak dia kemari kau cek dulu keadaannya, apakah dia baik-baik saja atau memang sedang sakit jangan membawa orang sakit ke sini yang ada kau akan membawa virus nantinya"
Sena mengernyitkan keningnya sejak kapan Sani sakit dia tadi baik-baik saja dan sangat aktif sekali saat di mobil banyak sekali yang mereka bicarakan apakah ibunya mengatakan sesuatu sampai-sampai Sani pergi begitu saja"
"Benarkah apakah mami tidak mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya sampai-sampai dia pergi begitu saja, tolong mami jangan lakukan hal yang sama seperti dulu lagi mami tahu kan aku tidak mudah untuk mencintai seseorang, sekarang saat aku sedang jatuh cinta mami jangan sampai menghancurkannya lagi "
"Mami tidak mengatakan apa-apa hanya mengobrol ringan saja dia nya saja langsung pergi katanya tidak enak badan, masa mami harus menahannya. Ya sudah dia mau pulang ya biarkan saja dia pulang kenapa kau menjadi repot"
"Pokoknya mami jangan ikut campur tentang urusan percintaanku mulai sekarang tolong mih, tolong hargain pilihanku dulu mami memang tidak menghargai apa pilihanku tapi sekarang tolong, Sena yakin dia perempuan baik jadi tolong mami jangan terlalu ikut campur dalam urusan ini apalagi dengan memberinya uang seperti mami pernah memberikan uang pada Sonia"
"Kau tau darimana apakah perempuan itu mengatakannya padamu apakah perempuan gila harta itu berbicara padamu"
"Mami tidak usah tahu aku tahu dari siapa yang terpenting mami jangan melakukan hal itu pada Sani dia berbeda dengan Sonia, jadi mami jangan menyogoknya dengan uang atau apapun dia tidak sama dan dia tidak akan menerimanya aku yakin dia tidak akan menerimanya"
Sen langsung pergi meninggalkan maminya dia harus menyusul Sani, dia harus menjelaskan pada Sani jangan sampai Sani pergi dari sampingnya meskipun dirinya tidak tahu apa yang mereka bicarakan tapi dirinya yakin kalau mamihnya akan memberikan uang seperti pada Sonia dulu jangan pernah kejadian yang dulu terjadi kembali jangan sampai itu terjadi.
__ADS_1