
Dan Alvaro serta teman temannya memenangkan pertandingan, mereka semua bersorak gembira dan Alvaro langsung memberikan pengumuman pada teman temannya.
"Karena tim kita menang malam ini kita pesta di rumah gue oke, harus datang semuanya gak boleh gak ada yang gak datang, pokoknya semuanya datang ya gue tunggu kedatangan kalian semua, pada tahu kan rumah gue di mana. Jadi datang oke Jangan sampai ada yang gak dateng gue tunggu "
"Tau dong Varo siapa sih yang gak tau rumah lo, kita pasti dateng lo tenang aja kita pasti dateng " ucap salah satu siswa
Mereka bersorak gembira sedangkan Sani langsung pergi dari lapangan namun tangannya di pegang oleh Arzan "kamu ikut kan San "
"Gak deh kayaknya "
"Ikut dong temenin aku, nanti aku jemput ya "
"Emm gimana ya aku kan kerja "
"Sekali ini aja ikut ya, temenin aku, aku gak punya temen tolong ikut ya, masa iya aku sendiri "
"Emm yaudah dek aku ikut "
Sani mengeluarkan tasnya dan membuka bukunya, menuliskan sesuatu dan memberikannya pada Arzan.
"Ini kamu jemput aja aku ditempat kerja aku ya, "
"Kamu beneran kerja ditempat ini, kamu gak salah kan "
"Iya aku baru aja diterima kerja disini emangnya kenapa "
"Gak nanti juga kamu tau, aku anter ya kamu kesana "
*Gak usah Zan kamu sama temen temen basket kamu dulu aja ya rayain kemenangan kalian, bay aku pergi ya Zan "
Sani berlari kecil menjauhi Arzan dan tak luput dari penglihatan Sena yang dari tadi mengawasi mereka berdua.
"Pihh ayo pulang "
"Eh iya Varo apa kamu tak akan bersenang senang dulu disini karena kemenangan kamu "
"Engga deh pih aku pengen pulang aja dan rayain sama papih, gimana papih bisakan luangkan waktu lagi buat aku, Aku pengen makan kwetiau yang waktu itu yang kemarin itu loh, aku jadi ketagihan loh pih yu kesana lagi "
"Beneran kamu mau kesana lagi " tanya Sena dengan sembriwingan
"Iya pih bener kenapa sih papih kayaknya seneng banget "
"Engga papih cuman bangga aja anak papih akhirnya mau makan ditempat biasa"
__ADS_1
"Ya kan tergantung makanannya, karena makanannya enak aku jadi ketagihan yu yu pih kita kesana "
"Yaudah yu nak kita pergi "
Sena langsung merangkul sang anak dan masuk kedalam mobil, entahlah dirinya selalu saja melakukan ini, rasanya memiliki anak sebesar ini menyenangkan seperti mempunyai teman dekat saja.
"Pih oma sama opa mau di undang gak "
"Udah lah gak usah ini kan acara anak muda, jadi kamu habiskan pesta itu bersama teman teman kamu, "
"Emang papih udah siapin "
"Udah dong papih udah yakin kalau kamu pasti akan menang, jadi papih sudah menyiapkannya saat kau berbicara pada papih, papih yakin anak papih dan timnya pasti hebat "
Alvaro langsung mengalihkan pandangannya pada sang papih, lalu sedikit memeluknya "seneng deh papih itu baik banget sama Varo "
"Ya iyalah papih baik sama kamu, kamu kan anak papih "
"Hahaha iya iya Varo lupa, pokoknya Varo sayang banget sama papih, "
Sena hanya tertawa saja dengan tingkah sang anak yang kadang kadang seperti anak kecil tapi itu tak masalah sama sekali untuknya, Alvaro akan selalu menjadi anak kecil untuknya, sampai kapan pun akan seperti itu.
**
"Kek maaf ya aku agak telat "
"Iya kek tadi aku buru buru, aku ganti dulu ya "
"Iya nak "
Sani langsung masuk kedalam kamar mandi yang memang ada diluar menganti pakaiannya dan keluar kembali, masuk kedalam dapur dan menemui kakek.
"Jadi apa yang harus aku lakukan "
"Sini sini bantu kakek membuatnya, kamu harus belajar jadi nanti kalau kakek kewalahan kamu bisa bantu kakek "
"Siap kek, aku siap menerima ilmu baru dari kakek "
"Kamu ini Sani Sani "
Tiba tiba saja ada yang menekan bell "aku akan keluar kek, sepertinya ada yang memesan "
"Tidak usah biar kakek saja kamu diam disini ya "
__ADS_1
Kakek itu langsung keluar dan melihat siapa yang datang, ternyata langanannya bersama anaknya "eh tuan Sena pesen yang biasa "
"Iya kek yang biasa sekarang dua ya sama anak saya "
"Siap siap, Alvaro itu satu sekolah ya sama cucu kakek, soalnya kakek pernah liat Alvaro main kerumah "
"Emm siapa ya kek, aku gak inget " ucap Alvaro sambil mengigat ngigat
"Itu Arzan, Arzan kan cucu kakek "
"Oh Arzan iya kita satu sekolah kek dan kami juga tadi menang lomba loh kek "
"Wah wah hebat, kalian hebat kakek bangga sama kalian, ayo ayo duduk kakek akan membuatkannya dulu, tunggu sebentar ya"
Alvaro dan juga Sena segera duduk dan menunggu pesanannya, selagi kakek memasak mereka hanya mengobrol dan sesekali berfoto.
"Sani antarkan kemeja itu ya " sambil menunjuk meja Sena dan Alvaro.
"Siap kek "
Sani mengambil nampan itu dan segera membawanya kearah depan, "maaf membuat anda menunggu lama silahkan di nikmati"
Sani langsung menyusun semua makanannya dan mendongakan kepalanya, senyumnya langsung memudar "eh Sani lo kerja disini, "
"Iya aku kerja, permisi "
Sani langsung masuk kedalam dapur dan Sena terus saja menatapnya, "pih udah dong jangan liatin Sani terus, kalau tau Sani yang layanin aku gak mau pih, udah ah gak selera "
"Kenapa kayak gitu gak boleh kayak gitu Alvaro papih gak pernah ngajarin kamu kayak gitu ya, makan kamu kan tadi mau makan di sini gak ada masalah kan kalau Sani yang bawa yang bikin kan Kakek Jadi udah makan aja jangan ribet "
"Iya pih tapi mata papih tolong dijaga dong kenapa sih natep terus Sani, apa sih spesialnya perempuan itu, sama sekali gak ada pih, jadi udah papih jangan natep dia terus dong "
"Ya Papih merasa kenal aja wajahnya gitu ternyata Sani, udah tapi cuman lihatin aja kan gak sampai meluk atau gimana-gimana kan"
"Iya pih engga "
"Udah dong ayo sekarang kita makan bukannya kamu udah gidam banget kan pengen makan ini, ayo sekarang udah ada dihadapa kamu, kamu harus habisin semuanya "
"Siap pih, ini mah 5 menit udah habis sama Alvaro "
"Iya iya papih percaya udah makan ya nak "
Alvaro mengangguk dan memakannya dengan lahap, sesekali menatap papihnya dan kembali fokus pada makanannya.
__ADS_1
Dan tanpa Alvaro sadari papihnya dari tadi melihat terus menerus pada tirai dapur, Sena berharap kalau Sani keluar lagi dari Sana, sunggu tadi dirinya sangat senang saat bertemu dengan Sani kembali.
Tapi tunggu tunggu, apa ini rekomendasi Arzan untuk membuat Sani bekerja disini, dirinya harus melakukan sesuatu ya, jangan sampai hubungan Sani dan Arzan makin harmonis tidak tidak jangan sampai.