
Anggi melihat lihat rumah itu, ada kamar mandi, dapur satu kamar dan juga ruang tengah, ada televisi juga. Anggia tersenyum senang.
Anggia masuk kedalam kamar, disana juga sudah lengkap ada meja belajar tempat tidur dan sebuah lemari yang cukup besar Anggia memasukan tasnya dan tak langsung menyusun pakainnya. Besok saja dirinya ingin istirahat terlebih dahulu.
"Aku nggak nyangka aku akan tinggal mandiri seperti ini, tapi aku harus bisa tanpa Ibu aku harus buktikan pada ibu kalau aku bisa melakukannya, kalau aku bisa mandiri, ya aku bisa mandiri "
Anggia membaringkan badannya dan menatap langit langit, beruntung sekali dirinya bertemu dengan Sani, mungkin saja kalau dirinya dulu dengan Sani akur dirinya akan sama sama bekerja, lalu kuliah tapi karena dirinya terlalu menurut pada sang ibu beginilah akhirnya.
Sudahlah yang terpenting sekarang, dirinya akan berubah, dirinya akan mengawalinya dari awal lagi, dirinya harus lebih baik lagi. Dirinya harus bisa berubah.
**
Sani dan juga Sena yang sudah ada didalam kamar, dan sekarang Sena sedang mengusap perut istrinya hanya diam saja sampai Sani membuka pembicaraan " bee gimana kalau aku kuliah "
"Ya nggak apa-apa kalau kamu emang mau kuliah ya nggak apa-apa, nggak masalah emangnya apa yang salah kalau kamu emang benar-benar mau kuliah ya kuliah aja sayang, tapi nanti kalau saat akan mendekati lahiran kamu harus cuti sayang, kamu harus banyak istirahat sayang "
"Iya kalau itu sih aku ngerti bee aku juga pasti nggak akan kuliah kalau mau masa lahiran, tapi gimana bicara sama mami dia tuh kayaknya pengen banget aku tuh diam di rumah nanti kalau misalnya dengar keputusan kita ini dia gimana perasaannya. Gimana apa dia akan marah atau kecewa dengan apa yang telah kita putuskan apa enggak apa-apa kita memutuskan hal ini langsung bee"
"Ya nggak apa-apa mami juga tadi kan udah pasrahin semuanya ada di tanganku semua keputusan ada di tanganku, mau apapun itu keputusannya mami pasti akan menerima kamu tenang aja, mami sekarang bukanlah mami yang dulu mami sudah berubah dia tidak akan egois lagi dan tidak akan ikut campur tentang urusan rumah tangga kita, mamih sudah janji padaku "
__ADS_1
"Emm baiklah kalau begitu bee, aku kan baru masuk kuliah tidak mungkin kan aku tiba-tiba berhenti di tengah jalan mengambil cuti, gak enak juga kan. Nanti aku di sangkanya hanya main main saja "
"Iya aku tahu sayang, aku mengerti dengan apa yang kamu maksud, mau tidur sekarang sayang,"
"Boleh aku juga sudah mengantuk bee, kamu juga pasti sudah mengantuk kan ayo peluk aku bee, aku ingin dipeluk olehmu, aku sangat ingin dipeluk olehmu "
Sena segera melakukan apa yang istrinya mau, dia segera memeluk istrinya dengan erat tak lupa dia juga mengusap-nguasap rambut sang istri itu sudah menjadi kebiasaan dirinya dan juga istrinya kalau mau tidur, istrinya harus diusap dulu kepalanya dan dipeluk dengan erat.
***
Alvaro yang membuka pintu alangkah kagetnya saat melihat Sonia masih ada di sana, dia seperti menggigil memang sekarang sedang musim dingin "kenapa kau masih ada di sini. Bukannya kau akan pergi lalu kenapa kau masih ada di depan rumahku, ayo cepatlah pergi "
"Kalau kau memang tidak bisa pulang untuk apa kau datang kemari, jangan memaksakan untuk bertemu denganku kalau tidak punya uang aku tidak pernah memaksamu untuk kemari ya, jadi jangan jadikan alasan itu untuk memeras ku, lebih baik sekarang kau pergi dari sini, jangan menganggu "
Alvaro langsung menutup pintu dengan keras, kenapa dia masih ada disini coba.
"Siapa Al, bicara sama siapa "
"Gak penting udah sana tidur, udah malem ini "
__ADS_1
"Alvaro langsung masuk ke dalam kamarnya sedangkan Rizki membuka pintu dan melihat tante Sonia yang ada di luar, dia begitu kaget saat melihat ibunya Alvaro masih ada di luar kenapa tiba-tiba ada di luar seperti ini. Bukannya dia tadi pamitan pulang ya"tante masih ada di sini kenapa ada di sini tante, ini disini udaranya dingin banget loh, gak baik loh Tante "
"Ya tante nggak punya uang buat pulang tante juga nggak tahu harus ke mana Tante pergi ke sini emang modal nekat aja untuk ketemu sama Alvaro dan ngasih tahu semuanya, soalnya Alvaro sulit banget buat dihubungin makanya tante langsung datang ke sini aja, biar jelas juga kan "
"Yaudah ayo tan masuk dulu "
Rizki membawa ibunya Alvaro untuk masuk ke dalam rumah masa bodoh lah dengan Alvaro yang akan marah nantinya, yang terpenting itu ibunya Alvaro masuk dulu ke dalam rumah kasihan dia menggigil mau bagaimana pun dia tetap ibunya Alvaro dan dirinya masih punya hati nurani untuk membantu ibunya Alvaro.
Mungkin dia memang benar-benar tak punya uang kan, mungkin benar apa katanya dia model nekat kemari untuk menemui anaknya, hanya untuk mengatakan kalau papinya Alvaro sudah menikah dengan Sani.
"Ayo Tante masuk " ucap Rizki
Rizky membuat secangkir teh dan memberikannya pada ibunya Alvaro "diminum dulu Tante. Maaf ya aku cuman bisa nyeduh ini doang soalnya kita belum belanja bulanan nih"
"Iya nggak apa-apa makasih ya kamu baik banget, kalau aja Alvaro kayak gini mungkin tante akan senang sekali, memang kesalahan Tante itu sangat besar tapi setidaknya Alvaro bisa memaafkan tante, tante juga manusia tante juga ingin diakui oleh anak tante diperhatikan seperti ini oleh Alvaro, tapi sepertinya itu tidak akan pernah mungkin "
Rizky hanya tersenyum "Alvaro kecewa dengan apa yang tante lakukan. Dia belum bisa menerima Tan. Dia belum bisa menerima apa yang terjadi dengan dirinya, dirinya marah pada tante karena Tante sudah menelantarkannya begitu saja, kalau saja dulu tante tidak mengambil keputusan itu mungkin Alvaro sekarang akan sangat menyayangi tante karena Alvaro itu orangnya penyayang sekali, jika dia sudah menyayangi seseorang dia akan terus menyayanginya memperhatikannya dan selalu ada untuknya. Mungkin akan sulit juga untuk tante mendekati Alvaro lagi apalagi tante dan juga Alvaro sudah berpisah selama bertahun-tahun kan bukan waktu yang sebentar kalian berpisah"
"Iya Tante mengerti tante sangat mengerti kesalahan tante memang sangat besar dan keputusan Tante itu membuat tante kehilangan anak tante sendiri, memang semua ini kesalahan tante dan untuk menebus semuanya pun sangat sulit Alvaro sama seperti ayahnya sulit untuk dimengerti dan sulit untuk bisa memaafkan seseorang dengan cepat, mereka itu begitu mirip sekali"
__ADS_1
Rizki tersenyum dan menganggukan kepalanya memang seperti itulah , memang begitulah Alvaro sulit dimengerti hanya Bella yang bisa menaklukan Alvaro.