
Ayah Sani sudah sadarkan diri dan sekarang Sani juga Sena sedang ada diruangan ayahnya Sani, ayah Sani terus saja menatap Sena.
"Apakah kau pernah yang menolong anakku waktu itu "
"Iya pak saya yang menolong Sani "
"Sani kau belikan dulu makanan untuk tuan ya "
Sani yang sedang mengupas buah langsung mendongakan kepalanya "tapi aku belum selesai "
"Ayo nak tolong belikan dulu ya "
"Baiklah ayah "
Sani langsung pergi meninggalkan ruangan ayahnya, setelah Sani keluar dari ruangan itu, ayah Sani langsung menatap Sena.
"Maaf tuan kalau saya lancang bertanya seperti ini apakah Tuaan bersama anak saya mempunyai sebuah hubungan"
Sena menganggukan kepalanya "Iya saya mempunyai hubungan spesial dengan anak bapak mungkin saya tidak tahu diri dengan umur saya yang tua ini tapi bisa menyukai anak seumuran anak saya sendiri"
Ayah Sani diam dan makin lekat menatap Sena "apakah kau akan benar-benar dengan anakku atau hanya untuk mempermainkannya saja, kalau kau hanya ingin mempermainkannya saja tolong kau jauhi dia jangan membuat dia berharap lebih jauh lagi"
Sena tersenyum dan memegang tangan ayahnya Sani "saya ingin serius dengan anak bapak, saya akan menikahi anak bapak setelah dia lulus, jikalau itu pun bapak mengizinkan saya untuk meminang anak bapak, mungkin terlalu terburu-buru tapi melihat dari umur saya yang sudah tua itu akan lebih baik "
Ayah Sani langsung tersenyum "syukurlah kalau kau memang benar-benar dengan anakku, tolong jaga Sani baik-baik semenjak ibunya meninggal dia tidak bahagia, hidupnya selalu saja terpuruk apalagi ditambah saat aku kecelakaan dan sakit dia harus menjadi tulang punggung keluarga kami, bisakah kau menjaga anakku bahagiakan dia dan selalu jaga dia aku percaya kau bisa menjaganya"
__ADS_1
Ayah Sani menarik nafas kembali "aku rasa hidupku tidak akan lama lagi, saat aku meninggalkan Sani nanti aku ingin melihat Suni bahagia dan dilindungi oleh orang yang tepat dan aku percaya kau adalah orang yang tepat tuan kau bisa menjaga anakku Sani dengan baik dan bisa membahagiakannya lagi seperti dulu, mungkin aku memang orang tua yang tidak becus tidak bisa membahagiakan anakku sendiri"
"Aku berjanji padamu akan membahagiakan Sani aku akan mencukupi setiap kebutuhan Sani, kau jangan berbicara seperti itu kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan pergi"
"Maka dari itu karena kita tidak tahu kapan kita akan pergi maka aku harus mewanti-wanti dari sekarang, aku tidak mau anakku sengsara kembali aku ingin melihat dia selalu bahagia tersenyum tidak menangis, aku sudah sakit-sakitan seperti ini Tuan aku sudah sangat merepotkan Sani, mungkin kalau aku pergi itu akan lebih baik dan saat mendengar kalian ada hubungan aku senang Sani akan mendapatkan sosok ayah dan suami darimu sekaligus "
Sani yang dari tadi ada diluar hanya bisa menangis dengan kata kata ayahnya, kenapa ayahnya berkata seperti itu, dirinya tapi belum sempat berjalan jauh tapi sudah mendengar ayahnya berkata demikian pada om Sena.
Kenapa ayahnya berkata seperti itu, kenapa ayahnya berkata kalau hidupnya tak akan lama lagi, kenapa harus berbicara seperti itu, padahal dirinya bekerja banting tulang untuk ayahnya, untuk kesembuhan ayahnya tapi kenapa ayahnya berkata seperti itu.
Sani mengusap air matanya dan segera berjalan dengan lunglai menuju kantin, dirinya masih mengingat setiap kata yang ayahnya katakan.
**
"Aku kecewa dengan sikapmu Mira ini adalah masalah kita berdua, tapi kau tidak usah melibatkan Sani aku dan juga Sani tidak dekat dia saja sudah menjauhiku lalu kenapa kau bisa membenci begitu dalam padannya, aku tahu kalian sudah tidak berteman kan kau menjauhi Sani aku tidak mau menjadi perusak pertemanan orang lain"
"Dia yang mau pertemanan ini selesai, dia yang menyudahi pertemanan kami kau tahu sendiri kan sekarang Sani sudah dekat dengan Alvaro, dia sudah mempunyai teman baru jadi dia tidak mau lagi berteman denganku dia sendiri waktu itu yang memutuskan pertemanan kami, kamu tidak tahu jadi kamu tidak tahu masalah ini"
Arzan langsung membalikan badannya menatap Mira "benarkah Sani memutuskan pertemanan kalian berdua"
"Iya dia mau yang mutusin pertemanan itu, aku sudah membujuknya untuk tidak memutuskan hubungan ini tapi dia maunya hubungan pertemanan kita sudah sampai di sini saja, katanya dia sudah mempunyai teman baru Alvaro Rizki dia tidak mau lagi berteman denganku, jadi bisakah kau berteman denganku anggap saja pernyataan aku yang waktu itu jatuh cinta padamu dihilangkan saja, kau lupakan semuanya "
"Ternyata Sani begitu ya aku tidak tahu kalau sifatnya seperti itu "
"Iya memang seperti itu Sani yang sebenarnya, kau belum tahu karena kau belum berteman lama dengannya, aku yang sudah berteman lama dengannya aku tahu bagaimana sikap Sani sebenarnya jadi kau jangan tertipu dengan sikap lugunya"
__ADS_1
"Hemm begitu ya "
Arzan mendekati Mira dan "baiklah mulai sekarang kita berteman tapi kau hilangkan rasa cintamu itu padaku, karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah suka samamu Mira jadi daripada kau terus saja sakit hati lebih baik kau lupakan aku dari sekarang, jika kau itu pun ingin berteman denganku"
Mira masih diam hatinya begitu sakit, kenapa apakah sulit untuk dekat dengan orang yang kita sayangi, kenapa begitu sulit rasanya hatinya begitu teriris iris sakit sekali ingin sekali menjerit dan meraung raung menangis dihadapan Arzan.
"Bagaimana Mira apakah kau bisa melupakan ku untuk selamanya "
"Em baiklah mulai sekarang aku akan mencoba untuk melupakanmu Arzan, aku akan melupakan cintaku padamu segalanya akan aku lupakan supaya kita bisa berteman dan bisa sama-sama tapi kamu juga janji akan terus berteman denganku kan "
"Ya aku janji, aku berjanji akan selalu berteman denganmu "
Mira tersenyum samar mungkin nanti lambat laun Arzan akan menyukainya, ya meskipun sekarang Arzan menyuruhnya untuk melupakan dirinya tapi siapa tau hati Arzan nanti berubah dan akan mencintainya.
Kedepannya tak ada yang tahu kan, kadang kadang dari pertemanan bisa jadi cintakan, ya biasannya seperti itu, semoga saja apa yang dirinya inginkan bisa terwujud meskipun harus menjelek jelekan Sani didepan Arzan.
Sani tak akan keberatan sepertinya dia kan sangat menyayangiku, jadi dia tak akan marah dan akan membiarkannya saja.
"Baiklah Arzan aku senang mendengarnya "
"Hemm aku pulang dulu ya, tak ada yang perlu kita bicarakan lagi kan "
"Tidak ada, "
Arzan langsung melenggang pergi meninggalkan Mira, mereka sekarang sedang ada disebuah taman memang tadi kebetulan bertemu saja jadi sekalian Mira melakukan aksinya.
__ADS_1